
Sepulang dari bertanding tadi, Tio tidak melihat Pricil. Ia hanya melihat dengan sekilas saat Pricil dengan antusias menyaksikan timnya beradu kemampuan memasukkan bola ke ring. Karena dirinya harus fokus dengan bola yang sering di oper ke arahnya. Jadi, ia tidak lagi memperhatikan gadis yang selalu datang ke fikirannya belakangan ini.
Seperti biasa, sore ini Tio duduk di balkon kamarnya sambil memainkan game favorite nya. Dan sore ini, ia di temani oleh Angga.
Mereka sama-sama sibuk dengan permainannya. Tapi, Tio lagi-lagi fikirannya teracuni oleh sosok gadis yang selalu menunjukkan raut jutek terhadapnya.
"Ga," panggil Tio tanpa menatap ke arah Angga, melainkan matanya menatap layar ponselnya yang tertulis game over.
"Hmm.." Angga pun hanya bergumam dan masih fokus di permainan.
"Gimana hubunganmu sama kak Wina?" tanya Tio dengan tiba-tiba. Dan Angga langsung menghentikan permainannya.
"Tumben kamu nanya?" Angga menatap Tio dengan heran. Ia pun meletakkan ponselnya sejajar dengan ponsel Tio yang baru saja dia taruh di atas meja.
"Cuma pengen tahu aja sih," jawab Tio, dan ia meraih minuman iso tonic yang sudah stanby di hadapannya.
"Hmm... aku sih, masih biasa aja. Belum ada ke tahap lebih" jawab Angga dengan datar.
"Kamu sering gombalin, ngasih harapan palsu dong!" tuduh Tio.
"Bukannya ngepehape in. Masak ngegombal di kaitin ke pe ha pe" ucap Angga lalu tangannya menyambar minuman botol yang di pegang Tio, lalu ia membuka tutup dan meneguk isinya.
"Lah, terus. Apa namanya??"
"Aku tuh, sebenernya nyaman banget kalo sama dia. Terus juga nyambung kalo ngobrol. Tapi, kalo mau ngejalin hubungan... takut dia nggak mau Yo. Habisnya kan, tiap kita sama-sama, selalu di iringi dengan candaan. Jadi, aku lebih nyaman gini sih. Kalo soal perasaan, Aku padanya lah. Nggak nego lagi, yang penting sikap dan cara yang aku tunjukkin ke dia, nggak aku berikan ke yang lain. Hanya Wina seorang."
Angga menjelaskan dengan panjang lebar, bujur melintang, palang ke palang. Dan berakhir menjadi lingkaran. Alias bersatu.
__ADS_1
"Hmmm," Tio mengangguk-anggukkan kepala sambil mengusap dagunya. Soal-olah ia sudah paham dengan penjabaran Angga.
"Kamu sendiri gimana sama kak Pricil?, aku bisa lihat dari tatapan matamu yang berbeda" ujar Angga dengan serius.
"Aku juga nggak ngerti sama diri aku sendiri" Tio menjeda ucapannya dan menarik nafas dalam, lalu kembali melanjutkan untuk bercerita.
"Kesan pertama yang aku tunjukin ke dia aja, aku cuek. Bukan berarti aku sok-sok'an, kamu tau sendirikan, aku gimana. Di tambah lagi, dia orangnya jutek banget. Tapi... semakin kesini malah ngebawa aku ke sisi positif. Dan hal inilah, yang bikin aku malah ngasih perhatian ke dia. Menurut kamu, aku ini kenapa??" dengan sangat serius Tio mengungkapkan keresahannya dengan sang sahabat.
"Kamu tu, masak gitu aja nggak ngerti. Itu artinya, kamu suka sama dia." Jawab Angga sambil mentoyor bahu Tio.
"Masak sih??" Tio merasa tidak percaya dengan yang di sampaikan oleh Angga.
"Kamu buktiin aja sendiri,"
"Buktiin pake apa?" tanya Tio dengan ekspresi bodohnya.
"Makanya Yo. Kamu tuh sesekali nonton drakor, biar tahu gimana menyukai seseorang. Apa lagi, kalo sampai bucin" Angga menasehati.
"Ohhh.. Gitu ya. Nanti deh, aku coba cari di yutub. Apa judulnya Ga?" tanya Tio yang langsung merubah ekspresi muka nya menjadi segar.
"Cari aja di tranding topik"
Tio mengetik yang baru saja Angga ucapkan, dia mengira itu adalah sebuah judul drakor yang di maksudkan tadi. Tio mengetik di laman pencarian. Muncul lah di sana gambar truck yang swdang terguling.
"Masak, drakor gambarnya truck yang terguling gini sih??" dengan begoknya Tio menunjukkan layar pencariannya ke hadapan Angga.
Sontak membuat Angga tertawa ngakak dan kejang-kejang kakinya melihat kepolosan Tio.
__ADS_1
"Gilak, gilak! selama ini kamu kemana aja Tio...." Angga jadi gemas sendiri menghadapi sang sahabat yang nilainya kurang soal drama percintaan.
"Makanya, jangan game melulu yang kamu pantengin. Sekali-kali pindah haluan" ucap Angga sembari menyeka air mata yang keluar karena tertawa.
"Apa yang lucu sih Ngga?? aku kan emang nggak tahu menahu soal drakor. Aku tahunya cuma tempe goreng" Tio menjadi kesal karena di tertawakan.
"Ahahah.... Oke, oke, sorry, sorry" Angga menetralkan nafasnya dan mengelus perutnya yang sedikit keram.
"Kamu tahu kan kepanjangan dari kata drakor?" tanya Angga.
"Enggak," jawab Tio dengan enteng.
"Oh, Tuhan....." Angga menengadahkan tangannya ke atas. "Kenapa ada orang yang belum tahu apa itu drakor ya Tuhan," Angga mengusap wajahnya.
"Angga! aku serius nanya! bukannya di kasih tahu! malah di ledekin!" Tio menggerutu dengan kesal.
"Huufft, baiklah. Begini ya, Tio Prayoga. Angga Yuanda akan menjelaskan apa itu kepanjangan dari kata drakor. Drakor adalah Drama Korea, atau K-Drama. Yang menampilkan bintang korea yang sedang ber-akting memerankan sebuah peran. Ada peran Protagonis, Antagonis dan Tritagonis.." belum selesai Angga menjabarkan, Tio langsung memotong penjelasan tersebut.
"Itu adalah unsur-unsur drama, Angga" jawab Tio dengan tegas. "Aku minta judul drama korea yang kamu maksud tadi. Coba bilang, kalo drakor itu drama korea. Nggak usah pake di singkat-singkat. kamu tahu sendiri otak aku pas-pasan. Di suruh mikir yang begituan" Tio menjadi sebal sendiri.
"Hehehe, iya deh. Maaf. Cari di google aja, drama korea romantis terkini. Nanti di sana akan muncul banyak pilihan judul. Kamu bisa pilih salah satu" Angga bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Tio. "Aku pulang dulu, udah sore" Angga pamit pulang.
Tio hanya mengangguk tanda setuju. Ia pun masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri.
"Lia, kamu sedang apa sekarang?" gumam Tio menyebut nama Pricil, dan lengan tangannya ia tumpukan ke dahi.
Sementara itu di tenpat yang berbeda, nama yang baru saja disebut oleh Tio, sedang menikmati makan sorenya menjadi tersedak.
__ADS_1
Kata orang-orang, kalau kita membatin nama seseorang. Apalagi orangnya lagi makan, bisa tersedak, ada juga yang bersin, ada yang kesandung, dan masih banyak lagi macam-macamnya. Padahal semua itu mitos atau sebuah kebetulan.