
''Kamu mau makan apa?'' tanya Tio sembari menyodorkan buku menu.
''Hmm...'' Pricil membuka lembaran buku menu dan memilih beberapa makanan.
''Aku mau ini, sama ini, minumnya ini'' tunjuk Pricil pada gambar makanan dan minuman di buku menu. Ia memilih ikan gurami bakar, cumi goreng tepung dan minumannya jus alpukat. Sedangkan Tio memilih menu udang dan minumannya jus mangga. Ya, cukup menu yang sederhana buat muda mudi seperti mereka. Memilih tempat pun yang nyaman dan harga makanan yang terjangkau bagi kaum anak sekolahan seperti mereka.
''Ada tambahan lagi kak?'' tanya waithers yang mencatat menu pesanan.
''Enggak kak, itu aja'' sahut Tio.
Kakak waihtersnya masih saja berdiri dan menatap Tio sambil senyum penuh kagum. Pricil yang melirik kearah kakak tersebut akhirnya mengeluarkan suara.
''Ekhem,...'' satu kode suara Pricil lontarkan. Namun, si kakak waithersnya masih berdiam di tempat.
''Ekhemmm...'' lagi, suara deheman keluar dari bibir mungil Pricil. Dan, berhasil membangunkan lamunan dari si kakak tersebut.
''Kita udah laper nih! buruan ya kakak!'' Pricil menekan kalimatnya agar kakak tersebut sadar diri dan segera pergi. Tio yang melihat tingkah Pricil, jadi tersenyum menatapnya. Ada perasaan bahagia di hatinya. Ternyata sang pujaannya sedang cemburu sama kakak waithers yang matanya tak bisa di kondisikan menatap ketampanan dirinya.
''Maaf, bisa cepetan nggak mbak. Kita buru-buru nih!'' Tio akhirnya angkat bicara. Dan membuat si tersangka jadi gelagapan.
''Eh, e, iya kak, maaf. Saya terpesona'' ucap kakak tersebut dan langsung melipir dari hadapan keduanya.
''Seneng ya, di liatin sama tu mbak-mbak! sampe terpesona gitu... iyuhh!!'' Pricil memenyotkan bibirnya mencibir cowok yang sedang senyum-senyum menatap dirinya.
''Kamu cemburu ya ... aku seneng deh.''
''Iishh, apaan sih! pede banget!'' jawab Pricil dengan ketus. Ia malah jadi kesal di bilang lagi cemburu. Pacar juga bukan, ngapain cemburu. Pikir hati Pricil.
''Kamu tenang aja, hati aku cuma ada satu kok. Dan itu, udah di miliki sama bidadari cantik yang turun dari pucuk pohon kates seperti kamu'' rayu Tio. Dan sukses membuat Pricil jadi merona wajahnya.
''Isss...'' lagi-lagi Pricil menatap tajam ke arahnya. ''Enggak ada tuh bidadari turun dari pucuk pohon kates!'' Tolak Pricil.
__ADS_1
''Jadi, bidadari itu turunnya dari mana?'' tanya Tio dengan tatapan menggoda.
''Dari empang!!'' jawab Pricil dengan asal.
''Salah!'' jawab Tio dengan cepat.
''Ya dari khayangan lah. Masak iya dari dalem botol. Enggak lucu kan. Dia kan bukan jin yang di iklan rokok 76!'' jawab Pricil tetap pada Prisipnya.
''Salah dong, mau tau jawaban yang benar?'' tawar Tio.
''Apa??'' akhirnya, Pricil pun jadi penasaran akan penjabaran dari Tio tentang bidadari yang sedang di bahas.
''Jawabannya itu, ... '' Tio menjeda sejenak, ''kasih tahu nggak ya...''
''Permisi, ini menunya, silahkan menikmati'' interupsi seorang waithers yang baru saja datang mengantar pesanan mereka. Dan ia seorang laki-laki. Untung bukan cewek yang tadi. Dah, entah apa yang akan Pricil tunjukkan ke Tio kalau sampai kakak tersebut curi-curi pandang lagi.
''Terima kasih mas yang ganteng,'' ucap Pricil dengan genit. Ia ingin membalas pada Tio karena tadi ia sudah di goda oleh cewek lain. Dan, sekarang malah ia yang menggoda orang. Sungguh ter la lu.
''Berani ya, godain cowok lain. Gantengan juga aku dari pada tu abang-abang!'' sewot Tio.
''Yah, emang gue pikirin. Enggak lah ya...'' Pricil tersenyum menang. Ia berhasil membuat cowok di depannya ini sewot.
Mereka kemudian makan dalam keheningan, hanya suara sendok yang saling bersahutan di antara keduanya. Usai makan, keduanya pun beranjak menuju kasir. Keduanya sama-sama mengeluarkan uang dari masing-masing dompet mereka. Tio ingin membayar makanan mereka berdua. Tetapi, Pricil ingin bayar sendiri.
''Berapa semuanya kak?'' tanya Tio pada si embak kasir.
''Hitung punya dia aja mbak, saya bayar sendiri'' sela Pricil.
''Enggak usah, aku aja yang bayar, udah. Simpen lagi tu duit buat di masukin ke celengan'' Tio mengusir tangan Pricil agar menyimpan kembali uangnya.
''Enggak, pokoknya bayar masing-masing!'' Pricil masih ngotot.
__ADS_1
''Maaf adek-adek. Di belakang kalian sudah banyak yang mengantri ingin membayar, sekarang serahkan uangnya, totalnya jadi dua ratus lima puluh ribu rupiah'' terang si embak kasir.
Pricil dan Tio langsung menoleh ke belakang saat si embaknya menyebut antrian sudah panjang di belakang. Dan, benar saja apa yang di katakan embak tersebut. Pricil menunduk malu, karena perdebatannya dengan Tio tadi pasti di dengar oleh orang lain. Segera ia melipir dan membiarkan Tio yang membayar makanan mereka barusan.
Udai membayar, Tio menyusul Pricil yang berdiri di samping pintu masuk. Matanya menatap lampu remang-remang yang menggantung di pinggir atap pondok.
''Yuk!'' ajak Tio lalu meraih jemari Pricil untuk ia genggam. Pricil ingin protes kembali, tetapi ia teringat kejadian barusan. Dan akhirnya hanya diam menurut, lalu mengikuti langkah Tio menintinnya.
''Loh, kok enggak ambil motor. Kan, motornya di ujung sana'' ujar Pricil dengan heran. Langkahnya sejajar dengan Tio berjalan di trotoar yang ada banyak batu bulat untuk tenpat duduk.
''Kita jalan bentar, motornya titip dulu'' sahut Tio dengan santai. Ada taman kecil yang di buat khusus di dekat pondok lesehan tempat mereka makan tadi.
''Duduk sini dulu yuk'' Tio menarik tangan Pricil agar duduk di sampingnya. Posisi bangku taman menghadap ke arah jalan raya yang padat oleh pengendara.
Di belakang mereka berdiri kokoh pohon besar yang rindang dan melindungi kursi yang mereka duduki dari cahaya lampu jalan. Tidak terlalu gelap, karena masih dapat percikan sinar dari para pengendara roda dua dan roda empat.
''Makasih ya, Lia'' ucap Tio sambil duduk bersandar dan merentangkan tangannya ke samping selurus dengan sandaran kursi besi yang mereka tempati. Pricil pun menyandarkan punggungnya dan mengenai lengan Tio yang sengaja di rentangkan di belakangnya.
''Makasi buat apa?'' ucap Pricil dengan lirih. Ia was-was berada di bawah pohon yang gelap ini. Karena cahaya yang hilang timbul dari jalanan.
''Buat kamu yang udah mau meluangkan waktu malam ini'' ucap Tio dengan lembut. ''Aku boleh minta jawaban yang kemarin nggak'' tagih Tio. Ia mengubah posisinya menjadi menghadap ke Pricil dengan masih di posisi duduk. Lalu, ia memutar tubuh Pricil agar menghadap ke arahnya.Kemudian, tatapan mata mereka bertemu.
''Emm, jawaban yang waktu di kelas itu ya'' tanya Pricil ragu-ragu.
''Iya, apa kamu mau nerima aku?'' tanya Tio penuh harap.
-
-
-
__ADS_1
Gantung melulu dah. Kita tunggu jawaban dari isi hati Pricil lain waktu ya hehehe.