Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Selembar Tiket


__ADS_3

Pricil telah menyelesaikan praktek sholat maghribnya dengan baik. Pak Ramli langsung memberikan nilai di buku miliknya.


"Bagus, kamu tingkatkan terus ya, dan kamu jalankan setiap hari di kehidupanmu sehari-hari. Ada baiknya jangan sampai kamu tinggalkan sholat lima waktu ini, karena itu adalah kunci dari hidup menuju kesuksesan. Dan meraih keberkahan dalam hidup" ucap pak Ramli dengan dengan tegas, serta memberi sedikit makna dari melaksanakan kewajiban.


"Iya pak, insya Allah. Terimakasih," Pricil menunduk hormat, lalu ia undur diri dan melepas mukenanya.


Kini giliran teman-temannya yang lain, Pricil keluar dari dalam musholla tersebut dan kembali duduk di tangga tempatnya semula.


"Putri Amalia" panggilan dari ketua kelas kembali menggema.


"Ya,.." Putri bangkit dari duduknya, dan ia segera masuk ke dalam.


"Kamu dapet giliran sholat apa tadi Pric?" tanya Wina dengan antusias.


"Alhamdulillah, dapet sholat maghrib" ujar Pricil dengan mata berbinar.


"Wah, padahal kamu udah hapal loh doanya.." ucap Wina dengan sedikit kecewa.


"Nggak apa Win, dari pada nanti aku tiba-tiba lupa, trus remedial"


"Oh, ya udah.. aku berdoa aja semoga di beri kelancaran dalam praktekku nanti, amiin" Wina mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Amiinn" Pricil pun ikut mengaminkan doa Wina.


Satu jam kemudian, ujian praktek usai. Kini mereka tengah istirahat, ada yang langsung ke kantin dan ada juga yang kembali ke kelas mereka.

__ADS_1


Pricil dan dua sahabatnya memilih duduk di bawah pohon beringin depan lapangan basket sambil makan cilok dalam plastik yang di potong ujung plastiknya.


Mereka menikmati makanan mereka sambil mengobrol ringan, lalu ada dua orang cowok yang menghamipiri mereka ke bawah pohon.


"Halo Bunny ku.." sapa Angga dengan senyum manisnya ke arah Wina.


Wina hanya membalas sapaan itu dengan senyum, pipinya sebelah menyembul seperti orang yang sedang sakit gigi, karena sebutir cilok baru saja masuk ke dalam mulutnya dan belum sempat di kunyah, sudah di sapa oleh Angga.


"Ada apa niihh!" ucap Pricil sambil meneliti tampang kedua adik kelasnya itu.


"Aha, begini kakak-kakakku.. Aku kesini mau ngasih ini aja untuk kak Winaku tersayang.." Angga mengeluarkan selembar tiket.


"Alay banget sih kamu Ga!" ucap Tio sambil menonyol kening Angga.


"Iri!! bilang Bos.." sanggah Angga.


Angga menyerahkan tiket itu ke tangan Wina, "jangan lupa datang ya Bunny" ucapnya dengan suara pelan.


Wina mengamati tiket itu sejenak, lalu menyimpannya kedalam tasnya. "Oke," ucap Wina setelah tiket itu masuk di tasnya.


"Jadi, cuma Wina aja nih yang di ajak, kita berdua enggak ya.." goda Putri sambil menatap kedua cowok itu.


Angga hanya nyengir kuda dan memamerkan giginya. Angga menyenggol lengan Tio dengan bahunya lalu membisikkan sesuatu.


"Jadi apa enggak, kok kamu malah diem aja sih!" ucap Angga dengan bisikkannya, hanya mereka berdua yang mendengar, sementara Pricil fokus mengunyah cilok terakhirnya. Lalu ia bangkit dari duduknya menuju tong sampah yang ada di seberang lapangan basket, agak berbelok ke kanan. Ia membuang sampah plastiknya di sana.

__ADS_1


Dengan langkah seribu Tio menyusul Pricil ke belokan tong sampah itu,


"Lia," panggil Tio di belakang Pricil dan sukses mengagetkan dirinya yang baru saja menaruh sampah.


"Apa sih! ngagetin orang aja!"


Tio tersenyum canggung sambil menggaruk leher yang sebenarnya tidak gatal.


"Eee, ini" Tio mengeluarkan selembar tiket dan mengulurkan ke hadapan Pricil "Datang ya, aku mau tanding" ucapnya setelah tiket itu di sambut oleh Pricil.


"Apa di haruskan aku datang kesana!" ucap Pricil dengan heran.


"Eh, tadi kamu panggil aku apa tadi?" Pricil teringat nama yang di ucapkan Tio tadi bukan nama panggilannya sehari-hari.


"Aku panggil nama kamu, Lia. Biar beda dari yang lain" Tio membalikkan badan hendak berbalik menyusul Angga.


"Harus datang ya, sebagai penyemangatku" ucap Tio dengan muka datarnya sambil menoleh kebelakang menatap Pricil kemudian ia berlalu setelah mengatakan kalimat paksaan.


"Kok maksa sih!!" ucap Pricil yang tentu sudah tak di dengar oleh Tio.


Pricil melihat tiket tersebut, tiket untuk menonton pertandingan basket antara sekolahnya melawan sekolah lain. Pricil tiba-tiba tersenyum kecil, lalu tiket itu ia simpan ke tasnya.


Pricil kembali menghampiri sahabatnya yang sudah berpindah tempat hendak menuju ke kelas.


"Buang sampahnya banyak ya, Pric, kok lama" tanya Putri dengan suara menggoda.

__ADS_1


"Iya, sekantong tadi." Jawab Pricil sekenanya.


Lalu mereka melangkahkan kaki menuju ruang kelas mereka untuk melanjutkan pelajaran berikutnya.


__ADS_2