
''Yuk, kita pulang sekarang'' Tio menyalakan mesinnya.
''Loh, katanya nungguin Angga sama Wina?''
"Mereka udah duluan, katanya nunggu di lorong rumah kamu" ungkap Tio.
Mereka kemudian meninggalkan area pondok lesehan menuju jalan raya. Berbaur dengan kendaraab lain yang melintas lalu lalang. Tanpa di kode dan tanpa di minta, Pricil melingkarkan lengannya di perut Tio. Dagunya ia tumpukan pada pundak cowok yang sedang memboncengnya. Entah mengapa, Pricil ingin ikut-ikutan orang yang tadi sempat ia lihat.
Ternyata, rasanya nyaman. Ia memejamkan matanya menikmati terpaan angin malam. Rambutnya yang berkibar di belakang ia selipkan di antara himpitan dadaanya dan punggung Tio.
Tio yang merasakan hangat dan eratnya pelukan Pricil pada tubuhnya, ia tersenyum. Ia merasa senang, karena ini adalah momen terakhir yang akan ia kenang untuk di kemudian hari. Ia menumpukan tangannya pada lengan Pricil yang melingkar.
"Aku pengen lama-lama kayak gini, di peluk sama kamu. Bikin aku enggak pengen cepet pulang" celetuk Tio.
Pricil pun membuka kelopak matanya saat mendengar ucapan Tio. Ia langsung merenggangkan lengannya hendak melepas rengkuhannya. Tetapi, segera di tahan oleh Tio.
"Jangan di lepas, tetap peluk seperti ini" ujar Tio.
Motor melaju dengan pelan, ingin rasanya Tio menculik Pricil dan ia bawa ikut bersamanya. Tetapi, akalnya masih bekerja dengan baik. Hingga mereka sampai di lorong siswi tempat Angga dan Wina menunggu. Terlihat dua orang temannya itu sedang bersenda gurau sesekali main gelitikan.
Tio menghentikan motornya tepat di sisi Angga. "Inget tempat woi!!" terika Tio di depan wajah Angga.
"Eh busyet, ganggu aja nih!" sewot Angga.
"Hahaha, udah puas belom kalian ini. Yuk kita anterin ini..." tuntuk Tio pada seseorang yang masih melekat di punggungnya.
"Kak, Pric, kakak kenapa? Enggak mau pisah ya, kok nemplok kayak cicak" seloroh Angga.
Entah mengapa, rasanya Pricil enggan melepaskan pelukannya. Pacar bukan tapi peluk-peluk dan enggak mau ngelepasin. Hadeehh.
"Pric, sini deh. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ajak Wina agar Pricil turun dari boncengan.
Dengan enggan Pricil pun menurut. Ia mengikuti langkah Wina yang menuju bangku yang biasa di gunakan untuk tukang ojek mangkal.
"Ada apa, win. Kenapa harus menjauh dari mereka" tanya Pricil setelah mereka duduk.
"Gimana tadi, aku penasaran" tanya Wina.
"Soal apa?" Pricil malah balik tanya.
"Udah kamu terima belom?" sebut Wina setengah menggeram. Sahabatnya yang satu ini, emang bener-bener bikin ia gemas.
__ADS_1
"Hehehe, belom" Pricil menggeleng tanpa dosa.
"Jadi, kamu beneran enggak mau nerima dia?" Wina mengerutkan keningnya. "Kamu enggak punya perasaan apa-apa sama dia, Pric. Kamu yakin?" sambung Wina lagi.
"Aku bingung,Win, tiba-tiba aja aku ngerasa kayak mau jauhan sama dia. Dan anehnya, ini tangan maen peluk aja. Fikiranku seketika tidur lelap, Win."
"Tio enggak ada cerita apa-apa sama kamu?" selidik Wina.
"Cerita soal apa" tanya Pricil heran.
"Oh, em, nggak ada ya. Ya udah jalo gitu, jadi kamu enggak akan nyeselkan sama keputusan kamu ini" ujar Wina.
"Aku masih perlu berpikir lagi, Win" ucap Pricil dengan ragu.
"Kamu suka nggak sama dia" tunjuk Wina.
"Aku enggak tau sama perasaan aku. Cuma, aku ngerasa ada yang berbeda aja sama perasaanku saat aku sama dia"
"Mending jawab aja, Pric," potong Wina.
"Masak harus secepat ini, aku belum yakin sama perasaanku" tolak Pricil.
Di lihatnya, kedua orang yang tadi duduk di atas motor. Kini, sedang mengunyah makanan sejenis cilok goreng pakai saos. Kalau dari merek dagangnya itu namanya telor gulung.
Karena di dekat simpang itu memang ada penjual telor gulung yang sedang mangkal.
"Udah ngobrolnya beb?" tanya Angga sambil mengusap bibirnya yang berminyak karena makanan tersebut.
"Udah, yuk lah. Kita anter Pricil pulang" ajak Wina.
Tio yang baru saja menghabiskan makanannya melempar bungkusan ke tong sampah terdekat. Pricil pun hendak naik ke motor. Tetapi, ia melihat ada saos yang masih tertinggal di sudut bibir Tio. Ia pun mengeluarkan sapu tangan dari tas kecilnya. Dan mengusapnya lembut.
Sapu tangan wangi yang meski di cuci tetap tidak hilang wanginya di raih oleh Tio. Ia menyukai aroma sapu tangan tersebut.
"Ayo naik, sapu tangannya buat aku aja ya. Kan udah kotor biar aku cuci di rumah" Tio langsung memasukkan ke dalam kantong.
"Tio..." panggil Pricil.
"Hmm, ada apa?" tanya Tio dengan lembut.
"Maaf ya, aku sebenarnya..." belum selesai Pricil berucap, Tio memotongnya.
__ADS_1
"Udah, kamu mau ngomong apa sih, yuk kita pulang sekarang. Nanti, paman malah marah kalo kita kelamaan"
Pricil yang sebenarnya ingin bilang sesuatu bahwa ia ingin menerima perasaan Tio kembali tertunda karena Tio tidak ingin mendengarnya. Sedangkan Tio, mengira bahwa Pricil akan memberikan jawaban penolakan atas perasaannya. Jadi, ia buru-buru memotongnya agar Pricil tidak mengucapkannya.
Tiba-tiba Pricil memeluk Tio yang masih nangkring di atas motor. Ia membenamkan wajahnya di dadaa Tio.
Tio pun turun dari motornya dan membalas pelukan Pricil dengan erat. Ingin rasanya menitikkan air mata. Karena ini titik terakhir.
"Kenapa kamu enggak mau dengerin aku ngomong" ucap Pricil di balik pelukannya.
"Karena aku sudah tau jawabannya" sahut Tio.
"Memangnya kamu sudah dengar? Sedangkan aku sama sekali belum memberikan jawaban pasti"
Hening sesaat.
"Aku memang belum yakin sama perasaan aku. Tapi, aku enggak mau jauh dari kamu, jangan tinggalin aku ya..." pinta Pricil dan mendongakkan wajahnya.
Tatapan mata mereka beradu. Tio menatap lekat manik kecoklatan milik Pricil. Perlahan, Tio merundukkan wajahnya, dan ia mencium kening Pricil dengan lekat.
"Aku cinta sama kamu, Lia. Maafkan aku selama ini sering bikin kamu kesel. Aku cuma belum paham aja sama perasaan ku sebelumnya" ungkap Tio dengan sungguh-sungguh.
Pricil yang mendengar ungkapan itu, merasa debaran jantungnya lebih cepat. Ada perasaan senang di dalamnya. Ia kembali memeluk dengan erat tubuh harum di hadapannya.
"Love you too" ucap Pricil dengan suara serak dan hampir tidak terdengar.
"Kamu bilang apa barusan" Tio merangkum wajah Pricil untuk menatapnya.
Ia merasa salah dengar dari suara Pricil barusan.
Pricil menjadi malu untuk mengulangi kata-katanya. Ia melepas pelukannya dan berlari meninggalkan Tio. Tio segera menyusul dengan meninggalkan motornya dan mencabut kuncinya.
"Tunggu Lia..." ia berlari mengejar Pricil yang berlari kecil.
Angga dan Wina yang melihat aksi keduanya akhirnya ikut senang. Dan mengikuti mereka dengan motornya.
"Aku ingin dengar apa yang kamu bilang tadi. Ayo, katakan sekali lagi sebelum kamu masuk ke dalam" pinta Tio saat mereka hampir dekat dengan rumah paman Pricil.
"Love you too, Tio..." ucap Pricil tepat di telinga kanan Tio. Pricil segera lari ke teras rumah. Tio melebarkan senyumnya mendengar ungkapan Pricil. Ia mencubit pipinya dengan kuat untuk memastikan
"Ini bukan mimpi! Ini beneran nyata..."
__ADS_1