
Awas ya kamu, Angga! Tunggu nanti di tempat tidur, aku balas kamu! Lemes banget itu mulut kalo ngomong, bikin aku malu setengah mati! Rutuk Tio dalam hatinya.
"Enggak apa-apa, Yo. Nggak usah malu! Om mengerti, kok." Pak Yuan menimpali. "Jadi, tadi sudah datang ke rumahnya?" lanjut pak Yuan.
"Belum, Om, soalnya tadi rumahnya sedang ada acara hajatan!" jawab Tio. Ia sudah merasa lebih plong setelah mendengar jawaban dari pak Yuan. Beliau memang orang tua yang sangat baik dan juga pengertian.
"Oh, jadi?" pak Yuan menggantungkan pertanyaan.
"Aku mau memastikan kalau itu beneran rumahnya dia, Om. Dan aku pengen banget ketemu," ucap Tio dengan jujur.
"Siapa nama orang tuanya kalau Om boleh tau!"
"Pak Atmaja, Om!" sahut Tio.
"Oh," pak Yuan manggut-manggut.
"Kapan kamu mau kesana?" sambung pak Yuan.
"Malam ini, Om!" jawab Tio dengan antusias.
"Jangan!" refleks pak Yuan melarang. Tio langsung terdiam dan mengatupkan bibir. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Jangan malam ini maksudnya," lanjut pak Yuan.
"Iya, Yo, kamu ngeyelan sih! aku kan juga udah bilang tadi. Mereka tuh habis sedekahan pasti capek. Jadi, besok aja. Janji, deh! Aku akan temenin kamu," imbuh Angga.
Seperti mendapat secercah cahaya di tengah kegelapan hutan. Hati Tio bagai melihat kunang-kunang yang menari. Ia menarik kembali ucapan yang akan ia lakukan untuk Angga nanti saat tidur. Ia tak menyangka, ternyata Angga sukses menyalakan lampu hijau dan restu dari papanya. Ia bersyukur dalam hati. Sahabatnya satu ini memang selalu yang terdepan. Walau tingkahnya menyebalkan, tetapi hatinya begitu baik bagai dewa putih.
"Iya, Om, makasih ya, Om!" jawab Tio.
"Ya sudah, kalian istirahat saja di kamar, besok baru pergi ke rumah calon mertua." Ujar pak Yuan. Beliau bangkit dari kursinya dan melangkah menuju ke kamar.
"Payah kamu, Yo, Yo! Masak ngomong gitu aja harus aku yang mewakili. Gimana mau jadi calon suami idaman!" ledek Angga. Lalu ia pergi masuk kamar meninggalkan Tio di ruang tamu.
"Awas kamu nanti, Ga. Suatu saat kamu bakal ngerasain apa yang aku rasain!" protes Tio. Ia pun menyusul Angga ke dalam kamar. Dilihatnya Angga sedang meringkasi pakaian yang bertaburan di atas ranjang ulah Tio.
"Nih, kerjaanmu! Aku juga yang beresin!" sungut Angga. Kini, kasur tersebut sudah bersih dari serakan pakaian. Dengan tingkah tanpa dosa, Tio langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Bruggh
"Hah, nyamannya,..." Tio menelentangkan tangan dan memejamkan mata menikmati lembutnya sprei yang membungkus kasur.
"Dasar anak luknut!" Angga memukul lengan Tio dengan bantal miliknya.
__ADS_1
"Hahah, makasih, ya Angga. Kamu memang sahabatku yang paling baik di dunia!" Tio merangkul bahu Angga. Baru saja Angga naik ke tempat tidur, Tio langsung merangkulnya.
"Nggak usah sok manis! Nyatanya kamu cuma permen asem!" gerutu Angga. Ia menggoyangkan bahunya agar Tio melepas rangkulan pada tubuhnya.
"Hahaha! Aku cuma seneng aja. Akhirnya, setelah sekian purnama, aku akan bertemu dengan bidadariku!" ucap Tio. Ia merebahkan kembali tubuhnya.
Angga dan Tio merebahkan tubuh di tempat tidur. Sama seperti sebelumnya, tengah-tengah kasur lapang dan bisa di tempati untuk orang ketiga diantara mereka.
Angga menatap langit-langit kamar, pikirannya melanglang buana memikirkan kabar kekasih hatinya yang berada di kota. Ia harus bersabar untuk bisa kembali bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
***
Keesokan harinya
Rumah pak Atmaja
Pricilia sedang menyapu halaman rumah. Ia membersihkan sisa-sisa sampah yang berserakan seusai bongkar tratak. Ia mengumpulkan sampah ke dalam lubang khusus yang telah di buat untuk membakar sampah di samping rumah.
"Nando, tolong Kakak, Dek!" pinta Pricil saat melihat Nando lewat di depannya.
"Apa, Kak?" tanya Nando.
"Ambilkan korek api, ya." perintah Pricil.
"Iya, tunggu sebentar, Kak!" Nando berbalik arah dan masuk ke dalam rumah. Tak perlu menunggu lama, Nando telah kembali dan menyerahkan korek api sekotak kecil.
Pricil mulai menyalakan koreknya dan di sulut ke sampah plastik dan menyusun sampah diatasnya agar api merata. Beberapa saat api sudah menyala dengan rata dan membakar habis sampah yang terkumpul. Tak perlu menunggu terlalu lama, sampah pun habis meninggalkan asap yang berterbangan kemana-mana.
Usai urusan bersih-bersih, Pricil membantu ibunya yang sedang beres-beres dapur. Menyusun peralatan yang kemarin digunakan untuk hajatan. Hingga semua tersusun rapi di tempat semula.
"Akhirnya beres juga, Bu!" ujar Pricil penuh kelegaan.
"Iya, kalo kamu capek istirahat aja." Ucap bu Mawar.
"Eh! Itu centong kayu panjang punya siapa, Bu? Kok enggak di naikin ke atas?" tanya Pricil. Ia melihat centong kayu yang kemarin digunakan untuk mengaduk wajik.
"Oh, itu punya bu, Rina. Nanti kalau kamu udah hilang capeknya, tolong antarkan kesana ya, Sil." Terang bu Mawar.
"Sekarang aja, Bu," Pricil meraih centong kayunya, "aku pergi dulu, Bu!" pamit Pricil.
Pricil pergi menuju rumah bu Rina, orang tua Ali dengan membawa centong kayu panjang yang ia pikul di bahu. Setelah kurang lebih tiga menit jalan kaki, Pricil sampai di rumah Ali. Ia menuju pintu samping dan memanggil pemilik rumah.
"Assalamulaikum!" teriak Pricil di depan pintu. ia mengetuk pintu tersebut sambil mengucap salam.
__ADS_1
Selang beberapa saat, muncul Ali dari dalam dan menyambut kedatangan Pricil tang membawa centong.
"Walaikumsalam,..."
"Eh! Kamu, Sil," sapa Ali. Ia membuka pintu terali yang terbuat dari kayu.
"Iya, Mas. Ini, aku mau kembaliin centong yang kemarin di pinjam sama ibuk," Pricil menyerahkan centong tersebut ketangan Ali.
"Oh, iya, makasih ya, Sil!" ucap Ali.
"Kami yang berterimakasih, Mas, aku pamit dulu ya," Pricil hendak melangkah putar badan.
"Tunggu!" pinta Ali. Ia berjalan ke teras dan Pricil mengikuti langkahnya.
"Ada apa, Mas?" Pricil mendaratkan bokongnya di kursi depan teras.
"Kemarin, ada yang datang ke kebun, mereka membeli sayuran di ladang." Ujar Ali.
Pricil hanya menyimak, ia tak heran jika ada yang membeli sayuran langsung datang ke ladangnya.
"Dua remaja laki-laki yang seumuran sama kamu, Sil." Lanjut Ali.
Deghh
Hati dan fikiran Pricil langsung terkontaminasi dengan ucapan Ali. Ia masih menanti kelanjutan ceritanya. Walau dalam hati ia bertanya-tanya siapa orang yang dimaksud.
"Katanya, mereka teman sekelas kamu, Sil," lanjut Ali.
Pricil mengernyitkan alis. Fikirannya bertambah cabang-cabang. Menerka-nerka siapa gerangan. Semakin penasaran, ia memilih bertanya langsung.
"Siapa namanya, Mas? Apa Mas sempat bertanya?" sahut Pricil.
"Yang Mas ingat, sih. Mereka bilang anaknya pak Yuan pemilik kebun sawit yang di dekat tikungan itu." Terang Ali.
"Siapa pak Yuan, Mas?" Pricil yang tidak mengenal pun bertanya.
"Orang kota yang punya kebun terluas di desa kita ini." Jelas Ali.
-
-
Sampai di sini dulu ya man teman, sembari menunggu author up, yuk! mampir ke karya temanku yang satu ini. Ceritanya uwu banget pokoknya romantis tis tis tis
__ADS_1
Jangan lupa mampir,