Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Menguntit


__ADS_3

"Hay, Bunny...." sapa Angga setelah ia duduk di samping Wina. Wina yang terkejut saat di panggil Bunny langsung menoleh.


"Angga... kamu ngagetin tauk!" ucap Wina sambil memukul pelan lengan Angga.


"Hehehe, boleh numpang gabung disini ya kakak-kakakku yang ca'em" Angga sembari merayu.


Pricil hanya memutar bola matanya malas, ia memilih mengamati Putri yang sedang berjalan menuju kearah mereka sambil membawa nampan berisi makanan.


Putri yang baru bergabung melihat Angga sudah bertengger disisi Wina celingukan mencari seseorang, "mana Tio? kok kamu sendiri Ga?"


"Oh, Tio... dia lagi," Angga menoleh kebelakang untuk melihat Tio di meja yang tadi ia tempati. Namun tak menemukannya disana.


"Tadi ada di ujung sana kak, tapi udah ngilang. Mungkin dia ngumpet" ucap Angga asal bicara sambil melanjutkan menyuap makanannya yang hanya tinggal sesedok.


"Oh, ya udah. Yuk mari kita makaann" Putri mengalihkan pandangannya ke piring makanan. Mereka mulai makan disaat jam pelajaran belum usai, hingga berbunyi bel istirahat.


"Jadi, tadi pada bolos nih kak ceritanya," tanya Angga sambil mengikuti jejak langkah kakak kelasnya.


"Enggak bisa dibilang bolos sih, kita dikasih tugas. Dan duluan ngumpul, makanya bisa cepet kekantin" jawab Putri.


"Oh, nih mau kemana kak. Aku ikut ya," ucap Angga yang masih terus mengekori langkah mereka bertiga.


"Kami mau ke perpus, baca novel" jawa Pricil, Angga hanya menganggukkan kepala.


Sementara itu, Tio yang diam-diam masih menatap kepergian teman dan kakak kelasnya dari balik etalase kue dikantin, kemudian ia mengikuti arah tujuan mereka.


Ke Empat remaja itu sedang menaiki tangga menuju perpustakaan, setelah sampai mereka langsung membuka sepatu dan meminta izin untuk meminjam buku bacaan.


"Seperti biasa ya guys, kita duduk dipojokan!" ucap Putri sambil berjalan mengarah ke meja disudut belakang, dan kemudian diikuti oleh teman-temannya.


Mereka duduk lesehan melingkari meja bundar yang tersedia di perpustakaan tersebut, dengan memegang masing-masing buku yang ingin mereka baca.


Terlihat oleh Tio, mereka sedang asyik bersenda gurau sambil sesekali menunjuk lembaran kertas yang mereka baca. Tio hanya duduk dikursi koridor luar perpustakaan. Sesekali ia mengintip dari balik kaca jendela itu, ingin bergabung tapi males.

__ADS_1


Hingga bel tanda istirahat berakhir berbunyi, ke Empat remaja itu segera mengembalikan buku yang mereka pakai ketempatnya semula. Sementara Tio, ia segera melangkahkan kakinya menuju kelasnya.


Mereka kemudian masuk ke kelas masing-masing, Tio yanh sudah duduk bertengger di bangkunya menatap Angga yang sedang menuju ketempatnya.


"Dari mana aja kamu, udah lupa kalau kamu punya teman dikelas ini." Sarkas Tio sambil melirik Angga yang meletakkan pantatnya di kursi.


"Lah, kamu yang ngilang duluan kok. Malah nyalahin aku sih, aneh deh!" Angga berkilah.


"Makanya, jangan nempel terus ama tu cewek. Sampe-sampe sahabatnya silupain." Tio merajuk.


"Heheh, sorry deh. Kamu tu tadi aku cariin tapi ngilang, ya udah. Jadinya aku ikut mereka ke perpustakaan." Jawab Angga sambil nyengir.


"Humm" Tio hanya berdehem, tak ingin lagi mendengarkan cerita Angga. Mereka mulai mengikuti mata pelajaran jam terakhir hingga usai.


***


Diparkiran, motor berjubel dan berdesakkan saling ingin duluan keluar. Angga dan Tio sedang berdiri dibawah pohon untuk menunggu kelonggaran parkiran. Sambil memainkan botol minuman yang isinya tinggal seteguk.


Lewatlah ketiga kakak kelasnya itu melewati pandangan mereka, karena masih ramai, jadi mereka tidak melihat sosok yang sedang berdiri dibawah pohon tersebut.


Setelah itu, mereka kembali berjalan beriringan. "Oh, ya bagus kalau gitu, Put. Kamu bisa lebih cepet sampe kesekolah dan pulang sekolah" ucap Pricil.


"Iya, Put. Kita nggak apa-apa hanya berdua pulang bareng. Walaupun, aku juga sering dijemput." Ucap Wina.


"Iya, kirain kalian bakal marah kalau kita nggak bisa pulang bareng lagi,"


"Santai aja lah Put, pokoknya kita akan selalu bersahabat dengan baik. Meskipun banyak hal yang mungkin akan memisahkan kebersamaan kita ini nantinya" ucap Pricil dengan bijak.


"Setuju!" Wina dan Putri serentak berucap, lalu mereka naik ke angkot yang sudah tiba dan berhenti dihadapan mereka.



Pukul 13:30 siang, Putri, Pricil, Wina, Angga dan Tio sudah berkumpul dirumah bu Lisa. Mereka sudah mengenakan baju ganti, mereka kini sedang berada diruangan tempat penyimpanan barang-barang milik bu Lisa, sementara diluar. Dihalaman rumah bu Lisa, ada para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda.

__ADS_1


"Semua barang-barang di ruang depan sudah di pindah kesini semua kan anak-anak" seru bu Lisa kepada anak muridnya.


"Sudah bu," jawab Putri.


"Baguslah, semua barang-barang sudah beres. Jadi, besok kalian bisa istirahat dirumah. Hari ini hanya bersih-bersih saja ya." Ucap bu Lisa, dan di angguki oleh para muridnya.


Bu Lisa memberi tugas masing-masing kepada mereka, ada yang bagian dapur, kamar, ruang tamu dan Tv. Karena memang bu Lisa tinggal dirumah besar itu sendiri, barang-barang peninggalan milik kedua orang tuanya masih bagus, hanya saja butuh perawatan.


Sedangkan waktu itu, bu Lisa tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, melainkan memilih tinggal di kost'an miliknya yang sudah ia bangun sendiri dengan jerih payahnya. Hanya Tujuh pintu. Masih sedikit, tetapi sudah menghasilkan. Kini ia akan menikah, dan menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya.


Orang tuanya pindah ke Malaysia, dan akan berangkat ke jambi nanti malam. Urusan bisnisnya baru rampung siang ini.


Di dapur itu, Wina dan Putri sedang membersihkan peralatan yang dibutuhkan untuk acara esok, bu Lisa memang menggunakan jasa catering untuk makanannya, mungkin peralatan yang sedang dibersihkan itu hanya untuk cadangan. Pricil, sedang merapikan isi lemari hias yang ada diruang tamu. Sedangkan Angga menyapu ruangan, dan Tio kebagian mengepel.


Pukul 16:00 pekerjaan mereka selesai, dan kini mereka sedang menikmati Pizza yang dipesankan oleh gurunya untuk mereka makan bersama, dengan duduk diatas karpet. Mereka makan dengan lahap, dan tinggal Satu potong Pizza didalam kotak tersebut. karena mereka makan sambil mengobrol, hingga tak terasa makanan itu telas ludes.


Tangan Pricil akan mengambil sisa Pizza yang tinggal sepotong itu, karena memang dia baru makan sepotong dan itu jatah dirinya yang kedua. Masing-masing telah memakan Dua potong.


Tangan yang hampir menyentuh potongan Pizza itu, dengan gerakan kilat. Tio menyomot makanan itu terlebih dahulu, dan dengan segera ia menggigitnya.


Serentak, mereka yang melihat langsung berseru. "Woyy!!"


"Itu bagiannya kak Pricil Yo! kamu maen samber aja" ketus Angga.


"Bodo'!!"ucap Tio yang sudah melahap Pizza itu, sementara Pricil hanya menatapnya tanpa minat.


"Badan aja yang kecil, ternyata makan kamu banyak" celetuk Putri.


"Kakak baru sadar" ucap Tio yang sudah menelan habis makanannya.


Mereka hanya menggelengkan kepala. Usai makan, mereka berpamitan kepada bu Lisa untuk pulang kerumah. Bu Lisa dengan segera memberikan amplop berisi uang jajan untuk mereka, dan sangat berterimakasih.


"Kami pamit ya bu, terimakasih"

__ADS_1


"Ya, hati-hati ya kalian" ucap bu Lisa melepas kepulangan mereka.


__ADS_2