Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Bertemu Chandra


__ADS_3

Singkat waktu, Pricil sudah di antar oleh ayahnya ke rumah bibi Cahyani. Ia sedang menyetrika pakaian saat ini.


"Sil, Paman sama Bibi mau pergi ke masjid dulu, ya!" pamit paman Arya di barengi dengan bibi Cahyani.


"Iya, Paman, hati-hati!" jawab Pricil. Ia mengantar hingga teras depan. Setelah paman dan bibinya pergi, ia masuk kembali ke dalam dan melanjutkan menyetrika baju.


Usai menyetrika, Pricil menyusun semua pakaiannya dan bersantai di ruang tv. Ia memainkan ponsel yang ramai dengan obrolan sahabat yang merindukan dirinya.


"Ehem, ehem!" tegur Chandra.


"Eh! Paman, ngagetin orang, aja!" sahut Pricil.


"Lagi ngapain, sih? Kok, senyum-senyum sendiri." Tanya Chandra dan duduk di sebelah Pricil. Sungguh, ia sangat merindukan keponakannya yang satu ini. Lama tidak bertemu dan berkomunikasi. Tangannya sudah gatal ingin mencubit pipi Pricil.


"Lagi, nyetrika!" jawab Pricil dengan asal.


"Uluh-uluh, kirain setelah liburan di kampung bikin ilang juteknya. Ternyata, enggak, ya!" seloroh Chandra. Pricil pun menoleh dan menatap tajam ke arah Chandra.


"Ish! Apaan, sih!. Ya, enggak, lah." kilah Pricil.


Tok tok tok


Suara ketukan pelan di pintu ruang depan terdengar oleh keduanya. Pricil dan Chandra sontak menoleh ke arah yang sama. Chandra bergegas berdiri dan menuju ke ruang depan untuk melihat tamu yang berkunjung.


"Assalamulaikum," ucap Tio di depan pintu.


Chandra tersentak saat melihat tamu yang datang. Ada yang mendidih di dalam rongga dadanya. Namun, kesan pertama yang harus ia tunjukkan adalah sopan santun.


"Ehm, cari siapa, ya?" tanya Chandra. Meskipun ia tahu yang di cari adalah Pricil.


"Maaf, apa, Pricilnya, ada, Mas?" tanya Tio dengan hati-hati. Tangannya masih setia bersembunyi dibelakang punggungnya.


"Siapa, Pa-man?" tanya Pricil. Ia menyusul ke ruang depan dan langsung melihat Tio.


"Loh? Kamu? Sama siapa?" tanya Pricil dan menghampiri Tio. "Duduk, dulu!" perintah Pricil, ia menunjuk kursi teras.


Tio ragu-ragu saat akan duduk, pasalnya, ia akan memberikan sesuatu pada Pricil. Tapi, Chandra masih setia berdiri di depan pintu menatap dirinya.


Pricil melihat ke arah Chandra yang tak bergerak dari ambang pintu.


"Paman, kenalin. Ini, pacar, aku." Ujar Pricil. Ia harus mengenalkan pada Chandra. Karena, ia mengerti situasi dan kondisi saat ini. Pricil harus membuat paman jomblonya membuang jauh-jauh perasaan yang dimiliki untuk dirinya.


"Oh! Pacar, ya? Hmm," ucap Chandra dengan nada kesal yang tertahan. Ia merasakan luka yang tak terlihat, namun begitu perih di dasar hati.


"Tio," sebut Tio dengan mengulurkan tangan ke arah Chandra. Namun, Chandra tak membalas uluran tamunya.


"Dasar! Begini, dong!" Pricil menarik paksa lengan Chandra agar menyambut uluran tangan Tio dan di satukan.


"Ini, Pamanku, namanya Chandra, sayang," ucap Pricil. Ia sengaja sekali menyebut kata sayang di hadapan sang paman. Sungguh terasa runtuh dan melebur perasaan Chandra saat ini.


Tio menanggapi dengan senyuman bangga. Tidak biasanya Pricil menyebut dirinya dengan sebutan yang menyejukkan hatinya. Hal itu, membuat hati Tio bertanya-tanya atas sikap sang kekasih. ia menatap mimik muka Chandra yang memerah menahan perasaan kesal dan cemburu jelas sangat kentara di mata lelaki seperti Tio.


Chandra mengeratkan jabat tangannya Tio untuk meluapkan perasaan kesalnya. Sementara itu, Tio membalas dengan hal yang sama.


Merasa ada atmosfer yang meneggangkan, Pricil membuyarkan ketegangan di antara keduanya.


"Ehem!, lama banget, sih, salamannya." Sindir Pricil. Tatapan matanya tertuju ke arah tangan Tio dan Chandra yang masih saling menekan dengan erat. Keduanya langsung melepaskan tautan tangan mereka.


Chandra masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun meninggalkan keponakannya di depan teras. Ia akan mengintip dari dalam apa yang akan di lakukan cowok yang di kenalkan sebagai pacar Pricil.


Tio mengeluarkan seikat bunga mawar pink dan ia sodorkan ke arah Pricil.


"Ini buat kamu, sayang," ucap Tio seraya menyerahkan bunga tersebut.


"Makasih," ucap Pricil. Ia mencium aroma wangi pada bunga yang di berikan oleh Tio.


"Aku, langsung pamit, ya. Jangan lupa, kamu baca di dalam kamar nanti," ucap Tio sambil melirik kertas yang tersemat di sela bunga yang ia berikan pada Pricil.


Cup


Tio mengecup kening Pricil sambil melirik ke arah jendela yang nampak ada mata seseorang di balik kaca. Setelah itu, ia mengusap lembut pipi Pricil.


Aksi yang Tio lakukan berhasil membuat Chandra mendidih. Ingin rasanya ia keluar dari balik jendela dan memberi bogeman pada Tio.


"Cepet banget, nggak minum, dulu, aku bikinin, ya." Ucap Pricil dengan nada tidak rela.

__ADS_1


"Ada yang mau aku urus, besok kita ketemu lagi," terang Tio. Ia berpamitan dan meninggalkan Pricil yang masih mengamatinya hingga naik ke atas motor. Dilihatnya Tio menggunakan helm full face dan mengancingkan jaketnya. Setelah itu, melajukan motor yang belum pernah ia lihat.


"Motor baru." Gumam Pricil. Ia masuk ke dalam dan menutup pintu lalu menguncinya.


Chandra mengikuti langkah Pricil menuju ke dalam kamar. Setelah berhasil masuk, ia mengunci pintu dan membuat Pricil terkejut.


"Paman! Kenapa pintunya di kunci?" tanya Pricil dengan hati was-was. Ia meletakkan bunga ke atas meja belajar dan meraih kertas yang tersemat di bunga tersebut lalu ia masukkan ke dalam kantong celana.


"Enak, ya, di cium sama pacar?" tanya Chandra. Tubuhnya bergerak memepet tubuh Pricil ke arah dinding.


"Paman mau apa? Awas! Keluar sana!" usir Pricil dengan ketakutan. Chandra mengunci gerakan Pricil dengan tangannya. Tanpa pikir panjang, Chandra langsung mencium bibir Pricil dengan paksa. Sementara Pricil menghindar dengan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri agar bibir Chandra tidak menyentuh bibirnya.


"TOLOONG!" pekik Pricil. Namun, Chandra langsung membekap mulut Pricil dengan tangannya dan suara Pricil teredam oleh bekapan Chandra, di dorongnya tubuh Pricil ke atas tempat tidur lalu di tindih. Tangan Pricil ia cengkram kuat ke atas kepala dan melanjutkan mencium paksa leher Pricil.


Pricil terus memberontak agar bisa lolos dari kungkungan Chandra. Namun, tenaganya kalah kuat karena tubuh sang paman lebih besar.


Tubuh Pricil sudah terasa lemah dan ia menangis. Sementara Chandra menghisap dengan kuat leher Pricil hingga timbul tanda merah di sana. Melihat sang keponakan menangis dengan tubuh bergetar. Ia menjadi tersadar atas apa yang barusan di lakukan.


Chandra melepas cengkramannya dan ia bangkit dari atas tubuh Pricil lalu duduk di tepi ranjang dan menjambak rambutnya sendiri.


"Maaf." Ucap Chandra. Pricil menangis terisak dan duduk memeluk lututnya kepojokan ranjang yang menempel dinding.


"Pergi!" bentak Pricil dengan suara bergetar karena tangis.


Chandra seolah tuli dan malah mendekat ke arah Pricil lalu memeluk tubuh sang keponakan yang ketakutan. Karena sudah lemas, Pricil hanya mengeluarkan kata-kata tanpa bisa memberontak.


"Jangan sentuh aku, pergi!"


Chandra tidak menggubris dan mengeratkan pelukannya. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu." ia mengecup kepala Pricil dengan lembut.


------


"Maaf," ucap Chandra lagi. Ia menarik pelan kepala Pricil untuk bersandar di dada bidangnya. Lalu, mengusap air mata yang mengalir di pipi sang keponakan dengan ibu jari perlahan-lahan.


Rasa takut dalam diri Pricil semakin menjadi-jadi karena perlakuan Chandra yang betubah lembut. Meski seperti pamannya di hari biasa, karena kejadian barusan membuat ia ketakutan.


Chandra terus merengkuh tubuh Pricil. Ia berusaha menenagkan dan meredakan tangis sang keponakan meski memakan waktu satu jam. Bujuk rayu yang Chandra ucapkan akhirnya berhasil menenangkan kondisi Pricil meski masih tersisa sesenggukan.


"Kamu mau kan, maafin aku?" tanya Chandra. Ia sudah menjelaskan bahwa yang tadi ia lakukan karena ia terbakar api cemburu yang berakhir membuat ia emosi dan melakukan hal menakutkan bagi sang keponakan.


Pricil hanya diam mendengar pertanyaan Chandra. Otaknya belum bisa di ajak untuk berfikir saat ini.


"Istirahatlah." Ucap Chandra. Ia beranjak dari ranjang dan mengusap puncak kepala Pricil seperti biasa. Setelah itu pergi meninggalkan Pricil sendiri dalam kamarnya.


Chandra merapatkan pintu rumah sang kakak, lalu ia kembali ke rumah. Kemudian masuk ke kamar dan mengunci pintu.


Sasaran utama yang Chandra lakukan adalah menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia merutuki kebodohan yang dilakukan terhadap keponakan yang begitu ia cintai. Beruntung dirinya berhasil menenangkan Pricil dengan membuat janji bahwa ia tidak akan menemui gadis tersebut jika bukan karena hal yang sangat mendesak. Untuk hari-hari biasa ia tidak boleh menemui Pricil meski hanya untuk saling bertegur sapa.


Janji yang sangat kejam menurut Chandra. Jujur saja, tidak bertemu sehari saja ia sudah resah dan uring-uringan jika tidak ada seseorang yang mengalihkan pikirannya. Kini, ia harus belajar untuk ikhlas akan keadaan karena ulah sesaat.


"Arrrggh! Aku sungguh menyesal, kenapa aku bisa menjadi bodoh karena cinta!" umpat Chandra. Ia membuyarkan selimut serta sprei yang menutup kasur dan melempar benda tersebut ke sembarang arah.


"Aaarrggghhh!" amuk Chandra. Parfum dan perkakas yang ada di meja rias pun ikut menjadi sasaran kekesalannya.


Lelah meratapi kebodohan yang dilakukan, Chandra meraih kunci motor yang ada di gantungan. Ia meraih jaket yang ada dalam lemari dan mengenakannya. Setelah itu pergi meninggalkan rumah. Saat motornya melintasi depan rumah sang kakak, ia teringat akan Pricil yang sendirian di dalam sana. Timbul keraguan pada niat awal yang ingin menenangkan pikiran, di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah waktunya, sang kakak beserta yang lain sebentar lagi akan pulang dari masjid.


Chandra memacu kendaraannya keluar dan ia bertemu dengan kakak serta sang ibu yang berjalan kaki hendak menuju rumah. Hal itu, membuat hatinya sedikit lega karena Pricil tidak akan sendirian di rumah.


Dalam perjalanan yang tanpa tujuan, Chandra melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Udara dingin dan angin yang bertiup kencang menandakan akan turun hujan. Namun, ia tidak memperdulikan hal itu.


***


Chandra menghentikan motornya di jembatan Gentala. Tempat dimana ia pernah berjalan berdua bersama Pricil saat malam hari. Langkah demi langkah ia tapaki jembatan penyebrangan tersebut dengan gontai. Pikirannya terbayang saat ia berdua dengan Pricil bergandengan tangan dan juga bersenda gurau di tempat itu.


Senyum getir terbit dari sudut bibirnya. Ia memilih bersandar di pinggiran pagar jembatan sambil menatap keindahan malam. Banyak orang yang berlalu lalang sambil brrgandengan tangan. Lalu, ada seorang pengamen yang bernyanyi dengan sangat merdu. Chandra mengikuti lantunan lagu yang di bawakan oleh sang pengamen dengan lirih sambil menerawang jauh. Di pelupuk mata Chandra, ada bayangan wajah Pricil sedang tersenyum menatap dirinya.


Dewa 19 Pupus


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk s'luruh hatiku


Semoga waktu akan mengilhami

__ADS_1


Sisi hatimu yang beku


Semoga akan datang keajaiban


Hingga akhirnya kau pun mau


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk s'luruh hatiku


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk s'luruh hatiku


Saat lagu habis di nyanyikan oleh si pengamen dan menyodorkan wadah ke arah Chandra untuk memberikan sedikit rejekinya sebagai tanda jika pendengar menikmati lagu yang di bawakan.


Chandra merogoh saku celana dan memberikan selembar uang pada pengamen tersebut. Setelah itu ia berbalik arah hendak kembali ke tempat semula. Namun, seseorang memanggilnya dari belakang.


"Chand!" panggil seseorang yang mengenal Chandra.


"Siapa?" Chandra menoleh dan melihat seorang wanita yang ia kenal berlari kecil ke arahnya.


"Kamu, Al, sama siapa disini?" tanya Chandra saat Alya sampai di sisinya.


"Sendiri!" jawab Alya. Mereka melangkah beriringan. Sedari tadi, Alya memperhatikan Chandra yang terlihat sedang melamun menatap sungai batang hari dari jarak yang tidak terlalu dekat. Sehingga, Chandra tidak menyadari keberadaanya.


"Chand, anterin aku pulang, ya?" pinta Alya.


"Emang kamu ke sini tadi pakai apa?"


"Nebeng sama Ilham." Terang Alya.


"Trus, mana, dianya?" Chandra clingak clinguk mencari keberadaan si Ilham.


"Dia di kafe bawah sana sama Lia, mereka milih makan dari pada jalan kaki di sini." Ujar Alya.


Mereka menuruni tangga dan turun dari atas jembatan menuju kafe di bawah. Suasana masih luamayan ramai, Alya dan Chandra mencari keberadaan teman-teman mereka dengan mengedarkan pandangan ke setiap sudut meja yang diisi oleh pengunjung. Setelah menemukan tempatnya, mereka menghampiri meja Ilham dan juga Lia.


"Loh! Ada kamu juga di sini, Chand?" tanya Ilham saat keduanya ikut bergabung.


"Kebetulan aja," jawab Chandra sekenanya.


"Al, aku sama Lia udah selesai makan, kita mau balik. Apa kamu mau mau ikut?" sambung Ilham.


"Lah! Aku kan baru dateng. Kok, kalian udah mau cabut aja." Protes Chandra.


"Udah dari sore kita di sini. Udah jamuran!" Lia menimpali lalu beranjak menyusul Ilham yang sudah lebih dulu jalan di depan.


"Ya, udah. Aku juga pulang. Al, kenapa nggak sekalian aja sama mereka?" tunjuk Chandra yang melihat Lia menyusul Ilham menuju ke arah parkir.


"Kalau bareng kamu nggak boleh, ya?"


"Nanti kalau naik motor kamu masuk angin. Inikan udah malem." Elak Chandra. Ia masih ingin menikmati kesendiriannya.


"Nggak, kok. Yuk! aku pengen naik motor di bonceng sama kamu, Chand!" rengek Alya. Ia harus bisa berdua dengan Chandra agar bisa membuat lelaki di depannya ini dekat dengannya.


"Tapi, Al, ... "


"Udah, ayok!" Alya menarik lengan Chandra dan mengaitkan tangannya ke sela lengan Chandra, dengan terpaksa akhirnya ia mengikuti kemauan Alya.


"Jangan peluk-peluk, Al!" cegah Chandra sambil melepas lingkaran tangan Alya pada pinggangnya.


"Nanti aku jatuh, Chand!'' Ucap Alya tanpa perduli penolakan dari Chandra.


Chandra merasa risih karena si peluk oleh Alya. Baginya, hanya pelukan Pricil yang terasa nyaman di tubuhnya. Sementara dalam hati Alya, ia bersorak gembira.


-

__ADS_1


-


Ini merupakan episode terpanjang yang aku tulis di banding part-part sebelumnya. Maaf jika ada typo ya, dan jangan lupa tinggalin like dan dukungannya. Makasih banyak teman-teman ataz partisipasinya, love you... kiss.


__ADS_2