
"Jadi, aku harus ngapain? Ajarin dong, Ga. Kamu kan udah janji mau bantuin aku!" protes Tio.
Hisss
Angga sudah pusing harus bagaimana memberi jalan untuk Tio. Sudah di temani sampai depan rumah dan di beri jalan yang sangat mudah masih saja tidak mudeng. Di tepok jidatnya berkali-kali saking kesalnya.
Plak plak plak (bunyi jidat Angga yang di tepok pake tangannya sendiri) akhirnya Angga bungkam. Ia lelah harus menunjukkan cara apa lagi.
Sementara anak kecil yang lagi asik bermain di depan rumah berlari masuk ke dalam rumah.
"Kak, bangun, Kak. Ada olang di sana!" Fani membangunkan Pricil yang sedang tidur ayam.
"Ada apa, Dek?" Pricil menggeliat.
"Ada abang-abang di bawah po'on jengkol, Kak!" terang Fani.
"Abang, Nando?" tebak Pricil.
"Bukan, ayo, kita liat dulu ke depan," Fani menarik lengan Pricil yang enggan turun dari tempat tidur.
"Kakak cuci muka dulu," Pricil ngeloyor ke dalam kamar mandi.
**
Di bawah pohon jengkol
"Payah kamu, Yo!" kesal Angga. Ia pun keluar dari persembunyian dan berjalan menuju halaman rumah yang sedari tadi mereka intai. Tak lupa, di belakang Angga, Tio selalu mengekor.
"Duluan!" Angga menjegal lengan Tio agar berjalan mendahuluinya.
"Sabar, nggak tau apa aku lagi gugup!'' Sungut Tio.
"Demi, Yo! Demi," ucap Angga.
Mereka berjalan saling dorong hingga sampai ke depan pintu. Setelah itu, Tio menarik nafas lalu ia buang dan di ulang beberapa kali untuk menetralkan perasaan gugup yang sedang melanda. Angga bersandar pada dinding samping pintu sambil mengamati keadaan sekitar yang banyak di tumbuhi pohon buah-buahan.
"Bismillah," lirih Tio. Ia mulai mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Assalamulaikum." Tak lama, terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Walaikumsalam," suara anak kecil yang menjawab.
__ADS_1
Setelah pintu di buka, nampaklah anak kecil berwajah imut yang membuka pintu dan menjawab salam dari dua abang ganteng di depan rumah.
"Abang, cali siapa?" tanya Fani dengan suara khasnya.
"Kak, Sisilnya ada?" tanya Angga sambil menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan lawan bicaranya.
"Siapa, Dek?" suara Pricil dari dalam yang sedang berjalan menuju ruang depan.
Degghh
Jantung Tio berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat mendengar suara orang yang sangat ia rindukan. Tio masih berdiri di luar samping pintu.
"Loh! Angga? Kok, kamu bisa ada di sini?" tanya Pricil. Ia sangat kaget saat melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya saat ini. Tak di sangka bahwa apa yang di ceritakan oleh Ali semalam benar adanya. Orang yang di maksud adalah teman sekolahnya.
"Halo, Kak. Kangen, nggak sama aku?" tutur Angga.
"Ihh, paan, sih!" sahut Pricil. Lalu Pricil membisikkan sesuatu pada adiknya dan sedetik kemudian adiknya ngacir ke belakang membiarkan kakaknya menghadap sang tamu.
"Duduk dulu, Ga." Pricil menyuruh Angga untuk duduk di kursi teras dan ia berdiri di ambang pintu. Setelah tangannya satu bertumpu pada tiang pintu dan sebelahnya lagi bertolak pinggang. Ia melihat ke samping dan langsung membelalakkan bola matanya saat melihat seseorang di sampingnya.
"Ti-yo,..." Pricil langsung membekap mulutnya sendiri saking terkejutnya. Ia menepuk-nepuk pipinya kanan dan kiri untuk memastikan bahwa yang ia lihat saat ini adalah nyata.
"Ha-hai, sayang," balas Tio dengan gugup. Namun, tetap dengan senyum termanisnya. Rasa rindu yang menggebu dalam kalbu menjadikan dua orang yang saling tatap terdiam beberapa saat.
"Yang kalian lihat itu nyata, loh! Akh, nggak romantis, nih, kalian!" celetuk Angga. Ia mengamati dua sejoli itu secara bergantian. Namun, tak ada tanda-tanda mereka angkat suara.
"Duduk dulu, sini." Angga mempersilahkan Tio dan Pricil duduk di kursi sebelahnya seolah-olah ia tuan rumahnya. Keduanya pun menurut dan duduk bersebelahan.
"Aku pamit beli permen dulu, ya!" Angga menepuk paha Tio dan beranjak dari kursinya meninggalkan dua orang yang duduk di ruang teras tersebut.
Jarak duduk Tio dan Pricil jika di ukur dengan penggaris, kira-kira hanya lima puluh centi meter. Keduanya masih saling diam dengan jari tangan memilin tangan masing-masing. Di ujung jalan, Angga melihat mereka masih saling diam hanya bisa geleng-geleng. Lalu ia melanjutkan pergi mencari warung ke arah kiri jalan.
Satu menit
Lima menit
Sepuluh menit
Waktu terus berputar,
"Maaf," ucap Tio dan Pricil secara bersamaan. Mereka saling lirik melirik setelah mengucapkan sepatah kata. Akhirnya, Tio memutuskan untuk menyerongkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Pricil yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Maafin aku, ya,..." Tio menatap manik mata Pricil yang memperhatikan jemarinya sendiri. "Kamu, jangan marah, ya?" lanjut Tio.
"Enggak!" jawab Pricil jutek dan dengan posisi masih menunduk. Jemarinya terus ia puter antara telunjuk dengan telunjuk. Rasa gugup melingkupi ruang hati dan pikiran. Rindu yang selama ini hanya bisa di pendam, kini, harusnya bisa ia lampiaskan. Namun, semua tak semudah yang di bayangkan.
Tio pun akhirnya tersenyum mendapati kekasihnya masih tetap sama. Jutek yang tak pernah hilang dari diri Pricil membuat ia selalu gemas.
"Kamu nggak kangen sama, aku?" tanya Tio.
"Enggak, tuh!" Pricil bersedekap lalu ia membuang muka.
"Tapi, aku kangen banget sama kamu, Yang," rengek Tio. Ia mulai mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku sedari tadi. Rindu untuk membuat kekasihnya kesal kini sedang melanda jiwanya.
"Cium, boleh?" goda Tio.
Pricil langsung menatap Tio dengan tatapan rajam setajam tusuk sate saat mendengar permintaan konyol dari kekasih hatinya.
"Enggak boleh! Bukan mukhrim!" ketus Pricil.
"Ya, udah. Aku pergi, ya! Enggak ada yang kangen, kok. Kayaknya, di tempat lain ada yang kangenin aku, deh!" seloroh Tio. Ia ingin melihat reaksi Pricil ketika ia mencoba menggodanya.
"Jadi, kamu,..." Pricil langsung berfikir yang macam-macam.
"Yakin, kamu nggak kangen?"
"Ish, iya!" jawab Pricil dengan bibir mengerucut.
"Iya, apa?"
"Kangen," lirih Pricil dan hampir tak terdengar. Sementara Tio, ia ingin melompat karena mendengar jawaban Pricil yang juga merindukan dirinya. Tapi, ia harus bersikap pura-pura tidak dengar dan ingin menggoda kekasihnya yang wajahnya sudah terlihat merah seperti tomat.
"Kamu, ngomong apa, sayang? Aku nggak denger, loh!" Tio merapatkan tangannya ke telinga seolah-olah ia tidak mendengar apa-apa. Pricil semakin sebal di buatnya.
"Ya udah, pulang sana, gih!" Pricil mengusir Tio. Walau itu hanya ucapan yang pura-pura untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku masih kangen banget loh sayang! masak udah di usir, sih!" jawab Tio dengan tatapan sendu.
Pricil kembali membuang muka kesamping. Ia pun tersenyum senang telah berhasil membuat Tio mengiba. Setelahnya, ia masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan air minum buat tamunya.
"Loh, kok di tinggal sih, Yang!" ucap Tio kecewa.
-
__ADS_1
-
Maaf kalau ada typo, ya.