
"Oh! Aku baru tau, Mas," tandas Pricil.
"Iya. Mereka kemarin nanyain kamu, Sil!" lanjut Ali.
"Mereka nanyain, aku? Mas, ngga inget namanya sama sekali?" Pricil sangat penasaran.
"Iya, emm,..." Ali mengingat-ingat percakapan kedua remaja itu. "Kalau nggak salah, yang satunya di panggil, Yo, dan satunya lagi manggilnya, Ga!" terang Ali.
Degh
Jantung Pricil langsung berdetak lebih cepat dari ritme normalnya saat mendengar ujung nama orang yang di jelaskan oleh Ali. Ia pun mencoba menenangkan perasaan yang terasa sesak di dada. Ia teringat akan kenangan manis saat sebelum mereka kehilangan komunikasi. Namun, fikiran itu ia tepis sejauh mungkin. Bisa saja itu bukan orang yang sama dalam benaknya. Karena Wina mengatakan bahwa Tio sudah pindah ke pulau jawa waktu itu.
"Oh! Ya, udah, Mas. Aku pulang dulu," Pricil langsung buru-buru meninggalkan Ali dan pulang menuju rumahnya.
"Loh, kok,..." Ali yang melihat Pricil sudah berlari ke arah rumahnya sendiri hanya bisa menatap dari kejauhan.
Sesampainya di rumah, Pricil langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Duduk di tepi ranjang sejenak untuk menangkan nafas yang tak beraturan sehabis berlari. Ia mencari ponselnya yang ia simpan di dalam lemari. Setelah ponselnya dinyalakan, muncul tampilan foto dirinya yang memeluk guling. Di bukanya galeri yang berisi foto khusus dirinya dan si do'i di sana.
"Huh, kamu memang selalu menyebalkan!, apa benar kamu pindah ke pulau jawa sana? Trus yang di bilang mas Ali tadi siapa, dong!" Pricil berbicara pada layar ponsel di genggaman. Ia menscroll foto-foto saat ia berada di balkon rumah Tio saat itu satu persatu. Terlihat senyumnya yang manis dan tatapan mata yang teduh, membuat Pricil tersenyum tipis saat menatap lama di foto tersebut.
"Tapi, bikin, kangen. Aku beneran kangen banget sama kamu, tauk!!'' Pricil memeluk ponselnya dan rebahan.
"Apa kita masih bisa bertemu lagi?" gumam Pricil.
Lama kelamaan, Pricil menjadi mengantuk. Tak terasa, matanya terpejam dan akhirnya ia terlelap.
Kata orang, rindu itu berat. Kalo kata author rindu itu menyebalkan. Karena, enggak bisa ketemu dan bisanya cuma ngebayangin. Udah gitu jadi ngehayal dan ngelantur kemana-mana. Emosi jadi naik turun kayak kita naik biang lala. Sama halnya dengan menunggu. Suka bikin kita kesel dan emosi karena kelamaan. Jadi, jangan dulu merindu apalagi sambil menunggu. Keburu basi dan enggak enak lagi rasanya. Maaf, nggak bisa merangkai kata-kata yang bagus. Anggap aja itu bagus, ya.
Di dapur, bu Mawar sedang memasak untuk makan siang. Ia pun menunggu Pricil pulang dari rumahnya bu Rina agar membantunya menggiling cabe. Nando pun datang menghampiri sang ibu.
"Kak, Sisil mana, Buk?" tanya Nando. Ia ikut duduk dan meraih sayur genjer yang sedang di petilin jadi pendek-pendek.
"Tadi kerumahnya bu Rina, balikin centong. Tapi, belum pulang-pulang sampai sekarang." Terang bu Mawar.
Bayu keluar dari kamar pertapaan dengan memegang kain sarung yang membungkus tubuh bagian pinggangnya. Dengan mengarahkan ke depan agar si burung tidak terkena gesekan kain. Bayu baru selesai di khitan kemarin tepat di acara selamatan.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?, kok sibuk nyariin kak, Sisil. Dia ada di kamar tuh! Tadi dia ngomong sendiri kayak orang kurang waras." Ujar Bayu. Lalu, Bayu duduk di dingklik atau kursi kayu.
"Jadi, udah pulang? Ya sudahlah, mungkin kakakmu kecapekan. Biarin aja istirahat dulu." Tutur bu Mawar.
***
Sore hari sepulang dari kebun, Tio langsung segera mandi.Ia sudah memburui pak Yuan agar pulang dari kebun lebih awal demi misinya.
Usai berpakaian, Tio duduk menunggu yang lain selesai mandi serta bersiap-siap untuk kembali ke kota. Tapi, sebelum pulang mereka akan pergi berkunjung ke rumah pak Atmaja yang semalam ia ceritakan.
Ada rasa panas dingin dan juga gugup menghampiri tubuh Tio yang sudah tampil guanteng. Ia terus menggosok-gosok telapak tangannya untuk mengurangi kegugupan. Padahal belum pergi ke tujuan ia sudah di serang demam panggung.
"Kamu kenapa, Yo? Kok, gelisah. Udah nggak sabar mau melepas kangen sama si, anu?" tanya Angga yang datang menghampiri Tio.
"Enggak, kok. Biasa aja!" jawab Tio.
"Bantuin dulu tarok barang di mobil, yok!" ajak Angga.
Tio pun bergegas membantu Angga menyimpan barang-barang yang kemarin mereka bawa ke rumah singgah untuk di letakkan ke bagasi. Tak butuh waktu lama, mereka telah selesai. Terlihatlah pak duda Yuanda yang sudah tampil keren dengan kaos lengan panjang warna putih di padu celana jeans biru dongker dan sepatu kets.
"Iya, mau jadi wali kamu nanti!" sahut pak Yuan.
"Hayok, mumpung masih banyak waktu sebelum gelap." Titah pak Yuan. Mereka pun serentak masuk ke kendaraan kemudian menyusuri jalan yang dua hari ini mereka lewati menuju ke kebun.
Dua puluh menit kemudian, pak Yuan mampir ke rumah pak Khasan orang tua Ali. Ia memerintahkan Angga dan Tio untuk segera pergi ke rumah teman sekolah mereka dengan caranya sendiri.
Pak Yuan yang memang sudah kenal dengan pak Khasan karena urusan perkebunan memilih untuk nongkrong di sana. Bukan ia tidak mau ke rumah pak Atmaja yang juga beliau kenal. Tetapi, biarkan dua anak remaja seumuran mereka yang mencari cara sendiri untuk bertamu.
Tio dan Angga berjalan menuju rumah pak Atmaja. Orang yang belum pernah sama sekali mereka temui. Kini, mereka mengintip dari balik pohon jengkol yang tumbuh besar di tepi jalan rumah tersebut.
"Kok malah ngumpet di sini, sih! Ayo buruan kita ke sana!" ujar Tio dengan suara setenfah berbisik.
"Duluan, sana!" perintah Angga.
"Ayo, temenin, dong!" usul Tio.
__ADS_1
"Makanya sabar! Aku lagi merangkai kalimat sebelum bertamu ke rumah orang yang kita belum pernah temuin. Gimana kalau kita salah rumah." Ucap Angga.
"Iya, juga, ya!" celetuk Tio.
Plukk
Angga menggeplak kepala Tio. Walau tidak pakai tenaga, tapi cukup membuat kepala Tio miring ke samping. Tio hanya melotot melihat perlakuan Angga pada dirinya.
"Eh! Tapi, kan udah di bilang sama mas-mas itu kemarin kalau ini beneran rumahnya Pricilia Atmaja." Ungkap Tio.
"Kamu liat ada anak kecil itu?" tanya Angga.
"Ya, liatlah!" kesal Tio. "Kamu pikir, aku udah rabun?!" lanjutnya.
"Panggil, dong! Gimana, sih. Nggak ngerti triknya kamu ini." Gerutu Angga.
"Caranya gimana?" tanya Tio.
"Astaga, TIO!" geram Angga. Ia merapatkan giginya saking keselnya liat kebodohan sahabatnya yang satu ini.
"Masak cuma manggil gitu aja enggak bisa, sih! Gimana mau cepet ketemu sama pacarmu, begok!!" Angga menepuk jidat karena kehilangan kesabaran menghadapi keblo'onan sang sahabat dan hanya di balas dengan cengiran tanpa dosa dari Tio.
-
-
Ada yang rindu nggak?
Enggak, ya? ya, udah. Besok aku nggak up lagi.
Bye,
Oh, ya. Aku mau rekomendasiin karya temanku. Jangan lupa mampir, ya!
__ADS_1