
Hotel Queen
Tepat di hari minggu, seperti janji sebelumnya, Putri dan kawan-kawan sudah bersiap untuk kembali mengais rejeki di hotel Queen. Acara wedding chinese. Bukan sebagai tamu ya, tetapi sebagai waithers.
Terlihat segerombolan anak remaja yang berasal dari sekolah SMA terpilih memasuki Ballroom hotel dengan pakaian hitam putih dan mengenakan dasi kupu-kupu. Remaja perempuan rambutnya di gelung rapi dan di bungkus dengan hairnet. Mereka langsung masuk ke ruangan khusus HRD dan di berikan rompi seragam khusus dan ada warna tersendiri untuk laki-laki dan perempuan. Mereka akan meeting sebentar sebelum melakukan pekerjaan. Di sana sudah ada supervisor yang akan memandu mereka.
Mereka kini sudah berjajar rapi untuk mendengarkan pengarahan dari sang supervisor. Sebelumnya melakukan absen terlebih dahulu. Satu persatu nama-nama mereka di akan sebutkan tanpa terkecuali.
"Selamat sore semuanya" pak Dedy menyerukan suaranya.
"Sore..." ucap mereka kompak.
"Selamat datang untuk kalian semua, baik yang baru dan yang sudah sering ikut di acara seperti ini. Kali ini kita kembali bertemu di acara wedding ciatok, acara akan di mulai dari jam tujuh hingga jam sebelas malam atau hingga selesai. Ada dua belas menu ya," lanjut pak Dedy menerangkan.
"Baiklah, saya akan mengabsen terlebih dahulu kehadiran peserta DW kita yang nanti akan membantu meringankan pekerjaan kita di sini" pak Dedy meminta buku catatan kecil ke HRD tentang absensi. Setelahnya mulai menyebutkan satu persatu. Di mulai dari Putri, Wina, Pricilia, Tio, Angga, Abdul, Rizky, Rifa'i, Dewi, Muna, dan berikut-berikutnya.
"Saya akan membagi menjadi dua kelompok, yang pertama di bagian khusus meja tamu menu muslim dan yang kedua di meja menu non muslim" pak Dedy menjeda sejenak, "nah, untuk di bagian kelompok satu akan di koordinir oleh kak Eka, dan kelompok kedua akan di koordinir oleh kak Winda. Tapi kita tetap kerja sama, karena di bagian menu muslim tidak banyak, hanya seratus undangan. Jadi yang masuk ke kelompok satu di harapkan bisa membantu kelompok dua. Karena di kelompok dua tamunya lebih banyak" terang pak Dedy panjang lebar.
"Sekarang kita set up dulu, setelahnya kita semua makan. Setelah selesai makan kita semua langsung stanby di ruangan" lanjut pak Dedy.
"Semuanya sudah siap!!" seru pak Dedy dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Siap pak!" jawaban kompak dari crew.
"Selamat bekerja. Semangat!!" setelahnya mereka mulai menuju ruangan yang akan di set up.
Untuk remaja lelaki bertugas memasang kaca bundar di masing-masing meja di bantu tim, sedangkan untuk yang perempuan, sebagian ke ruangan banquet dan mondok di sana untuk lap-lap peralatan dan sebagian lagi ke ruangan tamu untuk set up peralatan makan.
Pricilia dan teman-teman yang lain mulai menenteng keranjang berisi chili disk, chop stik dinner spoon serta perlengkapan lainnya dan mereka dengan kompak menata dengan rapi di setiap meja dan selaras dengan kursi. Untuk dinner plate dan tumbler glass, water goblet bagian laki-laki yang membantu mengangkat. Dan di susun oleh kelompok perempuan. Setelah selesai menata di setiap meja, mereka langsung bergegas menuju tempat makan khusus karyawan.
Mereka makan bersama dengan teratur dan tertib. Waktu istirahat satu jam mereka gunakan dengan sebaik mungkin. Setelah selesai maghrib, mereka sudah mulai stanby di tempat masing-masing yang sudah di tetapkan di awal.
Suasana perlahan-lahan mulai ramai dari sang pemilik acara berikut dengan buntut-buntutnya. Tamu undangan pun mulai memenuhi ruangan pesta dan menempati kursi masing-masing. Satu meja terisi satu anggota keluarga sejumlah sepuluh orang.
Acara pun di mulai dari kata sambutan hingga acara puncak yang di nanti-nanti. Semua hadirin mulai berdiri dan mengacungkan gelas masing-masing. Mereka bersulang. Tak lama kemudian menu hidangan di keluarkan sesuai dengan daftar menunya.
Suasana begitu meriah, ruangan yang tadinya begitu dingin kini sudah mulai berkurang dinginnya. Namun, pihak hotel memang sudah mengatur semuanya jadi tidak ada yang namanya kepanasan.
Tak terasa waktu terus bergulir hingga acara usai, para tamu sudah mulai sepi. Hanya tersisa tuan rumah yang masih sibuk mengumpulkan sisa minuman mereka dan menghitungnya dengan teliti.
Para anak DW mulai membereskan meja-meja, membersihkan karpet, dan menyusun peralatan, serta mengembalikan ke ruang banquet. Hingga semua bersih dan rapi seperti sedia kala.
Kini para anak DW tersebut sedang keluar menuju post scurity untuk melakukan pemeriksaan. Takut ada yang membawa barang-barang dari hotel tersebut. Namun, semua aman terkendali.
__ADS_1
Mereka duduk berkumpul jelang mobil dari pihak hotel mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing. Saat ini jam sudah menunjukkan angka 23.30 wib.
"Ke arah rumah siapa yang paling dekat dari sini? Berikan arahan ya," seru abang sopir dari pihak hotel menghentikan mobilnya tepat di hadapan mereka. Kemudian satu persatu mereka naik.
"Rumah saya bang," seru Angga.
"Setelah itu rumah saya bang," lanjut Tio.
"Oke, sekarang kita berangkat. Hari sudah larut, pasti orang tua kalian sudah pada tidur" ujar abang sopir.
Di dalam gelapnya ruangan mobil dan lelah tubuh mereka, membuat mereka duduk asal dapet posisi. Ternyata, Tio dan Pricil duduk berdempetan. Mata yang mulai mengantuk harus di melek-melekin. Tubuh Tio menyandar ke sandaran kursi. Perlahan, mobil sudah melaju menuju arah rumah Angga. Mata Pricil yang sudah sejak tadi di ampet, akhirnya terlelap. Mobil yang bergoyang saat melewati polisi tidur menjadikan kepalanya jatuh ke bahu Tio. Merasa ada beban yang menimpanya, Tio membuka matanya dan di tatapnya wajah seseorang yang nemplok di bahunya dalam keremangan.
Sudut bibirnya mencuat ke atas mengetahui siapa gerangan yang sudah berani nemplok di sana. Tio merenggangkan bahunya agar lebih nyaman untuk di jadikan sandaran. Dan ia menatap lurus ke arah jalanan sesekali ia menghirup aroma rambut wangi Pricil. Terasa wangi shampo H&S.
Setelah lima belas menit perjalanan, kini sampailah di pekarangan rumah Tio. Dan ia membangunkan Pricil yang tertidur nyenyak di bahunya.
"Lia, bangun! Aku udah sampe. Kamu lanjut tidurnya nanti kalo udah sampe rumah. Bahu aku mau ku bawa pulang" ucap Tio lembut, tepat di telinga Pricil. Sontak membuat Pricil langsung menegakkan kepala dan mata melek sempurna.
"Kamu??" ucap Pricil dengan tegang.
Tio hanya tersenyum dan ia mulai bergerak untuk turun dari mobil. Sedangkan Pricil, wajahnya sudah memerah karena malunya nggak ketulungan. Ia merutuki dirinya sendiri karena begitu ceroboh.
__ADS_1
'Dia pasti cari kesempatan dalam kegelapan. Arrggghh!!' kesal Pricil dalam benaknya dan ia merangkum wajahnya sendiri.