
"Kamu tunggu aja di halte, ini cuma ngisi angin aja kok sebentar" ucap Tio sambil memerintahkan Pricil untuk menunggu di tempat biasa ia menunggu angkot.
Tio menyebrangi jalan untuk menuju bengkel, lalu ia meminta tambah angin pada ban motornya. Pricil hanya mengamatinya dari seberang jalan.
"Yuk!!" Tio menghentikan motornya tepat di hadapan Pricil, lalu setelahnya ia menyuruh Pricil langsung naik ke boncengan motornya dan menyusuri jalan.
Setelah sampai di lorong arah rumah. Pricil meminta Tio untuk menghentikan motornya pas di lorong.
"Stop sampai sini aja," ucap Pricil dengan menepuk bahu Tio dan sesaat motor telah berhenti menepi.
"Kenapa kok berhenti?" tanya Tio dengan heran, padahal jarak rumahnya tinggal beberapa meter lagi sampai ke depan rumah.
"Aku mau turun di sini aja, makasih ya udah nganterin pulang" Pricil berdiri menatap Tio yang masih diam di tempat.
"Kamu belum jawab aku loh..."
Pricil tersenyum canggung, dan mata Tio terus menatapnya menuntut sebuah jawaban yang akurat.
"Eee, enggak apa-apa. Aku.. Balik ya. Bye.. Makasih sekali lagi" ucap Pricil dengan terbata. Pricil menundukkan pandangannya, rasanya tak kuat jika di tatap terus menerus seperti itu. Lalu ia memutar badannya hendak berbalik arah. Namun, lengannya langsung di cekal oleh Tio. Membuat ia menjadi berbalik arah menghadap Tio kembali.
"Tunggu!"
Mereka kembali berpandangan sejenak, dan Tio menstandarkan motornya. Kemudian ia melepaskan cekalannya pada tangan Pricil. "Kamu jujur dulu sama aku, kamu takut kena marah?" tanya Tio lunak.
"Enggak kok, cuma.. Aku enggak enak aja sama orang rumah," jawab Pricil tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kita hadapi sama-sama, oke.." ujar Tio membuat Pricil menatapnya lekat.
"Sekarang naiklah..." Tio kembali menjalankan mesin motornya. Pricil akhirnya hanya bisa pasrah. Entah apa yang akan di katakan oleh neneknya nanti kalau bertemu.
__ADS_1
Tidak sampai satu menit, mereka telah sampai di depan rumah Pricil. Dan, lagi-lagi nenek Yana sedang berada di teras rumah bersama Cahyani, mereka sedang metilin daun singkong untuk di masak.
Dengan ragu-ragu Pricil melangkah menuju teras, ia berjalan perlahan.
"Assalamualaikum" sapa Tio yang berada di belakang Pricil, membuat gadis itu terkejut. Tio hanya mengulas seutas senyum pada Pricil.
"Walaikumsalam" jawab bibi dan nenek Yana bersamaan. Kemudian Tio tersenyum ramah menyapa bibi dan neneknya Pricil. Ia menyalami keduanya dengan takzim.
"Maaf ya nek, saya mengantarkan Pricil lagi sama seperti kemarin" ucap Tio dengan ramah.
"Oh iya, duduk dulu sini" pinta nenek Yana. Sementara Pricil masuk ke dalam rumah.
Tio dan nenek Yana mulai duduk saling berhadapan di batasi meja kecil. Bibi Cahyani masuk ke dalam untuk mengambilkan air minum dan di suguhkan ke di atas meja.
"Ini, minum dulu" ucap bibi Cahyani sambil menaruh minuman di hadapan tamunya. Lalu meninggalkan ibunya bersama Tio.
"Jadi, kamu pacarnya atau temannya Sisil?" tanya nenek Yana mengintimidasi. Matanya terlihat garang di kata Tio.
Plukk!
Nenek Yana memukul kepala Tio dengan tangkai daun singkong yang masih di pegang. "Dasar bocah! Berani juga kamu ngomong begitu"
"Maaf, nek" Tio menunduk lalu mengusap kepalanya yang di pukul pakai tangakai daun singkong. Tidak sakit sih, tapi bikin kepalanya terasa gatal.
"Nenek tidak mengijinkan! Kalian itu masih bau kencur. Belum mengerti apa-apa." Ucap nenek memberi ultimatum penolakan perizinan secara tidak langsung.
"Garang amat nih nenek tua," Tio ngedumel di hatinya. Tapi, ia tetap tersenyum dengan terpaksa.
"Minumlah. Lalu segera pulang!" titah sang nenek.
__ADS_1
"iya, nek." Tio meraih cangkir di hadapannya. Ternyata tangannya gemetar dan cangkir itu bergoyang samar saat di angkat, membuat isinya meleber.
Setelah meminum tehnya, Tio pamit undur diri.
"Saya permisi nek, terima kasih" ucapnya sambil melirik ke dalam rumah. Di lihatnya Pricil sedang mengintip dari balik gordyn. Tio pun tersenyum ke arah Pricil.
"Ngintipin apa kamu ke dalam!" kembali nenek Yana melayangkan pukulan di kepala Tio dengan tangkai daun singkong yang dari tadi tidak di lepasnya dari genggaman.
"Nenek demen amat mukulin saya!" jawab Tio.
"Hee!! Mau ngelawan orang tua ya kamu!" nenek Yana kembali akan melayangkan pukulannya. Namun Tio langsung menghindari serangan si nenek.
"Saya pamit nek, assalamulaikum!!" ucap Tio sambil ngibrit dari hadapan nenek.
"Jangan balik lagi! Dasar bocah nggak tau sopan santun!" ucap nenek.
"Saya janji nek, akan balik lagi ke sini!" jawab Tio seraya naik ke atas motornya.
"Masih berani jawab ya!!" nenek melayangkan tangkai daun singkong di genggamannya ke arah Tio. Namun tidak sampai karena jarak.
Tiin tiin.
Tio membunyikan klaksonnya dan berlalu dari sana. Nenek Yana berkacak pinggang melihat kepergian Tio. Mulutnya ngedumel entah apa yang di dumelin sambil membawa masuk cangkir kosong di atas meja.
-
-
-
__ADS_1
Absen bab aja. Nanti nyambung lagi kalo sempat.
Maaf kalo pendek dan kurang ngena di hati.