
Chandra melihat keponakannya sedang bergelut dengan buku pelajarannya di ruang depan. Sepertinya itu adalah tempat favorite sang keponakan, setelah dilihatnya Sisil sudah selesai membereskan buku. Itu tandanya ia telah selesai mengeksekusi PRnya. Chandra segera mendekat dan menginterupsi gerakan Pricil.
"Sisil, tunggu!!" ucap Chandra yang langsung muncul di ambang pintu. Setelah ia masuk, Pricil mengurungkan niatnya yang akan kembali kekamarnya.
Mereka duduk di sofa dimana Pricil menghabiskan waktunya membuat tugas di tempat itu. Lalu, Chandra mengutarakan niatnya yang sudah terpendam dari siang tadi.
"Hari minggu besok, mau nggak temenin aku Sil?" tanya Chandra seraya menatap Pricil.
"Mau kemana paman?" tanya Pricil.
"Aku mau pergi keundangan temen aku, dan dia minta untuk membawa partner." Terang Chandra.
"Terus," lanjut Pricil.
"Mau ya temenin pamanmu yang jomblo ini.." Chandra memasang muka melasnya.
"Tapi di hari itu guruku menikah paman, jadi kami sebagai muridnya juga di harapkan hadir untuk memeriahkan pesta pernikahannya." Terang Pricil kepada Chandra.
"Emang dimana rumah guru kamu itu" Chandra sedikit kecewa karena jawaban yang diberikan Pricil tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Di gang Merah Putih yang deket pom bensin," jawab Pricil.
"Loh, kok sama lokasinya dengan undangan milik temanku?" tanya Chandra.
Pricil mengerutkan alisnya mendengar ucapan pamannya itu, "masak sih. Coba lihat dong undangannya paman!" pinta Pricil.
"Tunggu sebentar, aku ambil dulu dirumah" Chandra segera kerumahnya dan mengambil surat undangan miliknya yang diberikan oleh Satria tadi siang.
"Nih, coba kamu lihat."Chandra menyerahkan surat undangan tersebut ke tangan Pricil. Pricil pun menerimnya dan langsung membuka isi tulisannya.
Pricil membuka lembar yang terdapat foto pengantinnya di sana, dan seketika ia langsung mendelik saat tau wajah sang mempelai.
"Loh!! inikan bu Lisa. Kok paman bisa kenal sama guruku??" Pricil semakin penasaran.
"Itu yang mempelai laki-lakinya temen aku Sisil, bukan yang perempuannya." Terang Chandra.
"Oowwhh!!" Pricil hanya ber oh ria setelah mengetahui faktanya.
"Jadi, gimana? mau ya. Ya! ya! ya!" dengan nada memaksa Chandra meminta persetujuan keponakannya itu.
"Hah… gimana ya? aku bingung." Pricil menghembuskan nafas lelah.
"Besok sore kita pergi ya," ajak Chandra.
"Besok sore aku nggak bisa paman, sampai malam Minggu aku sibuk!" terang Pricil.
"Sok sibuk sih kamu ini. Sibuk ngapain??" tanya Chandra dengan nada jutek.
__ADS_1
"Kerja cari Duit dong!" terang Pricil.
"Hufft, ya sudah lah!" wajah kecewa Chandra terpancar dengan jelas.
Pricil yang tak tega melihat raut kecewa diwajah sang paman akhirnya memberi sebuah harapan.
"Senyum dong! hilang nanti aura gantengnya." Ucap Pricil mencoba menghibur.
Dan bukan malah senyum yang diperlihatkan oleh pamannya tersebut, malah menekuk bibirnya ke bawah.
"Tuh kan, tambah jelek deh" Pricil mencoel hidung pamannya.
Saat sentuhan itu melekat dihidungnya, Chandra menahan tangan Pricil.
"Sekarang berani coel-coel ya!!" ucap Chandra yang sudah merubah raut wajahnya menjadi datar.
"Senyum dulu dong!, besok aku temenin. Malamnya kita baru pergi, paman mau ngajakin aku kemana?"
Mendengar pertanyaan tersebut Chandra langsung tersenyum senang.
"Kita cari baju, buat pergi ke pesta besok." Ucap Chandra dengan antusias.
"Oke!" Pricil memberikan persetujuan, tak tega pula ia melihat kejobloan pamannya ini.
"Kenapa paman itu ngejomblonya milih yang ngenes sih?" celetuk Pricil tiba tiba.
"Aduuh! duuh! duuh!!" keluh Pricil karena pipinya pasti kusut.
"Kamu tuh ya, bikin gemes pengen aku telen!" ucap Chandra sambil mengacak rambut keponakannya setelah selesai dengan mengunyel unyel pipi tersebut.
"Iihh, resekk!!!" ucap Pricil dengan jengkel sambil memperbaiki tatanan rambutnya. Setelahnya ia mengelus pipinya yang tadi di kunyelin.
"Hahaha," Chandra tertawa karena berhasil membuat keponakannya itu kesal.
"Udah ah! aku mau tidur aja. Males ngeladenin paman yang resekk ini!!" Pricil segera bangkit dari kursinya. ia merujak, eh merajuk maksudnya.
"Eiitss. Tunggu dulu dong!" dengan gerakan cepat Chandra menarik lengan keponakannya itu hingga jatuh lagi kekursi tempatnya semula mendaratkan bokongnya.
"Apa lagi sih paman!!!" dengan suara yang menggeram sambil menahan kesal Pricil kembali duduk di posisi semula.
Chandra menggengam tangan keponakannya itu dan menatapnya dengan serius. Pricil yang diberikan tatapan seperti itu, langsung terhipnotis. Ia menurut dan melayangkan tatapan yang sama.
Beberapa saat saling bertatapan, Chandra mengeluarkan suara. "Senyum dong cantik!!"
Duuaarr!!!
Suara paman Arya mengagetkan Dua orang yang sedang berpegangan tangan tersebut. Sontak keduanya langsung menarik tangan masing masing.
__ADS_1
"Kalian ini ngapain ribut-ribut??" tanya paman Arya yang terlihat cuek melihat keponakan serta adik iparnya yang berpegangan tangan tersebut. Seperti tidak ada masalah apa apa.
Kedua manusia yang tertangkap basah itu saling memandang lalu beralih menatap ke Arya.
"Ini, paman Chandra ngusilin aku terus!!" Pricil mengadu tentang kelakuan pamannya yang jomblo itu.
Arya menggelengkan kepala, hampir tiap hari mereka seperti itu. Sejak kedatangan Pricil di rumahnya, jadi selalu rame dengan candaan yang diberikan Chandra untuk Pricil.
Arya menganggap Pricil seperti anak sendiri, ia tidak mengkhawatirkan hal apapun.
"Chan, sudah dong. Kasihan keponakanmu itu," Arya menengahi.
"Iya kak, aku cuman senang kalau ada yang bisa aku ajak bercanda" ucap Chandra.
"Bercanda apaan! bercanda kok ngeselin!!" ucap Pricil yang tak terima dengan penjelasan yang di berikan oleh Chandra.
"Sudah! sudah! sekarang, Pricil masuk ke kamar dan istirahat. Sekarang sudah malam. Besok pagi malah kesiangan kamu sekolahnya." Arya memberi peringatan kepada Pricil dengan nada yang tegas.
"Iya paman," Pricil masuk ke kamar. Setelah sampai didepan pintu kamanya, ia kembali.
"Paman, mulai besok aku kerja sambilan setelah pulang sekolah." Ucap Pricil.
"Kerja dimana?" tanya Arya.
"Dirumah ibu guru aku paman, rame-rame kok. Cuma sampe hari Sabtu." Ucap Pricil sembari meminta izin.
"Oh, ya udah nggak apa-apa. Tapi kamu harus hati-hati ya. Jangan sampai kecapekan."
"Iya paman," Pricil masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Sementara di ruang depan, Chandra masih anteng di posisinya. Lalu Arya menghampirinya dan duduk berhadapan.
"Chan, bukan kakak sok menasehati. Tapi kamu harus bisa menjaga batasan kamu, Sisil itu kan keponakan kita. Dia itu masih ABG, masih labil. Sebaiknya kamu jangan seperti tadi."
"Iya kak, Aku nggak ngapa-ngapain dia kok." Terang Chandra.
"Nggak ngapa ngapain tapi megang-megang tangannya, dia kan bukan pacar kamu. Nanti malah bikin salah sangka" ucap Arya sambil mengingatkan.
"Iya kak, maaf. Aku cuma reflek kok. Nggak ada niat apa-apa." Chandra mencoba untuk memberikan penjelasan.
" Ya sudah, bercanda boleh. Tapi kalau bisa jangan pegang-pegang. Nggak pantes dilihat," tegas Arya.
Chandra hanya mengangguk, lalu ia berdiri dan akan pulang.
"Jangan marah ya dengan ucapan kakak barusan" ucap Arya.
"Santai lah kak, Aku nggak apa-apa."
__ADS_1