Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Kemaleman


__ADS_3

"Hangat!" celetuk Pricil ketika lengan kokoh milik sang paman melingkari perutnya yang rata dan tubuhnya yang mungil.


Pricil menumpukan tangannya diatas tangan pamannya, ia membalas pelukan itu. Dan Chandra pun makin mempererat lengannya ditubuh mungil itu, ia kecup puncak kepala Pricil dan ia hirup dalam-dalam aroma rambut yang wangi milik keponakannya. Chandra sangat meresapi dan menikmati momen yang baru pertama kali ia lakukan dengan perempuan. Entah dorongan darimana yang membuat ia berani dan nekat melakukan hal tersebut.


Pricil memejamkan matanya merasakan sensasi hangat yang menyergap tubuhnya, karena angin malam yang dingin menyapa tubuh mereka, membuat keduanya terhanyut dalam dekapan. Setelah itu, Chandra merenggangkan pelukan itu dan membalik tubuh Pricil secara perlahan untuk menghadap kearahnya, ia mulai membelai dengan lembut pipi Pricil dan tatapan matanya begitu lekat dan mengunci satu sama lain. Chandra mendekatkan wajahnya dan menyatukan keningnya dengan kening sang keponakan. Lalu dirangkum wajahnya dengan tangannya, lalu ia hendak mendaratkan kecupan dikening Pricil. Namun suara seseorang menghentikan kegiatan mereka.


"Serasa dunia milik berdua... yang lainnya mah ngontrakk..." seru salah satu pengunjung yang kebetulan melewati posisi mereka. Dengan gerakan cepat, Chandra melepaskan diri dari tubuh mungil itu, dan keduanya dengan reflek menjaga jarak. Chandra menatap punggung orang yang barusan melewatinya itu dengan menyipitkan matanya. Karena orang itu hanya kebetulan lewat, dan tidak saling kenal.


Pricil jadi salah tingkah, 'bodohhnya kamu Sil, bisa-bisanya kamu terbuai dan terhanyut dengan perlakuan pamanmu. Dia itu mesyum, ngerti kamu' batin Pricil sambil mengetuk kepalanya sendiri.


"Paman, ayo, kita pulang. Disini udah sepi banget. Nanti malah ada begal, aku belum mau mati!" Pricil mengayunkan langkahnya terlebih dahulu didepan Chandra. Ia melangkahkan kakinya dengan lebar-lebar. Dan, dengan segera Chandra mensejajari langkah Pricil yang tidak selebar langkah miliknya.


"Tunggu dong, Sil. Nanti kalau kamu duluan yang dibegal gimana, karena kamu jalan duluan dan ninggalin aku dibelakang" gerutu Chandra dan masih terus melangkah. Sementara Pricil memilih tak menanggapi ucapan sang paman, karena kalau ditanggapi tidak akan pernah selesai dan berujung debat.


Sambil terus melangkah dengan posisi beriringan, tak ada yang mengeluarkan suara. Hingga sampai ketempat dimana ia menaruh motornya tadi. Suasana pengunjung memang sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa pedang yang sedang memberi barang dagangan mereka untuk dibawa pulang.


"Udah jam berapa ini paman, kok tinggal motor paman sendiri yang parkir disini," ucap Pricil sambil mendekat ke kendaraan milik pamannya, kang parkirpun sepertinya sudah pulang atau bahkan sudah bobok cantik dirumahnya.

__ADS_1


Chandra melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, seketika matanya melotot setelah melihat angka didalam benda bulat kecil itu, 'mati aku, kena omel nih sama kakak ipar!!' Chandra membatin dan segera merogoh kantongnya untuk mencari kunci, setelah itu ia dengan cepat memutar motornya dan menyuruh Pricil segera naik.


"Ayo, Sil. Kita kemaleman!" ucap Chandra dengan nada panik.


"Emangnya udah dini hari ya," dengan tampang polosnya Pricil menanggapi kepanikan pamannya. Mereka kemudian meninggalkan area jembatan tersebut dan menuju arah rumah mereka. Jalanan sudah terasa sepi. Pricil merasa kedinginan dibelakang sana, ia memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya. Giginya gemelutuk karena kedinginan, Chandra melirik dari kaca spionnya dan melihat Pricil yang sedang menahan dingin. Ia menepikan motornya dan berhenti di pinggir trotoar.


"Turun bentar, Sil. Aku mau ambil jaket didalam bagasi" perintah Chandra setelah mematikan mesin motornya, Pricil pun menurut saja. Chandra meraih jaket tersebut dan memakaikan ketubuh sang keponakan. Setelah jaket itu terpasang, Pricil mulai merasa hangat dan dinginnya berkurang. Mereka kembali melajukan motornya membelah jalanan yang sudah sepi, "Sil, pegangan ya, aku mau ngebut nih. Biar kita cepat sampai rumah" Pricil memegang pinggang Chandra untuk berpegangan.


"Yang erat, Sil, nanti kamu jatuh." Chandra menarik lengan Pricil untuk melingkari perutnya , dan Pricil menurut lalu melingkarkan kedua tangannya. Chandra dengan segera tancap gas.


Chandra mengetuk pintu rumah kakaknya dengan hati-hati, rumah sudah sepi dan lampu yang sudah dimatikan, jadi gelap. Tak lama kemudian terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka, lalu lampu dinyalakan.


Chandra menyuruh Pricil masuk, kemudian ia menyusul masuk. "Dari mana kalian, jam segini baru pulang!" ucap Arya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Maaf kak, aku tadi ngajak Sisil main kejembatan. Nggak sadar kalau udah kemaleman," ucap Chandra sedikit menunduk.


"Kita bahas besok saja, kakak ngantuk. Kamu balik sana kemrumahmu" usir Arya sambil mengibaskan tangannya, matanyapun enggan di buka.

__ADS_1


Chandra menurut, ia keluar dari rumah kakaknya dan balik kerumahnya sendiri. Dengan segera Arya kembali mengunci pintu dan mematikan lampu. Ia segera kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu. Saat Arya naik kembali ketempat tidurnya, Cahyani terbangun. Ia membuka matanya dan bertanya, "kenapa kak?" ia menatap suaminya yang merebahkan tubuhnya.


"Chandra baru pulang, dia membawa keponakannya hingga selarut ini" ucap Arya sambil kembali memejamkan matanya.


"Ya udah, besok kakak nasehati dia. Nanti kalau terjadi apa-apa sama Pricil, kita yang salah. Kasian orang tuanya" ucap Cahyani yang kembali memejamkan mata. Tak ada lagi sahutan dari ucapan Cahyani, karena memang benar-benar mengantuk. Mereka kembali terlelap menjemput mimpi indahnya.


Sementara didalam kamar, Pricil matanya masih ketap ketip tidak bisa tidur. Masih berputar-putar dikepalanya bayangan tentang pelukannya tadi. Biasanya kalau orang yang baru dipeluk seperti itu akan dag dig dug jantungnya. Tetapi ia biasa-biasa saja.


'Ayo dong, tidur Sil. Ini udah malem banget, besok kamu sekolah loh. Jangan mikir yang macem-macem' Pricil membatin.


'Ini gara-gara paman sih, coba nggak peluk-peluk aku tadi. Pasti aku udah tidur nih sekarang!' gerutunya sambil membalik badannya ke sebelah kiri.


Jadi, si Pricil sedang kepikiran terus gara-gara kejadian tadi, tapi tidak seperti yang orang-orang katakan. 'Katanya kalau kita kepikiran dengan sesuatu yang berhubungan dengan cowok itu dibilang lagi jatuh cinta. Tapi, Pricil tidak gerogi, tidak deg-deg'an atau yang lain-lain. Cuma susah ngilangin ingatan kejadian.'


'Apakah itu juga termasuk dalam kriteria jatuh cinta, pasti tidak dong. Tidak termasuk sama sekali.' Pricil berperang dengan batinnya.


Setelah lelah mengerumuni tubuhnya, dan mencoba berpikir dengan logikanya, Pricil dapat terlelap dengan damai. Ia membuang semua pikiran-pikiran yang ada dikepalanya.

__ADS_1


__ADS_2