
Pasangan couple'an ini sedang berjalan memasuki tempat pesta pernikahan Lisa dan Satria. Terpampang di pintu masuk foto pasangan pengantin yang mengenakan pakaian serba Putih.
Pasangan antara paman dan keponakan yang terlihat serasi ini tak lain dan tak bukan adalah Chandra dan Pricilia. Terlihat sangat cocok, kini mereka sedang duduk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Pricil sedang menatap ke sekeliling para tamu undangan yang hadir, ia sedang mencari keberadaan para sahabatnya. Pesan yang dikirmkan oleh Putri mengatakan bahwa mereka sudah berada di tempat pesta.
"Kamu nyari siapa, Sil?" tanya Chandra yang penasaran dari tadi melihat sang keponakan menatap ke sekeliling ruangan.
"Nyari temen-temen aku, kok nggak keliatan ya. Katanya udah pada disini juga" jawab Pricil tanpa mengalihkan pencariannya. "Nah itu mereka," akhirnya kelihatan yang di nanti-nanti.
Para sahabatnya sedang menikmati minuman dingin air pengantin. Karena tadinya tertutupi oleh tamu-tamu yang lain sedang berlalu lalang di sekitaran mereka.
"Paman, aku nyamperin mereka dulu ya," Pricil beranjak dari duduknya.
"Jangan lama-lama ya, nanti balik lagi kesini" titah Chandra yang di angguki oleh Pricil.
Pricil segera berlalu untuk menghampiri para sahabatnya, "hay guys! ya ampun.. cantik-cantik sekali para bidadari SMA Nusa Bangsa ini" ucap Pricil sembari memuji penampilan para sahabatnya.
"Eh, kamu, Sil. Wahh, kamu juga cantik banget loh. Nanti kita foto bersama ya" seru Putri
"Eh, Sil, kamu udah cobain minuman ini belum? nih!" Wina menyerahkan segelas minuman tersebut ke Pricil. Saat tangan Pricil akan meraih uluran dari tangan Wina, tiba-tiba ada anak-anak yang sedang berlari menghampiri sang ibunda lalu menabrak tubuh Wina. Dan pada akhirnya minuman tersebut tumpah mengenai gaun yang Pricil kenakan. Tepat di bagian pundaknya.
"Akh! ya ampun, Sil. Sorry banget aku nggak sengaja, tiba-tiba anak kecil tadi nyenggol aku" Wina merasa sangat bersalah. Dan ia segera mengambil tissue dari tasnya lalu ingin membersihkan tumpahan minuman yang mengenai gaun Pricil.
"Eh, nggak usah Win, nggak apa-apa. temenin aku ke toilet aja yuk" Pricil dengan gerakan cepat menarik tangan Wina, sebelumnya Wina meletakkan gelasnya ke meja didekatnya. Kemudian ia mengikuti langkah Pricil menuju toilet.
Sesampainya di dalam toilet, Pricil membasuh bagian yang terkena air manis tersebut dengan air bersih, lalu ia mengeringkannya dengan tissue. Beruntungnya warna gaun yang ia pakai berwarna Navy, jadi bisa sedikit tersamarkan basahnya. Namun, masalah baru malah timbul. Akibat dari ia terlalu semangat mengeringjan dengan tissue, malah membuat gaunnya menjadi bertabur warna Putih remahan dari tissue.
__ADS_1
"Yah!!, malah jadi putih-putih begini, Win!" keluh Pricil melihat hasil pengeringannya.
"Yah! terus gimana dong. Aku jadi nggak enak samackamu nih!" Wina merasa sangat bersalah.
"Udah, Win, kamu nggak salah. Aku sebaiknya pulang aja deh"
"Masak pulang, Pric, aku akan cari bantuan. Bentar ya. Kamu jangan kemana-mana dulu. Tunggu aku disini sampai aku kembali, oke!!" Wina buru-buru keluar dari toilet untuk mencari sesuatu yang bisa membantu sahabatnya tetap bisa berkumpul bersama dengannya.
"Loh, mana Pricil nya, Win? gimana dia? kok kamu tinggalin!" Putri memberondong Wina dengan pertanyaan karena melihat Wina tak bersama Pricil ketika kembali dari toilet.
"Aku lagi nyari sesuatu yang bisa nutupi bagian basah di gaun Pricil. Pakai apa ya, Put?" Wina mengetukkan jarinya di dagu sembari berfikir.
Pada saat itu, Putri melihat Tio lewat di hadapan mereka. Dan langsung saja ia menghentikan langkahnya.
"Tio!" panggilan dari Putri menghentikan langkahnya. Kemudian Tio menghadap ke arah Putri, "ada apa kak?" tanyanya dengan bingung.
"Kakak mau minta tolong sama kamu, bisa ya?" dengan nada sedikit memaksa. Dan hal itu membuat Tio mengernyitkan alisnya.
"Ah! jadi begini, aku akan ceritain insiden yang barusan terjadi yang menimpa Pricil.." Wina membuka suara dan ia kemudian menjelaskan kronologi kejadian yang telah menimpa sahabatnya tersebut.
"Terus??" Tio mengernyitkan kembali alisnya.
"Astaga.... Kamu jadi cowok nggak peka banget sih, Tio!!" Putri menjadi geram sendiri.
"Pinjem blazer kamu dong, buat nutupi gaunnya dia yang basah. Astaga...!" Putri dan Wina menepuk jidatnya saking gerammnya.
"Kenapa harus aku?" tanya Tio dengan tampang cueknya.
__ADS_1
"Akh! sudah lah. Sini kamu" dengan terpaksa Wina dan Putri melepas blazer yang di kenakan Tio untuk ia bawa ketoilet.
Setelah berhasil melepaskan blazer dari tubuhnya Tio, Wina dan Putri segera menyusul ke toilet. Setelah melihat kedua kakak kelasnya itu menghilang di balik tembok. Tio tersenyum kecil. Kemudian ia melanjutkan rencananya yang tertunda, yaitu mengambil minuman dingin tersebut.
"Disini kamu rupanya, aku cariin di tempat buah-buahan tadi, malah udah ngilang kesini." Angga datang menghampiri Tio yang sudah meneguk minumannya.
"Eh, kemana blazer kamu, Yo? bukannya tadi masih lengket di badanmu?" Angga melayangkan pertanyaan karena melihat perubahan dari penampilan sahabatnya.
"Di rampok tadi!" jawabnya dengan enteng.
"Rampok?" Angga membeo, mengulangi kalimat yang di lontarkan oleh Tio.
Tak berapa lama, keluar Tiga sejoli itu dari toilet kembali keruang pesta. Angga langsung menatap kearah Pricil yang mengenakan pakaian berbeda. Lalu ia menatap kearah Tio, setelah itu ia baru paham. Kenapa sahabatnya itu mengatakan bahwa dirinya di rampok.
Saat di dalam toilet, Pricil menanyakan pakaian yang di bawakan oleh sahabatnya itu.
"Pinjem dari mana itu, Win? itu kan pakaian cowok? dapet dari mana?" pertanyaan beruntun dilayangkan Pricil.
"Udah, jan banyak tanya, jan bawel, oke, sekarang kamu pake ini dulu!" seru Wina sambil memasangkan blazer tersebut ke lengan Pricil, hingga rapi.
"Wahhh, lumayan pas ternyata, nggak seleboran, badan kamu sama dia kurang lebih aja berarti ukurannya!" puji Putri melihat penampilan Pricil saat ini, dan ia memutar-mutarkan tubuh Pricil beberapa kali untuk memandangnya.
"Kalian ini! di tanya malah nggak dijawab. Punya siapa sih nih? kok aroma parfumnya kayak nggak asing dihidungku ya!" Pricil sangat penasaran, namun tak di tanggapi oleh mereka.
"Dah. Ayo keluar, kita langsung minta foto aja sama pengantin. Biar ada kenangan, cuss!!" Wina dan Putri kompak menggandeng tangan Pricil keluar dari toilet menuju tempat utama.
Saat sudah sampai di mana mereka berkumoul semula, mata Pricil beradu pandang dengan mata Tio. Bukan tatapan kagum, dan tatapan aneh yang di ciptakan oleh Tio terhadap Pricil. Entah lah, seperti perasaan senang, namun tak terlukis.
__ADS_1
Berbeda dengan Pricil, ia malah merasa risih ditatap seperti itu. Ia pun merasa aneh, kenapa ditatap dengan tatapan seperti itu.
'Tio kenapa natap aku kayak gitu sih? apakah aku terlihat sangat aneh dengan penampilan seperti ini' dan Pricil buru-buru mengalihkan tatapannya.