Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Cemburu


__ADS_3

Di rumah sebelah, terlihat Chandra sedang mengintip di balik gordyn jendela. Ia melihat Pricil bersama teman lelakinya dan berseragam sama sedang melangkah berurutan menuju rumah kakaknya Cahyani. Ia bisa melihat tatapan yang berbeda dari lelaki itu saat menatap keponakannya.


Chandra meraba area dada bidangnya. Ada yang terasa nyeri di dalam sana. Terasa sesak saat menarik nafas. Dan, perasaan cemburu datang menghampirinya. Beberapa hari sejak kejadian itu, Chandra belum bertatap muka secara langsung. Ada rasa tidak enak dan canggung yang menyelimuti dirinya.


Karena merasa penasaran, Chandra mencoba mencari tahu apa tujuan teman lelaki si Pricil datang bertandang ke rumah kakaknya. Ia berjalan perlahan lewat tempat jemuran di belakang rumah kakaknya. Chandra mengintip ke dalam kamar Pricil, tetapi gadis itu tak ada di dalamnya. Lalu Chandra berdiri di balik dinding warung kakaknya dan mendengarkan semua obrolan antara bu Yana dan teman si Pricil.


Saat ia sudah mendengarkan semua obrolan itu hingga berakhir, dan suara motor Tio telah menyala. Chandra langsung segera meninggalkan tempat tersebut.


Sebenarnya kakinya sudah sangat gatal ingin melangkah berkunjung ke rumah sang kakak. Tetapi hatinya masih ragu. Sehingga, ia kembali mengurungkan keinginannya. Chandra pergi ke halaman samping rumahnya. Ia mengamati kelinci peliharaannya di sana.


Chandra mengambil kursi plastik yang pendek untuk ia gunakan sebagai alas duduk menghadap ke arah kelinci-kelinci yang lucu dan menggemaskan di dalam kandangnya.


Tangannya terulur meraih wortel yang tersedia di sisi kandang dan menyuapkan ke kelinci-kelinci yang sedang bermain di dalamnya. Tatapannya terlihat kosong, pikiran Chandra swdang berkelana. Dan tanpa di sadari, wortel yang ia pegang telah habis di lahap oleh kelincinya dan malah jari telunjuknya di gigit oleh si kelinci.


"Aaww!!!" seru Chandra seraya menarik tangannya dari sela kandang. Ia baru tersadar bahwa dari tadi ia melamun, menjadikan jemarinya sebagai santapan kelincinya. Setelah itu, ia beralih ke kandang sebelahnya dan kembali menjulurkan wortel ke dalam kandang tersebut.


Cukup lama, Chandra berada di halaman samping sambil mengamati para kelinci hingga kakinya terasa sudah kesemutan. Chandra mulai beranjak meninggalkan kandang, dan ia berjalan dengan tertatih. Karena kesemutan di kakinya terasa bagai di tusuk-tusuk seribu jarum. Ia menggapai pinggiran pintu dan melangkah perlahan masuk ke dalam kamar miliknya.


Setelah sampai di ranjangnya, Chandra duduk selonjoran di bawah tempat tidur sambil menggerak-gerakkan antara jari jempol kaki dan jari telunjuk kakinya, agar saling bergesekan untuk meringankan rasa kesemutan itu.


"Aku kangen kamu,..." gumam Chandra sambil menatap cermin yang tak menampilkan bayangannya. Karena jaraknya lebih tinggi darinya.


Setelah kesemutannya reda, Chandra beranjak dari selonjoran menjadi berbaring di atas kasur empuknya. Lengannya menumpu di atas keningnya dan matanya menerawang jauh ke langit-langit kamar. Terlihat ada sawang dan juga laba-laba kecil yang sedang bertengger di sana. Tepat di sudut langit-langit, terdapat dua cicak yang sedang berkejaran melintasi area dinding plavon. Dan setelah cicak itu mengejar cicak yang satunya.


Plekkk!!


Si cicak jatuh tepat mengenai pipi Chandra yang mulus dan langsung membuat Chandra berjingkat dari pembaringannya. Ia mengumpat dengan kesal.


"Aagrrhhh!! Sialan kamu cicak!! Berani-beraninya kamu menodai pipiku" sambil mengusap pipinya yang di jatuhi cicak. Sementara cicaknya sudah ngibrit lari entah kemana. Chandra bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dengan facial wash lalu membilasnya hingga bersih.


Chandra berkata dalam hatinya. 'Ternyata, memendam rindu ini bisa membuat aku jadi ketiban sial. Aku akan menemuinya nanti malam. Agar rasa rinduku, bisa terobati dengan segera.' Akhirnya, Chandra membuat keputusan untuk segera menemui sang keponakan. Rasa rindu yang menyelimuti akan segera terpenuhi. Chandra memutuskan untuk tidur siang terlebih dahulu agar fikirannya menjadi segar kembali.

__ADS_1


**


Malamnya, Chandra sudah rapi dan gagah dengan kaos warna biru dongker di padu dengan celana cargo pendek selutut warna hitam. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum kesayangannya. Sebelum keluar dari dalam kamarnya, Chandra kembali meraih sisir yang tadi sudah ia simpan di tempatnya. Ia kembali menyisir rambutnya yang sebenarnya sudah rapi menjadi lebih rapi dari yang pertama. Lalu kembali menyimpan sisirnya di tempat semula. Lalu ia melangkah keluar dan merai gagang pintu.


Ckleeekkk. Jduuggh!


Suara pintu kamarnya terdengar begitu nyaring. Karena saat ini suasana rumahnya sedang hening. Ibunya tak ada di rumah, sore tadi bu Yana sudah berpamitan karena sehabis magrib akan ada acara yasinan di rumah saudara.


Chandra mengayunkan langkahnya menuju rumah sang kakak yang ternyata juga terlihat sepi. Tangannya terulur meraih handle pintu samping rumah yang ternyata tidak di kunci. Setelah masuk, ia kembali merapatkan pintunya.


"Samlikuuumm" ucapnya sambil terus melangkah masuk ke dalam. Ia langsung menuju pintu kamar sang keponakan dan mengetuknya perlahan.


Tok tok tok


"Sil...." panggilnya dengan lirih namun bisa terdengar dengan jelas.


Ckleekk.


"Hai.." Chandra menyapa Pricil dengan seulas senyum manis.


"Apa!" jawab Pricil dengan ketus.


"Duduk di luar yuk.." ajaknya dengan lembut.


Pricil menurut, ia menutup pintu kamarnya dan berjalan mengekori langkah Chandra di depannya. Chandra membuka lebar pintu rumah kakaknya dan langsung duduk di bawah pohon belimbing langganannya. Di ikuti Pricil yang juga duduk di sampingnya, berjarak setengah meter.


Keduanya hanya diam sambil mengamati bintang di langit yang ketip-ketip. Pricil dengan muka kusutnya, sementara Chandra dengan wajah gantengnya.


Setelah sekitar lima belas menit saling diam, Chandra mulai membuka suara untuk memecah keheningan malam di antara keduanya.


"Sil,.." ucap Chandra dengan lembut.

__ADS_1


"Hmm" sahut Pricil hanya dengan gumaman.


"Gimana ujianmu di sekolah?"


"Baik!'' jawab Pricil dengan singkat.


"Emm....."


Hening kembali hadir kenyapa keduanya. Chandra ingin kembali mengajak Pricil untuk mengobrol seperti biasa. Namun, keponakannya terlihat sedang badmood.


"Emm, kamu sudah makan?" tanya Chandra kembali membuka obrolan.


"Belom!"


"Kenapa? Nanti kamu sakit loh kalo nggak makan"


"Males!"


"Gimana kalau kita jajan aja, beli coklat atau chiki-chiki cinta yang ada hadiahnya!" ucap Chandra memberi saran.


"Enggak! Lagi nggak pengen apa-apa."


"Gimana kalau kita jalan aja ke depan gang? Siapa tau nanti bisa ketemu cowok dan cewek ganteng sedang lewat" bujuk Chandra.


"Enggak ah! Males."


"Jadi maunya apa? Nonton film horor mau?" Chandra masih tetap bertahan membujuk si keponakan agar moodnya kembali.


Wajah Pricil terlihat sedang berfikir, mungkin sedang memikirkan hari terakhir ia menonton film horor. Dan malah lebih mengerikan kisah terakhir dirinya dengan Chandra.


"Enggak mau ah!" putusnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2