
Di dalam ruang kamar yang sederhana, tubuh seseorang sedang menggeliat. Lalu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memperjelas pandangannya.
"Hooaaammmm" Pricil menguap begitu panjang. Ia baru bangun dan menatap jam mininya yang terletak di meja sederhana tempat buku-bukunya tersimpan.
Waktu menunjukkan jam 05.30 pagi. Dengan mata yang masih pengen merem, Pricil beranjak dari tempat tidur untuk menunaikan kewajibannya sebagai hamba.
Belakangan ini, ia mulai membiasakan diri untuk melaksanakan kewajiban yang selama ini masih banyak absennya.
Kakinya sudah tidak terasa sakit, mungkin karena di bawa istirahat serta di gosok dengan minyak herbal milik neneknya.
Usai dengan ritualnya di dalam kamar, Pricil mulai meraih sapu untuk bersih-bersih. Di mulai dari ruang kamarnya lalu ruangan yang lain.
Usai dengan urusan lantai, Pricil mulai meraih pakaian kotornya dan ia masukkan ke dalam ember dan ia rendam sejenak.
Sembari menunggu daki di pakaiannya luntur, Pricil memasak air panas untuk menyeduh mie cup rasa soto yang ada di dalam lemari piring tempat biasa tersimpan bahan-bahan dapur.
Hanya butuh waktu 5 menit, mie cup siap dinikmati sebagai menu sarapannya di dampingi dengan teh hangat. Ia menikmati sarapannya seorang diri.
Setelah menyuap dua suapan, Pricil meletakkan cup tersebut ke atas meja. Ia menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya dan kembali menikmati sarapannya. Tangan sebelahnya sedang mencari sebuah lagu untuk menemani paginya yang sunyi.
Sebuah lagu dari Melly Goeslaw yang berjudul Ku Bahagia menjadi pilihannya. Dan Pricil pun memutar lagu tersebut dari aplikasi yutubnya.
di atas bumi ini ku berpijak
pada jiwa yang tenang di hariku
tak pernah ada duka yang terlintas
ku bahagia
__ADS_1
ingin ku lukis semua hidup ini
dengan cinta dan cita yang terindah
masa muda yang tak pernah kan mendung
ku bahagia
dalam hidup ini
arungi semua cerita indahku
saat-saat remaja yang terindah
tak bisa terulang
ku ingin nikmati
kan kutanamkan cinta tuk kasihku
agar ku bahagia
Kepalanya ia angguk-anggukkan dan mulutnya yang berisi mie ikut melantunkan lagu tersebut hingga sarapannya selesai. Suasana hatinya ikut bahagia karena lagu tersebut.
Pukul 10 pagi Pricil selesai dengan tugasnya. Ia duduk di depan teras rumah sambil bersila, telinganya ia sumpal dengan headset dan kedua tangannya memegang buku novel kegemarannya. Cerita Wiro Sableng karya Bastian Tito, buku yang ia pinjam dari bibinya adik kandung sang ibu. Sudah lama sekali buku itu ia pinjam dan belum di kembalikan. Karena ia belum menyelesaikan seri-seri judulnya. Bahkan, ada 5 buku yang ia pinjam. Bulan Biru di Mataram yang saat ini sedang ia baca.
Pricil benar-benar menghayati tiap-tiap kalimat yang ia baca. Khusus hari ini Pricil ingin menikmati dunia nya sendiri. Tanpa ada gangguan. Tugas sekolah juga tidak ada. Headset di telinganya pun hanya sebagai pelengkap penampilan membacanya.
Pricil sudah sejak SMP suka membaca cerita dunia persilatan, dan itu semua milik bibinya yang jauh di sana. Bibinya punya semua seri buku itu. Jika selesai di baca, maka pas lebaran dia mengembalikan buku. Lalu meminjam lagi seri kelanjutannya. Dan begitu selanjutnya. Hingga yang masih ada saat ini.
__ADS_1
Memang tidak setiap hari ia membaca, hanya ketika senggang. Makanya lama selesainya.
Tak terasa, waktu sudah siang. Pricil merasa kakinya semutan kelamaan duduk bersila. Ia meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya. Azan zuhur pun berkumandang.
Pricil melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan hendak menutup pintu. Namun sebuah suara menghentikan gerakan tangannya.
"Sil, kamu nggak makan?" tanya Chandra yang muncul arah samping menuju arah pintu yang akan Pricil tutup.
"Nanti aku makan, sekarang mau sholat dulu" jawab Pricil sambil membalik badannya. Ia akan menyimpan buku bacaannya ke kamar.
"Langsung ke rumah ya," ucap Chandra dengan lembut sembari menutup pintu dari luar. Chandra pun kembali ke rumahnya.
***
Usai makan siang, Pricil kembali ke rumah bibinya dan ngangkrem di dalam kamar. (Di kira ayam apa yak!! ). Sebuah pesan masuk ke aplikasi hijaunya. Pricil segera membuka pesan tersebut.
Salah satu sahabatnya yang bernama Wina menanyakan kabar kakinya yang cidera kemarin karena Wina sangat khawatir. Pricil membalas dan mengatakan bahwa ia sudah baikan. Karena memang sudah tidak sakit lagi, minyak herbal yang di gunakan kemarin ternyata ajaib.
Setelah itu, Pricil berniat untuk tidur siang. Habis makan dan perut terisi, kenyang membuat matanya mengantuk. Ia menguap sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya sebelah kanan.
Alam mimpi kini hadir di hadapannya untuk merasuk ke jiwa seorang gadis yang berbaring miring ke kanan. Tangannya memeluk erat sebuah guling. Pintu kamar tertutup serta di kuncinya dari dalam sebelum ia merebahkan tubuhnya.
Saat sedang nyenyaknya tidur, Pricil kaget mendengar suara hujan yang tiba-tiba turun di atap seng rumah. Hujan yang butirannya besar-besar, memang belum lebat. Tapi suaranya yang pletak pletek bersahutan membuatnya segera sadar dengan sesuatu.
Pricil segera bangkit dengan secepat kilat dan membuka pintu kamarnya. Ia berlari menuju pintu kebelakang.
"Jemurankuuu!!"
Dengan gerakan seribu bayangan, Pricil selesai mengambil pakaiannya di jemuran. Untung masih bisa di selamatkan dari tetesan hujan.
__ADS_1
Setelah menutup pintu belakang, ia ngos-ngosan bagai di kejar oleh pangeran berkuda.
"Huuhhhf" Pricil menghembuskan nafas penuh kelegaan. Lalu ia membawa pakaiannya ke dalam kamar untuk di lipatnya.