
"Al, kamu masih marah sama aku?" ucap Chandra dengan lirih. Matanya menatap rambut hitam Alya di balik sandaran kursi.
Hening
Alya enggan menjawab, ia masih merasa sangat malu. Bukan bermaksud marah, tapi dirinya yang merasa salah karena sudah membentak Chandra. Padahal sudah meminta maaf.
Alya memejamkan matanya dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Merasa tak mendapat jawaban, Chandra pun menghela nafas dan menyandarkan kepalanya. Mereka semua tertidur di dalam mobil.
Perjalanan masih jauh, mobil yang di kendarai oleh tim Chandra kini tengah berhenti di sebuah pengisian bahan bakar. Setelah itu melanjutkan kembali perjalanan sembari mencari tempat untuk makan siang.
"Kita makan siang dulu, yuk!" ajak Ilham, ia lebih dulu terbangun dari yang lain.
"Yuk!" dengan suara parau khas orang bangun tidur, salah satu dari mereka menjawab ajakan Ilham.
Mereka memasuki restoran dan langsung memesan menu. Chandra dan Alya masuk paling terakhir. Mereka terlihat sangat canggung gara-gara kejadian semalam.
Ilham yang mengetahui keduanya sedang canggung, ia berinisiatif untuk mencari jalan tengah.
Ilham pindah tempat duduk bersebelahan dengan Alya. Sebab, ia juga ikut andil dalam kesalahan semalam.
Sambil menunggu menu pesanan datang, Ilham mencoba mengajak Alya berbicara. Ia mula-mula meminta maaf terlebih dahulu. Walau kemarin ia juga sempat melihat aset kembar itu tanpa sepengetahuan Alya. Karena Ilham langsung cepat keluar dari dalam tenda.
"Al, aku minta maaf sebelumnya," ucap Ilham.
"Maaf buat apa? Emangnya kamu bikin salah apa sama aku?" tanya Alya dengan heran.
"Emm,..." Ilham sedikit ragu untuk mengatakannya. Tapi, kembali lagi. Demi sahabatnya agar tidak saling cuek-cuekkan.
"Maaf, kalau kemarin aku juga enggak sengaja liat itu!" tunjuk Ilham dengan memonyongkan bibirnya ke dada Alya.
Plakk
Alya memukul lengan Ilham dengan sangat keras, hingga jemarinya membekas di lengan putih Ilham.
"Jadi, kamu juga liat?!" Alya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Iya maaf! Enggak sengaja, aku langsung keluar kok. Chandra juga kemarin cuma salag nyenterin doang, dia enggak liat lagi punya kamu!" jelas Ilham.
"Jangan bahas lagi, Ham!" Alya menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Beneran, Al. Dia cuma kaget dan tangannya kaku, makanya masih di posisi yang sama waktu itu. Tau sendirikan udara sangat dingin, ditambah hujan lebat." Sambung Ilham.
Alya terlihat sedang berfikir. Ia sedang mencerna setiap kata yang dijelaskan oleh Ilham. Pada akhirnya Alya pun mengangguk sebagai tanpa damai.
"Baiklah, aku percaya. Aku cuma shock aja waktu itu. Dan juga, aku malu udah maki dia." Lirih Alya.
"Nah, nanti kamu bicara lagi sama dia. Kamu nggak liat muka melasnya itu?" tunjuk Ilham dengan dagunya. Ia menatap Chandra yang sedang mengotak atik ponselnya.
"Iya, makasih, Ham!" ucap Alya.
Menu makanan mereka pun telah datang dan siap di santap. Mereka mulai menikmati makanan mereka dengan lahap.
Usai makan siang, mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang. Sekitar pukul delapan malam mereka sampai di rumah Chandra. Alya ikut turun bersama Chandra dan membiarkan yang lainnya pulang tanpa menyuruh mampir.
Kedua orang tua Alya telah menunggu kedatangan keduanya di rumah Chandra. Alya dan Chandra berbarengan menyalami orang tua mereka.
Alya istirahat sejenak di sana, lalu tak lama kemudian mereka pamit pulang. Sebelum pulang, Alya mengajak Chandra ke teras samping.
"Chand, maafin aku, ya. Aku nggak marah lagi sama kamu." Ucap Alya dengan tulus.
"Makasih kalau kamu udah nggak marah lagi. Aku beneran nggak sengaja, maaf ya." Tukas Chandra. Ia tersenyum lega setelah mereka kembali berbicara seperti biasa.
"Apa?" Chandra mengernyitkan alis.
"Kamu enggak boleh jutek, dingin, ketus dan lain-lain. Kamu harus murah senyum dan perhatian sama aku!" pinta Alya.
Chandra terdiam, ia berfikir perhatian apa yang dimaksud oleh Alya.
"Diam tanda setuju!" Alya membuat keputusan sepihak. Lalu ia berlalu meninggalkan Chandra yang masih berdiam diri. Ia langsung berpamitan dan pulang bersama orang tuanya yang telah menunggu di dalam mobil.
**
Ini momen siang di hari yang sama.
Di desa Suka Makmur
"Pa, kita jam berapa mau cari makan siang?" tanya Angga. Ia memegangi perutnya yang sudah terasa lapar.
"Disini nggak ada warung nasi yang deket, jalan satu-satunya kita pulang, lalu masak." Jawab pak Yuan enteng.
__ADS_1
"Buruanlah kita pulang, lalu masak, Pa." Tandas Angga.
"Nanti, sebentar lagi, ya. Papa masih mau disini," ucap pak Yuan.
"Yah," sahut Angga lesu.
Sebelumnya tadi pak Yuan sudah meminta salah satu pekerja untuk pergi keluar mencari nasi bungkus. Dan tinggal menunggu orang tersebut kembali sebentar lagi.
Angga dan Tio melihat dua orang mas-mas yang sedang membentang terpal tak jauh dari mereka berdiri. Tak berselang lama, ada suara motor butut dari balik punggung mereka.
Semua orang berkumpul dan duduk di atas terpal yang tadi dibentang. Kemudian bungkusan yang tadi dibawa sama orang yang naik motor butut di bagi-bagi.
"Ayo! Sini!" papa Angga melambaikan tangan memanggil Angga dan Tio yang cuma bengong.
"Yok!" Tio melangkah mendahului Angga.
Tio dan Angga duduk bersila di atas bentangan terpal bersama tukang lainnya. Semua orang makan dengan begitu lahap. Angga dan Tio pun ikut makan meniru cara tukang tersebut.
Setelah usai makan siang, para pekerja kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai. Tio dan Angga sama sekali tidak melakukan apa-apa. Dua bocah itu hanya sebagai penonton. Tidak ada niatan untuk mencoba praktek tentang hal yang menyangkut masalah kebun. Tetapi, mata dan otak mereka menyerap setiap ucapan serta tata cara yang di lakukan para tukang kebun.
Tak terasa, waktu telah berubah menjadi sore. Semua para pekerja sudah berkumpul menyusun peralatan kerja mereka. Buah hasil panen pun sudah selesai di muat ke dalam mobil truk.
Kini, mereka berduyun-duyun untuk pulang. Tio dan Angga menuju ke mobil terlebih dahulu. Mereka berdua akan berdiskusi untuk meminta ijin pada papanya Angga.
"Kamu yang ijin ya, Yo! Aku cuma bantu nemenin kesana!" usul Angga.
"Loh, tadi katanya kamu yang mau ijin! Kok jadi aku, sih!" sewot Tio.
"Loh! Kan kamu yang mau ketemu calon mertua. Masak aku yang ijin, sih. Aneh kamu, Yo!" elak Angga.
"Tapi, gimana cara ngomong ke papa kamu, Ga?" Tio memelankan suaranya. Ia merasa gemetar di kontantin oleh Angga.
"Ya kamu pikir dong, Tio!" Angga menjadi gemas melihat kebodohan sahabatnya yang satu ini.
"Ya tolong di bantu dong, Angga." Gerutu Tio.
"Ih! Kamu ini memang aneh, Yo. Masak ngomong minta ijin aja nggak bisa?!" kesal Angga.
"Ijin untuk apa?" suara pak Yuan menginterupsi perdebatan mereka berdua. Beliau menatap dengan heran terhadap kedua remaja di hadapannya saat ini. Tio dan Angga tengah bersandar di pantat mobil yang terparkir.
__ADS_1