Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Dikunjungi ibu


__ADS_3

Mereka berpisah diluar halaman rumah bu Lisa, karena sebagian sudah terisi oleh tenda.


"Kak, aku anter kakak ya biar nggak usah naik angkot" ucap Angga kepada Wina yang sedang berjalan berurutan di gang.


"Kalo kamu pulang sama Wina, aku sendirian dong naek angkotnya Ga" keluh Putri.


"Ya udah, kita bonceng Tiga aja. Kan sama-sama menuju keterminal" ucap Angga memberi ide.


"Boleh nih," ucap Putri.


"Boleh dong kakakku, ayo naik" perintah Angga.


"Pric, kami berdua ikut Angga ya. Kamu nggak pa pa kan?" tanya Putri.


"Iya, duluan aja. Rumah kalian kan jauh, aku cuma deket sini. Mau jalan kaki atau naik kendaraan juga bisa cepet sampe" ucap Pricil.


Tio yang berada dibelakang motor Angga ikut berhenti, karena Angga menghentikan lajunya.


"Yo, kamu anter kak Pricil ya. Kasian kalo dia jalan keluar gang sendirian buat nunggu angkot" seru Angga dari depan.


Tio pura-pura tidak mendengar, setelah Angga membonceng Wina dan Putri, ia melajukan motornya.


"Pric, kamu sama Tio ya. Maaf, kami duluan" ucap Wina sambil menatap Pricil. Ia hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Pricil terus melangkahkan kakinya keluar lorong menuju jalan besar, sementara Tio masih diam ditempatnya berhenti tadi. Setelah motor Angga jauh dari pandangan, barulah ia kembali menjalankan mesinnya pelan. Setelah dekat dengan jarak Pricil ia berhenti, namun Pricil masih terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh. Tio kembali menjalankan pelan motornya mengiringi langkah kaki Pricil.


"Mau bareng nggak?" tanya Tio dengan muka datar.


"Nggak, makasih. Duluan aja" tolak Pricil dengan datar juga. Karena lorong tersebut sepi, Tio langsung memajukan motornya dan menghadang langkah Pricil dengan motornya yang melintangi jalan. Pricil langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam ke arah Tio.


"Awas! orang mau lewat" ucap Pricil dengan sinis.


"Naik dulu, baru aku jalan!" jawab Tio dengan sengit.


"Kok maksa!"


"Ayo cepet!" perintah Tio dengan tegas.


Sesaat, Pricil menurunkan bahunya sambil menghembuskan nafas lelahnya. Capek debat sama si jutek es batu ini.


"Ya udah, lurusin dulu posisinya" jawab Pricil dengan ketus.


Tio meluruskan poisisi motornya, kemudian Pricil memegang bahu Tio untuk naik keboncengan, karena ia memakai rok panjang. Ia menaikkan roknya hingga dapat mengangkangi jok motor tersebut.

__ADS_1


Tanpa disadari,Tio tersenyum kecil saat Pricil duduk dibelakangnya. Lalu ia melajukan motornya menuju jalan besar.


"Arah kemana nih?" tanya Tio yang siap menyebrangi jalan,


"Kanan" ucap Pricil singkat. Tio mengikuti arah yang disebut Pricil.


"Nanti masuk kelorong di deket SD sebelah kanan" intstruksi Pricil saat sudah mulai dekat dengan lorong rumahnya.


Tio terus melajukan kendaraannya hingga sampai dilorong yang dimaksud, setelah berbelok ia terus melajukan motornya dan berhenti didepan rumah cat Putih dan ada pohom belimbing dihalaman rumah tersebut.


Pricil belum sempat memberinya instruksi tapi, Tio sudah tahu akan tujuannya, ia mengerutkan dahinya karena bingung. 'Kok dia tahu aku tinggal disini, perasaan kemarin enggak ikut nganterin aku pulang deh?' Pricil membatin.


" Turun! kok malah diem," perintah Tio ke Pricil yang tak ada pergerakan di boncengan belakang.


"Kok kamu tahu ini rumahku??" selidik Pricil sambil menurunkan kakinya dari pijakan motor dan kemudian turun dengan sempurna.


Tio terdiam. Ia tak ingin menjawab, lalu langsung menjalankan mesin motornya dan meninggalkan Pricil begitu saja.


"Iiih, aneh tu orang!" ucap Pricil sambil menatap punggung yang sudah bergerak menjauh darinya. Ia pun tak ingin memikirkannya, ia segera mengayunkan langkahnya untuk masuk kerumah.


"Assalamulaikum" ucap Pricil sambil masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam, Sil, ada ayah sama ibukmu dirumah nenek" ucap paman Arya yang sepertinya baru pulang dari bekerja.


"Yang benar paman??" tanya Pricil dengan hati senang. Pamannya itu mengiyakan, dan melangkahkan kakinya untuk pergi kerumah mertuanya.


Sesampainya disana, ia langsung menyalami ayahnya dan memeluk ibunya.


"Aku kangen bu" ucap Pricil sambil mengeratkan pelukannya, ibunya pun membalas pelukkan itu dengan penuh kasih sayang, ia mengelus dengan lembut punggung putrinya.


Setelah beberapa saat, mereka melepas pelukkannya satu sama lain. Lalu mereka mengobrol bersama.


Pricil asyik bercerita bersama ibunya, dia juga menanyakan kabar adik-adiknya. Sementara ayanhnya asyik bercerita bersama nenek serta paman dan bibinya.


"Kamu sekarang sambil kerja ya nduk kalo habis pulang sekolah?" tanya bu Mawar orang tua Pricil.


"Iya bu, boleh kan kalau aku nyambil?" tanya Pricil.


"Boleh aja, tapi tetap ingat. Sekolahmu dinomor Satukan ya nduk, jangan ngoyo." Ibu memberi nasehat.


"Iya bu, aku akan imbangi waktu sekolah dengan waktu mencari hiburan diluar" jawab Pricil dengan tersenyum.


"Oh ya, kemaren bude Siti nitip salam buat kamu, katanya rindu" ucap bu Mawar kepada Pricil.

__ADS_1


"Wahh, ada yang merindukan aku disana bu, salam balik buat bude ya bu.Aku juga rindu" ucap Pricil.


"Iya, oh ya nduk. Ibu nggak bisa lama-lama ini, kasihan adik-adikmu dirumah,"


"Yah, baru juga sebentar bu" Pricil tidak rela, karena masih rindu.


"Besok kalau libur sekolah, kamu pulang aja minta paman yang anterin."


"Iya bu, salam buat adik-adik ya bu, aku juga merindukan mereka," Pricil kembali memeluk ibunya.


"Iya, kamu belajar yang rajin ya, ingat pesan ibu" ucap bu Mawar mengingatkan putrinya.


"Aku akan ingat, bu. Makasih ya bu, ibu sudah menyempatkan waktu untuk nengokin aku" Pricil melepaskan pelukannya.


Setelah itu, ibunya memberikannya sangu. Pricil menyimpannya kedalam kantong roknya. Ia menghampiri ayahnya dan memeluknya sebentar sebelum mereka berpamitan.


"Ayah jaga kesehatan ya," ucap Pricil setelah melepas rangkulannya.


"Iya, kamu disini yang nurut" pesan Ayah untuk Pricil.


Setelah itu, kedua orang tua Pricil berpamitan pulang sebelum hari gelap. Karena perjalanan lumayan jauh. Pricil kembali kerumah bibinya, sementara paman dan bibinya masih setia melanjutakan obrolan.


Saat Pricil sudah masuk kedalam rumah, tiba-tiba paman jomblonya itu menyusulnya.


"Sil," suara Chandra memanggilnya.


Pricil langsung menoleh kebelakangnya, "loh! paman darimana? kok tadi nggak keliatan?" tanya Pricil sambil duduk ruang belakang.


"Tadi bersemedi" jawabnya singkat.


"Owh..." jawab Pricil. "Aku mau mandi dulu ya, lengket rasanya" Pricil berdiri dan akan melangkahkan kakinya.


:Tunggu," Chandra menahan langkah Pricil dan menggenggam lengannya. Pricil mengurungkan langkahnya, dan melepaskan genggaman tangan pamannya.


"Ada apa, paman?" tanya Pricil sambil menatapnya dengan bingung.


Chandra ikut berdiri, dan Pricil mendongak untuk melihat apa yang akan di lontarkan oleh pamannya.


"Tadi pulang sama siapa?" tanyanya dengan penuh selidik.


"Sama temen" jawabnya Picil dengan santai.


"Yakin?" Chandra menatap Pricil dengan tatapan yang Pricil sendiri enggak ngerti.

__ADS_1


"Yakin, malah aku tadinya males pulang bareng sama dia. Orangnya nyebelin, sama kayak paman sekarang. Sama-sama nyebelin" Pricil berlalu sambil mengejek Chandra dengan memeletkan lidahnya.


"Eh!! kamu ya."


__ADS_2