Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Lolos


__ADS_3

''Semua sudah beres, bos'' ucap Si gempal.


''Bagus, jangan sampai lengah'' sahut si penelpon.


''Baik, bos!''


Telepon berakhir, dan tatapan mata si gempal langsung tertuju ke seseorang yang mencurigakan sedang menyelinap di antara orang-orang yang lewat. Di saat itu pula si gempal langsung berlari mengejar tawanannya.


"Sia*l! beraninya dia kabur!" lelaki gempal tersebut mengumpat dan mengejar langkah Tio yang tertutup oleh tubuh orang lain. Si sopir yang baru keluar dari toilet dan melihat rekannya berlari, ia ikut berlari mengejar temannya.


"Hoi, Ton! bocah itu kabur?!" ujar Tino.


Rekannya yang di panggilpun menoleh sekilas dan masih terus mengerjar langkah Tio yang sedikit lagi hampir terkejar oleh mereka.


"Buruan tangkep, Tin. Kamu dari depan situ!" perintah Tono. Sedangkan lelaki yang bertubuh gempal itu menuju arah belakang. Dan akhirnya, Tio terkepung.


"Mau kabur kemana, hah!" dengan sigap, Tono mencekal lengan Tio dan menggeretnya kembali masuk ke dalam.


"Lepas! Aku nggak mau ikut kalian!" Tio lagi-lagi meronta agar lengannya dilepaskan. Namun, tubuhnya yang kalah ukuranpun, akhirnya pasrah. Ia di gelendeng dengan paksa.


Sebelum boarding Tio langsung menginjak kaki kedua orang yang menahan tangannya dengan sangat kuat secara bergantian. Setelahnya, ia menggigit lengan kekar itu dengan kuat. Dengan spontan cekalan di tangannya langsung terlepas. Ia pun langsung lari menjauh dan bersembunyi.


Tono dan Tino kembali mencari keberadaan Tio yang hilang dari pandangan mereka. Dua orang tersebut mencari dengan cara berpencar agar mudah menemukan kembali tawanan mereka.


Tio yang bersembunyi di balik pot besar mengintip pergerakan para penyandra itu berlari mengarah kembali ke dalam. Tio langsung bergerak cepat keluar dari area bandara dan menyetop ojek yang kebetulan lewat.


''Pak! ojek, Pak!'' seru Tio yang langsung naik ke boncengan membuat tukang ojek tersebut langsung berhenti mendadak. Untung tidak ngebut, kalau ngebut si kang ojek udah kejungkel.


''Pakai helmnya, dek!'' perintah pak ojek sambil menyodorkan sebuah helm pada Tio.


''Pak! buruan jalan, Pak!'' desak Tio sembari memasang helm ke kepalanya. Motor pun melaju membaur dengan kendaraan lain.


''Kemana nih, Dek?'' tanya Pak ojek.


''Ke jalan burung nuri, pak!'' ucap Tio.


Bapak ojek tersebut melajukan motornya mengarah jalan yang dimaksud. Setelah kurang lebih lima belas menit perjalanan, mereka sampai di depan sebuah rumah yang halamannya luas. Tio membuka dompetnya dan menanyakan ongkos ojeknya.

__ADS_1


''Berapa, pak ongkosnya?'' tanya Tio.


''Empat puluh tujuh ribu, Dek!'' jawab pak ojek.


''Nih, makasih, ya, pak.'' Tio menyerahkan uang biru kemudian ia langsung berlari memasuki halaman luas di depannya.


Kebetulan, si pemilik rumah sedang memasukkan barang keperluan ke dalam bagasi mobil. Tio pun langsung mendekat dan menyapa tuan rumah tersebut.


''Permisi, Om. Angganya ada?'' tanya Tio langsung pada intinya.


''Eh, kamu, Yo. Ada tuh!'' tunjuk om Yuan dengan dagunya. Terlihatlah Angga sedang menenteng senapan angin. Ia pun langsung menghampiri Angga dan mengajaknya berbicara sejenak. Mereka berdua menuju teras samping rumah.


**


"Gimana, Ton?!" tanya Tino. Mereka baru saja berkeliling mencari Tio di seputaran bandara tersebut.


"Nggak ada, Tin!" jawab Tono dengan terengah-engah. Ia mengatur nafasnya.


"Mampus! bos pasti nyunat kita kalo nggak bisa bawa bocah itu ke pak bos." Jawab Tino cemas.


"Pokoknya, kita cari lagi. Pasti ketemu, ayo!" ajak Tono optimis. Mereka pun melanjutkan mencari keberadaan Tio menggunakan kendaraan mereka.


Malam hari, mobil pak Yuan memasuki pelataran rumah di sebuah desa. Tempatnya sepi, karena rumah penduduk yang jaraknya berjauhan. Angga keluar dari dalam mobil diikuti oleh Tio. ia ikut dengan keluarga Angga berkunjung ke desa Suka Makmur. Disana, pak Yuan hendak mengecek kebun sawit miliknya.


"Pa, sepi banget disini!'' ujar Angga. Ia mengikuti langkah pak Yuan menuju rumah sederhana di hadapannya.


''Namanya juga di kebun. Kalo mau rame, ya, di kota.'' Pak Yuan membuka pintu rumah tersebut dengan kunci, lalu mereka masuk ke dalam. Pak Yuan meraba dinding sebelah pintu untuk mencari saklar lampu dan menyalakannya.


''Hehe,'' Angga hanya bisa nyengir mendengar jawaban dari Papanya.


Dalam ruangan tersebut, terdapat satu set kursi minimalis yang terbuat dari kayu mahoni. Ruang dapur berukuran kecil dan dua buah kamar.


''Istirahat dulu, besok baru kita ke kebun!'' perintah pak Yuan pada Angga dan juga Tio.


''Iya, Pa.'' Jawab Angga singkat, Tio pun mengekor.


Dua remaja tersebut masuk ke dalam kamar yang sama. Ruang kamar yang hanya berukuran tiga kali empat meter, ada sebuah ranjang Spring Bed ukuran sedang, lemari serta meja kecil. Angga meletakkan barangnya di atas meja tersebut.

__ADS_1


''Aku rebahan duluan ya, Ga. Kaki dan badanku capek banget.'' Ujar Tio.


''Oke, aku mau keluar dulu bentar!''


Angga beranjak keluar dari kamar tersebut menghampiri Papanya yang sedang duduk sambil merokok di ruang tamu.


''Loh, kamu nggak tidur?'' tanya pak Yuan.


''Belum ngantuk, Pa.'' Sahut Angga.


Sedetik kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan menyalakan layarnya. Alangkah terkejudnya ia saat menatap layar di sudut ponselnya.


''Aihh!! nggak ada jaringan disini!'' seru Angga.


''Hahaha, biasa aja kali. Papa, kan sudah bilang kemarin. Kamu enggak denger!'' jawab pak Yuan terkekeh melihat reaksi anaknya.


''Lupa, Pa. Kalau inget, aku ganti dulu kartunya. Huft!'' Angga mengerucutkan bibirnya. Ia pun kembali ke dalam kamar menyusul Tio yang sudah pergi ke alam mimpi.


''Maafkan aku ya bebeb Wina, aku nggak bisa kasih kabar buat kamu dua hari kedepan!'' Angga mencium layar ponselnya yang bertema foto kekasihnya.


''Yo, geser! Aku juga mau tidur. Makan tempat, sih ni orang kalo tidur!'' Angga mengomel meminta pada Tio agar bergeser. Tio yang tidur di posisi tengah-tengah tempat tidur tak mendengar omelan Angga.


''Woi! Geser, dong!'' Angga kembali mengulangi permintaannya. Ia mendorong tubuh Tio bergeser ke tepi ranjang. Setelah berhasil, baru ia merebahkan tubuhnya di sebelah Tio.


''Berisik banget, sih!'' Tio berucap dengan mata terpejam. Ia membalik badan dan lututnya menimpa tubuh Angga. Ia menjadikan tubuh Angga sebagai guling.


''Astaga! Naj!s, Yo. Kamu kira aku Homo!'' Angga melempar dengan kuat kaki Tio yang menindih perutnya. Sehingga sang empunya terbangun.


''Apaan, sih. Aku ngantuk loh, Ga!'' ucap Tio. Suaranya terdengar serak. Matanya pun hanya melek seperempat untuk menatap Angga.


''Aku masih normal, sono geser!'' usir Angga.


Tanpa menjawab, Tio menggeserkan tubuhnya ke pinggir ranjang. Baru setelahnya, Angga berbaring. Mereka sama-sama berbaring di bagian pinggir. Membuat ruang kasur bagian tengah menjadi lapang. Siap diisi oleh orang ketiga.


-


-

__ADS_1


Haloo, sambil menunggu author up kembali, yuk kepoin karya adekku yang satu ini. Kalian pasti baper, jangan lupa mampir ya.



__ADS_2