Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Minyak Urut


__ADS_3

Hari ini siswa perwakilan Sekolah Nusa Bangsa sedang berkumpul di dalam Gedung Olahraga untuk mengikuti pertandingan antar sekolah.


Persiapan sudah mantap dan sebentar lagi akan dimulai, semua penonton sudah memenuhi Tribun untuk menyaksikan pertandingan bola basket dari masing-masing sekolah.


Suasana riuh memenuhi ruangan, dan kini bola basket di lempar ke tengah lapangan oleh wasit. Dengan sigap bola tersebut di tangkap oleh salah satu pemain dan bola tersebut di giring menuju tempat lawan, lalu bola tersebut di oper ke tim.


Permainan berlangsung dengan seru, terlihat dua orang remaja di yang duduk di ujung dengan jeli mata memandang tim bernomor punggung 3 dan satu lagi bernomor punggung 2.


Mereka berdua duduk bersebelahan dan mulutnya tak berhenti memberi semangat kepada tim dari sekolahnya.


"Ayo! ayo! masukin bolanya. Terus-terus jangan kasih kendor" ucap Wina dan Pricil dengan kompak menatap ke pemain di bawah sana.


"Wooaaaahh!!!" teriakan dari para penonton sangat mendominasi saat bola berhasil masuk ke ring. Tim sekolah Pricil berhasil mencetak poin.


"SEMANGATT!!!!" Teriak Pricil dan Wina bersamaan. Walaupun suaranya tertelan oleh riuhnya penonton lain, mereka tetap melakukannya.


Tim sekolahnya berhasil mencetak skor tertinggi di babak terakhir. Teriakan tak henti-hentinya meluncur dari bibir penonton.


Pricil dan Wina kini tengah menuju jalan keluar karena pertandingan telah usai. Berduyun-duyun saling menuju pintu keluar dan Pricil tersandung kaki seseorang yang berdesakan dengannya.


"Ya ampun, Pric, kaki kamu nggak apa-apa kan?" tanya Wina yang ikut menunduk untuk melihat kaki Pricil. Mereka telah berada di luar gedung. Pricil berjalan tertatih menuju kursi yang tersedia di luar area gedung.


Pricil mengelus tulang keringnya yang terasa ngilu, "masih sakit Pric, coba sini biar aku urut" ucap Wina.


Pricil hanya mengangguk dan Wina segera melakukan pijitan ringan di kaki Pricil.


"Siapa sih tadi yang bikin kaki kamu kayak gini," tanya Wina dengan kesal karena ia melihat si pelaku tapi tak bisa dengan jelas melihat wajahnya karena orang tersebut menggunakan masker serta topi.


"Aku juga nggak tau, Win. Kan nggak keliatan mukanya." Ucap Pricil sambil meringis menahan nyeri.


"Udah Win, udah mendingan kok" Pricil menurunkan kakinya dari tangan Wina.


"Kamu yakin? udah nggak apa-apa. Aku akan temani kamu kok sampe bener-bener enak buat jalan" ucap Wina dengan tulus.


"Iya, aku yakin kok. Paling cuma sakit dikit. Kamu nggak usah khawatir Win, aku kuat!!" jawab Pricil dengan senyumnya.


Sahabatnya memang selalu bisa mengerti kondisinya.


"Oh ya, kamu pulang bareng aku aja ya, Pric. Nggak boleh nolak"


"Kamu dijemput pakai apa Win,"

__ADS_1


"Pakai mobil, kebetulan kakakku yang jemput. Bentar lagi kayaknya sampai" jelas Wina sambil menoleh ke arah jalan raya.


"Iya, Win, thanks ya!"


"Nah, itu kakakku udah sampai. Yukk!" Wina memapah Pricil mendekati mobil kakaknya yang menepi.


Setelah itu, mereka masuk dan pulang menuju rumah Pricil. Tak butuh waktu lama, karena memang lokasinya tak terlalu jauh dari gedung olahraga.


"Makasih ya Win, kak. Aku duluan ya" pamit Pricil sambil turun dari mobil. Ia mengucapkan terimakasih kepada Wina dan juga kakaknya.


"Iya Pric, semoga kakimu segera membaik. Aku pulang, bye..."


Kakak Wina tersenyum pada Pricil begitupun dengan Wina. Setelah mereka pergi, Pricil segera masuk ke dalam rumah. Jalan masih tertatih. Kebetulan neneknya sedang bersih-bersih di rumah bibinya, karena bibinya akan pulang dari jawa.


"Assalamualaikum nek," Pricil mengucap salam melihat neneknya sedang menyapu.


"Walaikumsalam. Kenapa kok kamu jalannya pincang Sil," tanya nenek Yana yang memperhatikan langkah kaki Pricil.


"Iya nek, tadi kesandung terus aku jatuh. Aku istirahat dulu ya nek," pamit Pricil menuju kamarnya.


"Mandi aja langsung Sil, badanmu kan lengket. Terus juga habis desak-desakan sama orang kan?? nanti malah kamu kena penyakit dari luar sana." Ucap nenek memperingati Pricil.


"Iya nek," jawab Pricil nurut ajum.


"Kalo sudah selesai mandi, nanti kamu ambil minyak di dekat Tivi rumah nenek. Kamu gosok kaki yang sakit pakek minyak herbal itu. Biar cepet sembuh" ujar nenek.


Dan lagi-lagi Pricil meng-iyakan perkataan sang nenek. Toh semua demi kebaikannya.


***


Pricil sedang mengoles kakinya dengan minyak yang di sebutkan oleh neneknya. Ia mengurut-urut bagian yang sakit.


Setelah selesai, ia kembali kerumah bibinya. Dan mengistirarahatkan tubuhnya.


"Kok bau minyak urut bu, siapa yang pakek?" tanya Chandra sambil mengendus-endus aroma di ruang tivi.


"Sisil tadi, kakinya katanya sakit. Jadi, ibu suruh dia gosok pake minyak itu" jawab nenek Yana sambil nenunjuk posisi minyak yang berada di sebelah tivi.


"Kakinya kenapa bu," tanya Chandra dengan penasaran dan khawatir, ia beranjak dari ruang tivi dan menuju rumah kakaknya.


"Sil," Tokk.. Tokk.. Tokk. Panggil Chandra sambil mengetuk pintu kamar Pricil.

__ADS_1


Sunyi dan senyap, tak ada jawaban dari dalam.


"Sil, buka pintunya. Kamu nggak apa-apa kan?" Chandra kembali mengulangi ketukan di pintu tersebut.


Sementara di dalam kamar, Pricil sedang terlelap dan meyumpal telinganya dengan headset.


Merasa tak ada jawaban, Chandra kembali ke rumahnya dan menelpon nomor Pricil. Tersambung, tapi tak ada jawaban.


Akhirnya, Chandra memutuskan untuk menengok dari balik jendela kamar keponakannya.


Chandra menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tak ada orang yang melihat dirinya sedang menuju jendela.


Setelah dia meletakkan kayu untuk pijakan, terlihatlah sang keponakan sedang tertidur dengan lelap.


Chandra menghembuskan nafas penuh kelegaan. 'Ternyata dia ketiduran, syukurlah' gumam Chandra, lalu ia kembali menyimpan kayu tersebut dan kembali ke rumah.


Krucuukk...


Krucuukk..


Bunyi suara cacing di dalam perut Pricil begitu mengganngu tidurnya. Ia kemudian bangun dan mengusap-usap perutnya yang terasa lapar.


"Aduhh, laper banget.. Jam berapa sih" gumam Pricil sambil melihat jam di layar ponselnya.


"Astagfirullah!! udah jam 5 sore ternyata!" Pricil segera turun dari ranjang, ia menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat ashar.


Setelah itu, ia ke rumah neneknya untuk mengisi perut.


"Sil, kamu udah bangun? gimana kaki kamu? masih sakit?" Chandra langsung memberondong Pricil dengan pertanyaan begitu ia sampai di dalam rumah.


"Aku laper, mau makan" jawab Pricil tanpa menggubris pertanyaan khawatir dari pamannya.


"Oh, biar aku ambilin. Kamu duduk aja di sini" Chandra langsung menggiring Pricil duduk di kursi tenpat makan. Dan dalam sekejap, sepiring nasi lauk semur ayam sudah tersaji di piring.


"Biar aku suapin ya, kamu kan lagi sakit" ucap Chandra sambil menyendok nasi serta lauknya.


"Nggak usah! yang sakit itu kan kaki aku, bukan tangan aku. Jadi, aku bisa makan sendiri" tolak Pricil degan juteknya, dan ia menarik piring tersebut menghadap dirinya.


Lalu Pricil menyuap sendiri nasi serta lauk dan ia makan dengan lahap.


Chandra terlihat pasrah dengan penolakan keponakannya tersebut.

__ADS_1


Uhuukk! uhuukk!


Pricil tersedak nasi karena makan dengan terburu.


__ADS_2