Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Abdul


__ADS_3

Pukul 00.15 Pricil tiba di rumah pamannya setelah di antar pulang dari pihak hotel. Sedangkan paman Arya, di tengah kesunyian malam mendengar deru mobil berhenti di depan rumahnya langsung mengintip dari balik kaca jendela. Setelah mengetahui bahwa itu adalah keponakannya, ia langsung membukakan pintu untuk Pricil.


"Malam sekali pulangnya, Sil?" tanya paman Arya dengan suara seraknya.


"Iya paman, acaranya baru selesai tadi jam 11an. Terus juga harus nunggu giliran di antar pulang" suara Pricil pun juga sudah serak-serak kering.


"Kerjanya ngapain sih, Sil. Kok sampe dini hari begini, enggak enak di liat sama tetangga" kembali paman Arya melanjutkan pertanyaan yang sering mengganjal di hati. Karena pikiran orang-orang di sekitaran rumah pamannya ini memandang negatif jika wanita bekerja di sebuah hotel. Pikiran mereka langsung tertuju pada wanita-wanita malam atau wanita penghibur. Padahal, di hotel itu banyak sekali bagian-bagiannya.


Di mulai dari bagian depan, hingga ke bagian kebunnya pun ada. Pricil pun mengerti akan ke khawatiran pamannya ini.


"Aku cuma kerja ngelayani tamu kok paman," jawab Pricil dengan lembut.


"Ngelayani tamu?" pikiran pamannya sudah mulai negatif. Dan lagi-lagi Pricil dengan sabar menjelaskan kesalahpahaman sang paman.


"Iya paman, aku dan teman-temanku membantu para crew F&B atau waithers di hotel tersebut. Lebih tepatnya, membantu pegawai restoran memenuhi permintaan tamu-tamu yang akan makan dan juga minum. Nah, kami semua harus melayani dengan baik para tamu tersebut. Apalagi tadi itu adalah acara pernikahan orang chinese, mereka sering mengadakan pesta di waktu malam" jelas Pricil dengan sangat rinci. Dan akhirnya pamannya itu menjadi paham.


"Ooww, gitu toh. Ya sudah, istirahatlah. Besok pagi kamu sekolah" ucap paman Arya sambil menutup dan mengunci pintu rumahnya, sedang Pricil langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Karena ujian telah selesai, Pricil pun tidak lagi menyibukkan diri untuk menyiapkan buku pelajaran. Kini, ia melelapkan tubuhnya untuk tidur. Agar lelah hari ini bisa terlepas dari tubuhnya.


Pagi menyapa


Pricil sudah siap dengan pakaian olahraganya, karena lagi class meeting. Perginya pun tidak sepagi saat hari biasa. Ia sudah siap menyandang tas sekolah dan berangkat ke sekolah dengan di antar paman Arya.


Paman Arya selalu mengantar Pricil ke sekolah lewat gerbang depan. Sesampainya di sana, seperti biasa. Pricil menyalami pamannya dengan takzim lalu masuk ke dalam pekarangan sekolah.


Setibanya di dalam pagar, ada seorang cowok yqng langsung menghampiri Pricil.


"Hai kak," sapa cowok tersebut.


"Iya kak, ternyata kakak inget sama nama aku" sahut Abdul. Ia melangkah beriringan.


"Kenapa, Dul?" Pricil merasa heran kenapa Abdul langsung menghampiri dirinya.


"Eh, eng, enggak kok kak. Aku mau minta nomor kakak, boleh" Abdul salah tingkah saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Buat nambah temen aja kak, siapa tau juga nanti aku ada pelajaran yang enggak ngerti, jadi bisa langsung tanya ke kakak" terang Abdul.


Pricil masih bingung dan enggak paham. Karena adik kelasnya yang ini mempunyai tubuh yang tingginya selaras dengan bahu Pricil. Lebih tepatnya dia lebih pendek.


Agar urusannya cepat selesai, Pricil pun memberikan nomornya pada Abdul. Dan langsung di catat oleh Abdul dan langsung di misscall.


"Itu nomor aku ya kak, tapi.."


"Tapi apa, Dul" lagi-lagi Pricil terheran.


"Hehe, jangan kakak kasih tahu Tio ya, kalau aku minta nomor kakak" ucap Abdul setengah berbisik.


"Kenapa? Kamu temen sekelasnya dia?"


"Iya kak. Ya udah, makasih ya kak.. Aku pergi dulu"

__ADS_1


Semakin di buat bingung oleh si Abdul. Pricil pun hanya mengiyakannya saja.


__ADS_2