
Setelah selesai berbincang-bincang di ruang keluarga, bibi Cahyani permisi kebelakang bersama bu Yana. Mereka akan segera menyiapkan makan malam. Di karenakan tamunya rame. Bu Yana pulang ke rumahnya dan mengangkut nasi di magicomnya lalu di bawa ke rumah Cahyani. Lauk pauk mereka juga di gabungkan agar mempersingkat waktu.
Karena ramai, bibi Cahyani menggeser meja makannya agar semua duduk lesehan di karpet. Tak berapa lama, hidangan makan malam selesai di siapkan. Setelah itu, ia mengajak semua orang yang ada di dalam rumah itu untuk makan malam bersama.
Pricil dan ketiga adiknya juga langsung bergabung di sana. Dari ujung sudut ruangan, Ali memperhatikan Pricil yang sedang asik menikmati makanannya sambil menyuapi adik kecilnya si Fani.
Sedangkan dari arah berlawanan, Chandra terus menatap tajam ke arah Ali yang fokus memperhatikan Pricil. Hal itu membuat Chandra menyuapkan nasi ke mulutnya hingga penuh karena ia sedang kesal. Mulutnya yang penuh dengan nasi, membuat dirinya kesulitan untuk mengunyah. Di paksa menelan dan malah berujung tersedak.
"Ukhukk! Ukhukk!" Chandra tersedak dan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Karena sesaknya double-double antara rasa cemburu dan kesal bercampur menjadi satu. Semua mata menjadi tertuju padanya.
"Pelan-pelan, Chand" bu Yana menyerahkan segelas air putih ke hadapan Chandra. Dan Chandra dengan segera meneguk air itu hingga tandas. Namun, ekor matanya masih saja tertuju pada sosok seorang Ali.
Ali yang merasa mendapatkan tatapan menyeramkan dari Chandra, hanya mengulas senyum dan ekspresinya begitu tenang. Sedangkan Chandra, malah merasa di remehkan dengan senyum yang di berikan oleh Ali.
Setengah jam berlalu, Pricil mulai membantu bibinya membereskan peralatan makan yang kotor dan menumpuknya di tempat pencucian piring.
__ADS_1
Ali yang kebetulan baru selesai makan, menyerahkan piring kotornya kepada Pricil yang sedang berdiri menghadap pencucian. Dan ia menumpang ke toilet.
"Ini, Sil piringnya, mas boleh nitipkan" ucap Ali sambil menaruh piring di tumpukan lain.
"Oh iya, tarok aja mas" sahut Pricil.
"Iya, makasih ya, mas mau numpang ke toilet. Di sebelah mana ya, Sil?" tanya Ali sembari celingukan.
"Ohh! yang itu mas, sebelah kanan. Yang pintu paling ujung ya" tunjuk Pricil ke arah yang di maksud.
"Sil, pencetan lampunya sebelah mana ya" Ali hendak menghampiri Pricil kembali. Pricil yang sedang menggosok piring dengan spons langsung menghentikan aktifitasnya dan kenghampiri Ali.
"Yang di dinding sebelah kiri, mas" Pricil langsung menekan tombol saklarnya dan lampu pun menyala.
Kesempatan emas ini, Ali gunakan dengan sebaik mungkin untuk menatap lebih dekat wajah Pricil. Terakhir ia bertemu dengan Pricil saat masih sekolah SMP kalau tidak salah.
__ADS_1
"Kamu tambah ayu!" celetuk Ali.
"Apa sih, mas. Sudah sana, katanya mau ke toilet. Kok malah ndelok-ndelok aku" ucap Pricil sambil menundukkan pandangannya. Ia menjadi malu di bilang cantik. Segera ia kembali ke pencucian piring.
Tak lama setelahnya, Ali pun keluar dan kembali ke ruang tamu bergabung bersama yang lainnya. Ali memilih duduk bersebelahan dengan Bayu. Lalu, Ia membisikkan sesuatu ke telinga Bayu. Dan bayu menganggukan kepalanya ketika mendengar bisikkan dari Ali.
"Oke!" Ali mengacungkan jempol ke Bayu dengan mulut yang berbicara tanpa suara. Bayu membalas dengan acungan jempolnya dan ia berlalu kebelakang di mana di sana Pricil baru selesai mencuci piring.
"Kak, Sisil" panggil Bayu perlahan dan mendekat.
"Ada apa, Bay, kok bisik-bisik sih!" Pricil pun jadi ikut memelankan suaranya mengikuti arahan Bayu.
"Mas Ali minta sesuatu!" bisik Bayu.
Pricil langsung mengkerutkan alisnya, "minta apa?" tanya Pricil dengan penasaran. Dan bayu melanjutkan bisikkannya ke telinga kakaknya.
__ADS_1
"Ehem, ehem!!" tegur Chandra yang tiba-tiba nongol di belakang mereka.