
Setelah balik kerumahnya, Chandra merebahkan diri di kasurnya yang empuk itu. Ia masih setia dengan senyum yang menghias wajahnya.
'Akhirnya aku bisa pergi berdua sama si do'i. Ahh!! Rasanya kok sesenneng ini ya. Aduhhh....'
Chandra menggulingkan dirinya kekanan dan kekiri kesenengan. Seperti anak remaja yang sedang jatuh cintong.
Ia masih membayangkan kejadian yang barusan, ia menggenggam tangan Pricil dan beradu pandang dengan jarak dekat. Dari dalam dirinya, ia begitu sangat ingin selalu berada di dekat keponakannya itu. Entah rasa apa yang menggelayuti hatinya.
Jika mengingat senyum manisnya itu, ia tak bisa beralih. Bahkan suka sekali membayangkan yang bukan-bukan.
Seperti malam ini, ia sedang membayangkan tidur bersama dalam Satu kamar. Chandra menatap gulingnya itu seperti wajah Pricil yang sedang ada dihadapannya.
'Sisil, kamu itu... selalu bikin Aku dag dig dug. Kenapa? coba kamu sentuh dadaku ini.' Chandra menyentuh bidang datar di dadanya dengan tangannya sendiri.
'Kamu rasain kan, degup jantungku yang tak beraturan. Kamu tahu Sil, jantungku itu sedang konser ketika berdekatan denganmu' dengan perlahan, Chandra memejamkan matanya sambil memeluk erat gulingnya.
Ia sudahi berkhayalnya dengan menenggelamkan dirinya ke alam mimpi.
Senyum manis dan menggemaskan hadir dihadapan wajah Chandra yang sedang terpejam.
Perlahan, Chandra membuka kelopak matanya. Ia membalas senyuman manis dihadapannya itu dengan senyuman tampan miliknya.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah sang pemilik senyum manis dan cantik menggemaskan itu, deru nafas yang terasa hangat menyapu wajahnya.
Wajah yang dipandanganya pun ikut memajukan wajahnya ke wajah Chandra, senyumnya selalu setia menghias bibirnya yang menggemaskan.
Perlahan-lahan ia mendekatkan hidungnya, lalu hidung mancung itu saling bersentuhan. Setelahnya ia menempelkan bibirnya ke bibir manis tersebut.
Perlahan tapi pasti, ia membuka sedikit bibirnya dan kemudian ******* lembut bibir manis itu. Setelahnya ia menelusupkan lidahnya untuk menerobos gawang bibir sang pemilik senyum manis tersebut.
Setelah itu, ia menarik bibirnya dan ia pandangi bibir yang barusan itu ia kecup dan ia ***** dengan lembut. Disentuhnya dengan jemarinya dengan penuh perasaan. 'Aku menginginkan dirimu sayang' ucapnya dengan lirih. Mata yang sudah berkabut itu, tak dapat dielakkan lagi.
Dengan segera ia merengkuh tubuh yang ada di hadapannya, lalu....
Tokk!!
Tokk!!
Tokk!!
Chandra membuka matanya, ia terkejut dan langsung menegakkan badan. Setelah sadar, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian beranjak dari kasurnya untuk membuka pintu kamarnya.
Cekreekk!
__ADS_1
"Ibu" ucap Chandra dengan nada malas, lalu berbalik ke tempat tidurnya.
"Kamu itu mau lanjut tidur lagi?" ucap bu Yana sambil melongokkan kepalanya kedalam kamar anaknya yang hanya terbuka seperempat.
"Masih ngantuk nih bu," ucap Chandra sambil merebahkan tubuhnya.
"Kamu ini! coba dilihat jam di dinding itu Chand." Bu Yana berlalu setelah mengatakan itu, ia lanjut membuat sarapan.
Chandra yang akan memejamkan mata langung melihat jam tersebut.
"Astaga!!! aku telat" ucapnya, Chandra segera melompat dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka. Untuk mandi, dia tidak sempat lagi.
Selesai berganti pakaian dengan seragam dinasnya, Chandra langsung meluncur ke sekolah. 'Semoga belum dimulai' ucapnya setelah selesai memasang sepatu kebangsaannya. Ia tak memperdulikan panggilan ibunya yang menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu.
"Dasar! apa dia tidak ingat, kalau jam dikamarnya itu habis baterainya." Bu Yana hanya tersenyum melihat anaknya yang terbirit-birit untuk berangkat bekerja.
***
Sesampainya di sekolah, 'kok masih sepi, nggak mungkin tanggal Hijau kan hari ini' keluhnya dalam hati.
Chandra merogoh saku celananya untuk melihat jam di ponselnya. Karena ia lupa memasang jam tangannya.
"Oh Tuhann!!! ternyata masih jam setengah Tujuh" Chandra menepuk jidatnya. Akhirnya ia menuju kantin sekolah dan sarapan disana. Cuaca yang terang benderang memang membuat orang terkecoh.
Pricil sudah selesai dengan sarapannya dan akan berangkat kesekolah. Ia berangkat dengan diantarkan paman Arya. Kalau pulang ia naik angkot ataupun naik ojek.
"Bi, aku berangkat dulu... Asaalamualaikum" ucap Pricil sambil mencium tangan bibinya.
"Walaikumsalam, hati-hati" bibinya menjawab salam tersebut.
Setelahnya Cahyani masuk kembali kerumahnya, dan melakukan kegiatan rutin hariannya. Membereskan rumah.
"Aku masuk dulu ya paman," ucap Pricil setelah turun dari motor dan menyalami pamannya.
"Iya, semangat ya belajarnya." Ucap paman Arya, dan setelah melihat Pricil masuk kedalam gerbang sekolah, barulah ia kembali melajukan kendaraannya.
Didalam kelas, Pricil langsung di todong temannya untuk memberikan contekan tugasnya.
"Pric, lihat PR Matematika dong!! aku lupa ngerjain!!" ucap Wina yang langsung menengadahkan tangan ke arah Pricil.
"Kamu tu Win, kebiasaan males!" Pricil menyerahkan tasnya ke Wina. Ia membiarkan sahabatnya itu mencari sendiri bukunya di dalam tasnya.
Dengan segera Wina mencari buku PR milik Pricil, setelah ia menemukannya. Wina langsung menyalin tugas tersebut kedalam buku miliknya. Ada beberapa teman lain yang juga meminta contekan padanya.
__ADS_1
"Makasih ya, Pricilia, nanti kita belikan gorengan buat kamu" ucap salah satu teman yang sudah selesai dengan tugasnya.
"Pric, makasih ya. Ini bukunya udah aku masukin lagi ke tas kamu" ucap Wina sambil meletakkan tas Pricil di mejanya.
"Hmm, taruh aja." Ucap Pricil dengan deheman.
"Putri mana Win, kok belum dateng." Tanya Pricil sambil menolehkan kepalanya kearah pintu masuk.
"Nggak tahu, mungkin sebentar lagi sampai." Ucap Wina sambil mengedikkan bahunya.
Tak berapa lama Putri pun masuk ke kelas dengan membawa roti isi. "Aduuhh, capeknya!!" keluh Putri begitu sampai dan duduk di kursinya.
"Habis ngapain kamu Put, kok keringatan gitu." Tanya Pricil sambil menyomot roti yang dibawa Putri.
"Aku tadi habis dorong motorku karena bannya kempes!" keluh Putri sambil mengambil roti yang di bawanya.
"Kamu bawa motor Put" serentak Pricil dan Wina bertanya kepada Putri.
"Iya, karena nggak ada yang nganterin aku. Jadi aku bawa sendiri. Mau naik angkot takut telat, jadi begini deh." Terang Putri kepada dua sahabatnya.
"Kalau gitu bisa nebeng dong pulangnya nanti," jawab Wina.
"Iya, aku juga mau nebeng sama kamu" ucap Pricil.
"Muke gile kalian. Mana bisa aku boti (bonceng Tiga). Kalau nyemplung ke got gimana?" ucap Putri dengan sewot.
"Kan kita pulang nanti langsung kerumah bu Lisa, biar barengan sampainya Put" ucap Wina.
Pricil pun mengangguk anggukan kepala membenarkan ucapan Wina.
"Salah Satu dari kalian nebeng aja sama Angga atau Tio. Kebetulan mereka pada bawa kendaraan sendiri" ucap Putri yang kebetulan bertemu dengan adik kelasnya di parkiran.
"Ogah!!" tolak Pricil dengan spontan.
"Ya udah kamu aja Win, bia aku sama Pricil" ucap Putri pada akhirnya.
"Yahh baiklah, dengan senang hati. Aku akan pergi sama Angga kalau begitu" ucap Wina yang tak menolak. Malah ia senang bisa pulang sama si brondong cakep itu.
"Dasar!! caper nih yee!!" ucap Putri dan Pricil bersamaan.
"Biarin... bweekk" Wina menjulurkan lidahnya mengejek.
"Huuuu" sorakan dari kedua sahabatnya langsung lolos dari bibir mereka begitu saja.
__ADS_1
"Hahahah......"