
Pagi hari ini, Pricil sudah siap untuk berangkat ke sekolah seperti biasa. Dan saat ia berpamitan pada paman dan bibinya, paman Arya mengatakan bahwa ada teman Pricil yang sedang menunggunya di depan.
''Bik, aku berangkat dulu'' pamit Pricil seraya menyalami tangan bibinya.
''Sil, itu ada temennya nungguin di depan. Udah dari tadi'' sebut paman Arya.
"Siapa paman?" Pricil merasa heran.
"Lihatlah,"
"Ya paman, aku sekalian berangkat"
Pricil menatap seseorang yang berseragam putih abu-abu sedang duduk di atas motor, kepalanya tertutup helm dan kacanya tertutup. Lalu ia mendekati seseorang itu untuk memastikan siapa gerangan yang menjemputnya ke rumah.
Setelah Pricil mendekat, seseorang itu langsung membuka kaca helmnya dan menyumbangkan senyum pada Pricil. Gigi gingsul dan lesung pipi yang kentara ketika tersenyum membuat cowok yang kini di hadapan Pricil semakin manis saat tersenyum.
"Loh..." Pricil tak menyangka dengan yang ia lihat.
"Pagi kak, maaf aku nggak ngabarin kakak kalo aku mau jemput kakak. Kita berangkat bareng ya" ucap seseorang itu yang ternyata adalah Abdul.
__ADS_1
"Kok, kamu bisa sampe ke sini??" Pricil menjadi heran.
"Heheh, aku pengen aja jemput kakak. Ayo naik"
"Kok kamu bisa tau aku tinggal di sini?" sambil naik ke boncengan dan motor pun melaju.
"Tahu lah kak, kan kakak yang ngasih tahu" ujar Abdul.
"Kapan?" Pricil mencoba mengingat.
"Yang waktu kita chatingan tadi malam" jawab Abdul dengan enteng.
Setelah beberapa menit kemudian, Abdul dan Pricil sampai di depan gerbang sekolah mereka. Abdul menghentikan motornya dan meminta Pricil agar turun di luar area pagar.
"Kak, maaf. Kakak turun di sini ya, aku nggak mau nanti Tio liat kita" ucap Abdul.
"Lah, kamu aneh. Trus juga, kalo Tio liat emang kenapa?" tanya Pricil.
"Nanti dia cemburu, ya udah. Aku masuk duluan ya kak" Abdul memarkirkan motornya di tempat khusus parkir bagian depan.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Pricil masuk dan harus menuju arah gerbang belakang, tadinya ia ingin lewat belakang saja. Malah di bawa ke depan sama si Abdul. Akhirnya hanya ngikut aja karena cuma di tumpangi.
Saat sampai di lapangan yang biasa di gunakan untuk upacara bendera. Kini tempat itu sudah di sulap menjadi pentas seni. Dan terlihat di atas panggung sudah tertata beberapa alat musik yang sedang di cek and ricek.
Rupanya, beberapa teman sekelasnya akan manggung disana dengan membawakan lagu kesayangan mereka. Beberapa siswa lainnya sudah mulai berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut.
"Win," sapa Pricil sambil menepuk bahu sahabatnya.
"Eh, kamu, Sil. Sini-sini duduk" Wina menepuk tempat duduknya agar Pricil duduk di sisinya.
Pricil pun langsung mendaratkan bokongnya di sana dan menyandarkan punggungnya. Matanya mencari keberadaan Putri.
"Putri mana, kok nggak keliatan"
"Dia lagi pergi ke hotel Queen buat ambil honor kita kemarin" jawab Wina.
Lapangan tersebut kini sudah ramai dan suara musik mulai mengalun. Di pentas itu, kini terlihat para cowok-cowok teman sekelas Pricil yang akan tampil membawakan lagu kesayangan mereka.
Sungguh, pemandangan yang indah. Teman-teman Pricil yang akan tampil ternyata berpenampilan bak anak band ala-ala. Dan ia baru sadar, ternyata teman cowok sekelasnya itu semua goodlooking. Ia tanpa sadar berdecak kagum.
__ADS_1