Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Tak bersambut


__ADS_3

"Apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku? Kalau iya, sambutlah tanganku.." Tio sangat serius dengan ucapannya. Pricil harus bilang apa? jujur atau bagaimana ini?


Pricil memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas, lalu menghembuskan secara perlahan untuk mengatur perasaan gemetar dan panas dingin yang tiba-tiba menyapa tubuhnya. Dan ia menatap tangan yang sedang menunggu sambutan darinya. Pricil perlahan menggerakkan tangannya yang sedari tadi ia tautkan dengan jemarinya sendiri.


Dengan perlahan Pricil mengulurkan tangannya hendak menyatukan telapak tangannya dengan tangan Tio. Dan Tio pun menatap pergerakan tangan Pricil yang akan menyambutnya, terbit sebuah senyum di bibir manisnya.


Tinggal sepuluh sentimeter lagi tangan bersambut, sebuah suara datang membuyarkan adegan yang hampir romantis itu terjadi.


''Wahhh!!!! salah alamat nih kita!!'' seru suara dari depan pintu kelas. Dua sahabat Pricil tiba-tiba muncul dan mengacaukan suasana di dalam.


''Uppss, kamu tu ganggu aja sih, Put. Nggak liat apa mereka lagi apa?'' sahut Wina yang berdiri di samping Putri.


Pricil dan Tio yang terkejut dengan kedatangan mereka, langsung berdiri dari posisi dengan serentak. Wajah keduanya sudah sangat merah mengalahkan warna udang goreng.


Pricil tertunduk malu, ingin rasanya ia mengumpat kepada kedua temannya. Tapi, mereka tidak salah. Dirinya lah yang membuat janji untuk bertemu di kelas itu. Sedangkan Tio, langsung mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menyugar rambutnya.


Pricil kembali menarik nafas dan membuangnya kasar, lalu menghampiri sahabatnya dan meninggalkan Tio yang masih di poisi akhir.


''Eh, kalian lama banget sih datengnya. Ak, aku kan nungguin dari tadi!'' Pricil mencoba menetralkan rasa canggungnya.


''Kakak berdua ganggu orang aja, kan jadi nanggung!'' sindir Tio sambil melewati pintu dan keluar meninggalkan tiga sejoli yang menatap kepergiannya.


''Eh, eh, eh,... kamu di tempak sama dia ya, Pric!'' Putri menarik lengan Pricil untuk kembali duduk di dalam.


''Iya, Pric, kamu di tembak kan sama Tio, kamu jawab apa??'' sambung Wina. Mereka berdua sangat kepo dan mencecar Pricil dengan pertanyaan.


''Hahh..., gimana mau jawab, belum apa-apa kalian udah nongol dan merusak moodku yang tadi bagus dan berdebar-debar. Sekarang udah hilang sensasinya!'' gerutu Pricil dan ia mengerucutkan bibirnya.


''Emang kamu mau jawab apa?'' Wina kembali bertanya.


''Belom ada!'' jawab Pricil dengan singkat.

__ADS_1


''Gini deh, Pric. Aku kasih saran buat kamu!'' Putri memberikan idenya.


''Kamu bilang aja, nanti di pikir-pikir dulu. Kamu minta waktu buat jawab perasaan dia, Pric. Kayak ala-ala film yang aku tonton itu loh...'' sebut Putri dengan semangat 58.


''Gak usah, Pric, langsung terima aja kalo menurutku. Aku aja langsung terima kok waktu Angga ngungkapin perasaannya sama aku'' sela Wina.


''Enggak bisa gitu dong, Win. Kamunya aja yang udah gatel pengen nempel terus sama dia'' sahut Putri tak terima usul Wina.


''Enak aja!! nanti nyesel kalo nggak langsung di terima,'' sahut Wina tak mau kalah.


''Haduuuhhh, stopp!! kalian malah bikin aku pusing tau nggak. Malah runyem, dah lah. Yuk kita keluar aja, cari ruangan yang dingin'' Pricil memutus perdebatan kedua sahabatnya. Yang di tembak siapa, yang heboh siapa. Begitulah pikir Pricil.


''Eh, tunggu, Pric!'' kejar keduanya.


''Ruangan dingin nggak ada, kalo minuman dingin banyak di kantin bawah!'' celetuk Putri.


Akhirnya mereka bertiga pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa haus akibat berdebat yang tidak penting.


Di kantin, Putri dan Wina menyuruh Pricil untuk memesan makanan dan ikut mengantri, sedangkan mereka berdua duduk manis menanti kedatangannya.


''Pric, aku nitip nasi goreng ya,'' pinta Putri.


''Aku juga nasi goreng, Pric. Telornya double,'' sambung Wina.


''Ya baiklah, nyonya-nyonya, kalian tunggu di bangku tengah yang kosong sana ya, biar inem yang mengantri'' seloroh Pricil dan memesan makanan.


Saat sudah duduk di tempat, Putri dan Wina ber high five karena berhasil mengganggu kesenangan Pricil. Sedari awal, mereka berdua tengah mengintip dan mendengarkan percakapan antara Tio dan Pricil.


Mereka langsung muncul mendadak dan pura-pura tidak sengaja masuk, saat Pricil akan menyambut perasaannya ke Tio. Dasar sahabat lucnut ya mereka ini.


Saat asik mengantri, dari samping kanan, ada tangan seseorang yang menarik tangan Pricil. Dan seseorang itu memberi kode dengan jari telunjuknya yang di tempelkan ke bibirnya. Setelah menjauh dari kantin, seseorang itu mengajak Pricil untuk pergi dari sekolah.

__ADS_1


''Eh! kamu mau ngajakin aku kemana??'' Pricil mengibaskan tangannya dari genggaman seseorang itu. Kini, mereka tengah berada di halaman parkir bagian depan.


''Kita pergi sebentar ya kak, temenin aku beli hadiah'' jawab Abdul dan memasangkan helm ke kepala Pricil.


''Enggak mau!, aku masih ada urusan, kamu pergi sendiri aja'' Pricil melepas kembali helm yang di pasangkan oleh Abdul.


''Sebentar aja kok kak, please....janji cuma 1 jam aja kita perginya, ya, ya..'' rayu Abdul dengan tampang memelas.


''Maaf ya, Dul, aku nggak bisa, lain kali aja'' Pricil membalik badan dan melangkah pergi. Namun, Abdul langsung menahan lengan Pricil.


''Kak, aku minta tolong, cuma sebentar kok kak, adikku ulang tahun, dan aku mau beliin kado buat dia, tapi aku enggak tahu kesukaan adik cewek itu apa. Jadi, temenin ya kak,'' Abdul kembali merayu Pricil.


''Tapi, aku..'' belum selesai Pricil menjawab, tangan seseorang lagi datang menepis lengan Pricil yang di pegang oleh Abdul.


Plakk!!


''Lepasin!! jangan maksa, dia kan udah bilang nggak mau!'' ucap Tio dengan tatapan tajam menatap Abdul.


''Eh!, kamu siapanya dia, kamu nggak punya hak buat ngelarang!!'' balas Abdul tak kalah tajam.


''Haduhh, udah ah!. Kalian kalo mau berantem, silahkan. Aku mau makan!'' Pricil berlalu meninggalkan dua cowok yang siap mengadu otot itu, dan ia kembali ke kantin.


''Heh, apa maksudnya tadi, kamu mau modusin dia! Hah!'' geram Tio, ia sedang terbakar api cemburu yang membara. Ia mencengkram kerah seragam Abdul diiringi tatapan tajam yang mematikan.


''Eh!, biasa aja dong, kamu kira aku takut sama kamu, hah!! lepas!!''Abdul menepis cengkraman Tio pada kerah bajunya.


''Oh!! Kamu nantangin hah. Ayo maju'' Tio melambaikan tangannya seolah menantang agar Abdul maju menyerangnya. Tio pun tersenyum remeh pada Abdul.


Abdul yang terpancing emosi karena di remehkan oleh Tio. Langsung maju selangkah dan melayangkan tinju ke wajah Tio. Namun, Tio dengan sigap menangkisnya.


Aksi tangkis menangkis ala mereka pun terjadi. Untung keadaan di halaman parkir tersebut sedang sepi. Jadi, tidak ada yang menonton aksi konyol mereka.

__ADS_1


Tio berhasil memiting lengan Abdul ke belakang punggung, ''kamu kira aku nggak tau rencana busukmu, hah!!'' ucap Tio dengan geram.


__ADS_2