
Di dalam angkot itu baru ada Dua orang, Pricil dan Tio. Mereka duduk bersebelahan. Satu arah dan Dua tujuan.
"Pricilia Atmaja" gumaman Tio terdengar masuk ke telinga Pricil. Ia segera menoleh dan menatap Tio.
"Nyebut namaku ya barusan?" todong Pricil ke Tio dengan pertanyaan.
"Emang nggak boleh? Emang bener itu nama lengkap kamu kan?" Tio menautkan jari jemarinya sambil bertumpu lutut dan badan sedikit membungkuk.
"Ya," hanya jawaban singkat itu yang keluar dari bibir Pricil.
Tio tersenyum, setelahnya ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Kemudian main game.
Saat Pricil melihat Tio mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia menyangka bahwa Tio akan meminta nomornya. Eh! ternyata buka Game.
Pricil menatap ke arah kemudi depan lalu ia mengamati jalanan. Angkot yang bergoyang goyang karena melewati jalan berlubang, lalu Jedukk!! mobil ngerem mendadak. Tubuh yang tak siap itu melorot ke samping dan kini mepet kayak perangko.
"Nempel nempel, ntar naksir!" spontan kata kata itu keluar dari mulut Tio.
Pricil segera menggeser tubuhnya dan pindah duduk. 'Huh, tampang doang yang kalem. Ternyata mulutnya enggak.' Umpat Pricil dalam hati.
Hingga sampai di terminal, hanya mereka penumpangnya. Turun setelah membayar ongkos dan pindah angkot jurusan rumahnya.
**
Setelah selesai bersih-bersih, Pricilia kembali kekamarnya untuk membuka amplop yang masih ia simpan didalam tasnya.
Duduk di tepi tempat tidur, lalu menyilakan kaki, meraih tas yang tadi ia taruh begitu saja di atas tempat tidur. Kemudian mengambil amplop putih itu dengan perasaan senang.
"Bismillah..." gumamnya lirih, setelah itu ia intip isi amplopnya. Mata yang sipit itu melotot setelah melihat isinya. Dua lembar uang kertas berwarna merah.
Untuk ukuran anak seumuran Pricilia yang baru belajar mencari uang, itu senengnya bikin dia jingkrak-jingkrak. Ia megucap syukur, 'Alhamdulillah' dalam hatinya.
Pricilia segera menyimpan uang tersebut kedalam selipan buku tebal yang jarang ia buka, dalam fikirannya tersusun rencana.
"Sisil," terdengar suara seseorang yang sangat dikenalnya memanggil dirinya di luar pintu kamarnya. Di sertai suara ketukan kecil.
Pricilia beranjak dari duduknya, lalu membuka handle pintu tersebut. Setelah pintu terbuka, terpampanglah wajah handsome sang paman yang tersenyum sangat manis menatap dirinya.
"Paman," sambil keluar dan kembali menutup pintu. Duduk diruang depan sambil berhadapan.
"Seharian ini nggak nampak batang hidungnya, kamu kemana?" suara lembut itu menyapa indera pendengaran Pricil.
"Aku pergi sama teman," Pricil menatap pamannya itu yang juga menatap dirinya lalu melanjutkan ucapannya, "aku latihan kerja."
__ADS_1
"Oh, kirain kemana." Terdengar suara kelegaan dari intonasi yang diucapkan pamannya tersebut.
"Paman nyariin aku?" pertanyaan yang membuat sang paman mengalihkan pandangan.
Flashback on
Setelah selesai lari pagi keliling lorong rumahnya, Chandra duduk di depan teras rumah kakaknya. Terlihat Cahyani sedang menyapu di ruang tamu. Sementara ia masih sibuk mengelap keringat yang menetes di dahinya dengan handuk kecil yang ia sampirkan di bahunya.
"Kak, kok sepi. Pada kemana?" Chandra bertanya pada kakaknya yang sedang membersihkan ujung sapu yang ada rambutnya.
"Pergi," singkat dan padat jawaban yang di berikan oleh kakaknya. Chandra hanya mengangguk, kemudian ia balik kerumahnya dan mandi.
"Sarapan dulu Chan," perintah ibu Chandra saat melihat anaknya sudah selesai mandi dan sedang memasang kaos oblong di depan pintu kamarnya.
"Sebentar bu," ia kembali masuk ke kamar untuk menyisir rambut. setelah selesai baru ia duduk di kursi meja makan.
"Ibu mau kemana kok udah rapi?" sambil menyendok nasi kuning menu sarapan yang dibuat ibunya.
"Mau kondangan di Kilo Meter 18." Jawab sang ibu sambil meletakkan sendal khas kondangan di bawah kakinya yang baru dikeluarkan dari kotaknya.
"Sama siapa ibu pergi" sambil mengunyah makanannya Chandra bertanya lagi.
"Rame-rame bareng bibimu dan juga uwak yang di gang belakang." Setelah selesai merapikan kerudung yang dikenakan, "Ibu berangkat dulu, jaga rumah ya."
Sepi dan sunyi, Chandra duduk di ruang tengah sambil menyalakan Televisi. Mencari berita terkini setelah selesai sarapan.
Teve menayangkan berita tentang pembunuhan pelajar perempuan yang dibuang ke sungai usai di gang bang.
"Wihh, ngeri sekali nih berita" dengan fokus ia menonton dan mendengarkan siaran tersebut. Setelah berita pembunuhan usai, tampil kembali berita tentang penculikan anak.
Usai menonton berita, Chandra mematikan saluran Teve tersebut dan keluar dari rumah. Duduk lagi di depan teras rumah kakaknya yang sudah sepi. Sepertinya Cahyani juga ikut pergi kondangan bersama ibunya.
'Hah, suntuk ya nggak ada temen ngobrol. Biasa ada Sisil yang bisa diajak bergurau, dijahilin atau diusilin.' Bergumam sendiri.
Chandra memutuskan untuk pergi ke rumah Andi. Sambil berkendara ia memberi tahu ke Andi bahwa ia akan berkunjung ke rumahnya.
"Lagi ngapain kamu Ndi?" langsung menghampiri Andi yang sedang sibuk dengan peralatan pancing.
"Aku mau mancing, mau ikut nggak?" sambil membereskan tali senar yang buyar dari gulungan.
"Boleh lah, kapan mau berangkat."
"Sekarang lah. Nih udah beres," Andi memasukkan stik pancingnya kedalam tas lalu meraih kunci motornya.
__ADS_1
Mereka berangkat menuju ke kolam pemancingan. Suasana di kolam sangat ramai pengunjung. Setelah dapat tempat yang nyaman, Andi dan Chandra duduk bersebelahan.
"Kamu nggak mancing," Andi bertanya setelah melihat Chandra hanya duduk sambil ungkang ungkang kaki di sebelahnya.
"Nggak, lagi males mau ngapa-ngapain." Ucapnya cuek sambil menatap ke tengah tengah kolam.
Setelah selesai memasang umpan di kail pancingnya, Andi melempar umpannya ke tengah-tengah kolam. Kemudian ia menyalakan sebatang rokok, "Muka mu kusut begitu, ada apa?" Andi sudah penasaran melihat gelagat sahabatnya itu.
"Nggak ada sih, cuman suntuk. Di rumah sepi, orang-orang pada pergi semua."
"Ohhh, apa karena nggak ada keponakanmu yang gemesin itu." Andi langsung menebak pada pusatnya.
Chandra hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Andi yang memang benar adanya. Matanya fokus menatap kail pancing yang Andi lempar ke tengah kolam.
Sudah Satu jam duduk di tepi kolam menemani Andi memancing yang tak kunjung mendapatkan ikan. Chandra mulai jenuh, ia berdiri dan mulai berjalan-jalan sambil mengamati para pemancing lainnya.
Hingga sore hari, saat akan pulang. Andi mendapatkan tarikan yang sangat kencang. Dengan cekatan dan terampil, tangan Andi memutar katrol pancingnya.
"Waaahh, ini mantap!" Seru Andi setelah menaikkan kailnya. Seekor ikan mas berukuran Satu kiloan mendarat ke dalam kerancang khusus ikan yang sudah ia siapkan.
Chandra mendekat untuk melihat hasil pancingan Andi, "besar juga kamu dapetnya Ndi."
"Iya nih, lumayan buat di gulai." Sambil memasukkan kembali alat pancingnya kedalam tas. Setelah itu mereka kembali lagi kerumah.
Sesampainya di rumah Andi, Chandra langsung pamit pulang. "Aku balik ya Ndi,"
"Loh, cepet amat. Ya udah, kalau gitu." Andi menautkan alisnya setelah melihat Chandra berlalu dari hadapannya. 'Kenapa ya tuh anak' tanya Andi pada dirinya sendiri yang tak akan mendapatkan jawaban.
Setelah pulang dari tempat Andi, Chandra kembali bertandang ke rumah kakaknya. Hanya kakak serta iparnya yang berada di rumah tersebut.
Flashback off.
"Kok paman malah diem sih," Pricil mencoel lengan pamannya yang malah melamun itu.
"Eh!" gelagapan setelah dapat toelan dari keponakannya itu. "Siapa juga yang ngelamun, itu di atas ada cicak! coba lihat" mengarahkan matanya ke langit langit ruangan.
Pricil pun ikut mengarahkan pandangan matanya ke langit langit tersebut, benar saja. Ada cicak yang sedang berkejaran disana.
"Alah, pakek ngeles ke cicak segala." Pricil mencibir.
Setelah itu Chandra tersenyum, seharian tak melihat wajah keponakannya ini ternyata menghilangkan segala moodnya.
"Kamu itu Mood Booster ku,"
__ADS_1