Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Kabur


__ADS_3

Tengah malam, saat semua orang sedang tertidur pulas. Tio menggendong tas ranselnya dan menggeret kopernya pelan-pelan keluar rumah. Dalam keadaan gelap karena lampu memang di matikan jika penghuninya sedang tidur, ia melepas satu buah anak kunci dan menyimpannya di gabung dengan kunci motornya. Setelah itu, ia mengikat dengan kuat kopernya ke jok motornya. Setelah selesai, ia mendorong motor tersebut menjauh dari rumahnya. Suasana jalanan yang sepi karena jam menunjukkan angka dua pagi.


Sekitar jarak dua ratus meter dari rumahnya, barulah Tio menyalakan mesinnya dan pergi meninggalkan rumahnya. Demi memperjuangkan kisah remajanya di kota ini, ia rela kabur dari rumah. Bermodalkan uang tabungan yang ada, karena ia termasuk cowok yang rajin cari seseran dan juga hemat.


Kini, Tio tengah berada di sebuah Redzoor yang jaraknya jauh dari rumah dan juga jauh dari sekolah. Hanya untuk sementara, ia akan menginap di sana. Sampai orang tuanya berangkat dan nanti, ia akan kembali lagi ke rumahnya.


Sejak jauh hari, Tio sudah membicarakan hal ini pada mamanya. Dan mamanya pun sebenarnya tidak mempermasalahkan jika anak lelakinya ini tidak ikut bersama mereka. Karena mamanya yakin, anak lelakinya ini anak yang mandiri dan kuat. Hanya saja, papanya yang menentang keinginan Tio yang tidak ingin pindah.


Flashback on


''Gimana ujian mu nak, sudah selesai kan hari ini? apa ada kendala?'' tanya mama Andin pada Tio.


''Udah selesai kok ma, untungnya enggak ada remedial''


''Syukurlah, jadi kamu sudah siapkan kita pindah nak?''


''Ma, boleh nggak, kalau aku tetap di sini. Mama tau sendiri kan, aku susah beradaptasi dengan lingkungan baru'' pinta Tio pada sang mama.


''Hmm, tapi nanti papa akan marah nak''


''Ma... untuk kali ini aja, boleh ya aku nggak ikut'' rengeknya.


''Tapi, di sana nanti kamu pasti bisa beradaptasi dengan baik nak. Orang-orang di sana banyak yang ramah pada pendatang baru, papa sudah survey ke sana'' terang mama Andin.


''Ma, aku janji, aku akan baik-baik di sini dan akan belajar dengan sungguh-sungguh'' ujar Tio dengan serius.


''Jujur sama mama, Tio, kamu enggak pernah menolak apapun yang papa perintahkan sama kamu, sebenarnya, ada alasan lain kan mengapa kamu menolak ikut mama dan papa?'' mama Andin bertanya penuh selidik.


''Hehehe, enggak ada kok ma. Aku beneran udah nyaman banget disini, dan juga aku nyaman sekolah disini''


''Ayo jujur, apa ini ada hubungannya sama cewek yang kamu bawa kesini waktu itu?'' tunjuk sang mama pada wajah Tio sambil mengacungkan telunjuknya.

__ADS_1


''Eng, enggak kok ma, mama jangan mikir yang aneh-aneh deh...'' elak Tio.


''Sayang,... mama juga pernah muda loh nak. Jadi, mama bisa baca dari gelagat kamu'' mama Andin mengelus pundak anak lelakinya dengan sayang, ''jujur aja sama mama, mama nanti bantu kamu.''


''Beneran ma, tapi, aku malu mau ceritainnya''


''Enggak usah malu, mama sudah pernah mengalami asam garam dalam hidup. Apalagi persoalan cinta monyet seperti kalian ini'' ujar sang mama.


''Aku suka sama dia ma, dia anaknya baik. Cuma jutek aja sih,... tapi malah itu yang menjadi daya tariknya'' tutur Tio dengan memelankan suaranya.


''Mama sih, mendukung aja. Mama liat dari kesan pertama dia di sini udah tau, kalau dia itu anak baik, mandiri, jujur dan penurut. Tapi, sebaiknya kamu fokuslah belajar dengan baik. Kalian berjuanglah untuk sukses bersama. Mama mohon sama kamu, jangan lakukan hal bodoh yang bisa merusak masa remaja kalian dengan pacaran yang tidak sehat'' mama Andin memberi petuah panjang sepanjang jalan kenangan. Tio pun mendengarkan dan mencerna dengan baik omongan mamanya.


''Iya, ma. Aku akan jalani nasehat mama, makasih banyak ya ma'' Tio memeluk mamanya.


Flashback off


Tio memejamkan matanya dengan lengan yang menutupi matanya. Ia telah mematikan ponselnya agar papanya tidak menghubunginya nanti.


***


''Kenapa Tio belum turun, ma? coba di tengok. Sebentar lagi kita harus berangkat!" perintah suaminya pada sang istri.


"Iya pa, sebentar. Mama ke atas dulu"


Mama Andin kemudian melangkah dengan rasa takut menaiki anak tangga satu persatu, lalu ia menoleh ke arah suaminya yang masih terus memperhatikannya.


"Buruan ma, kok malah kayak keong langkahnya. Kita nanti kesiangan!" tutur papa Ardian sambil sekilas melihat jam di tangannya.


"Iya, pa" mama Andin pun mempercepat langkah kakinya.


Sesampainya di depan pintu kamar Tio, jantung mama Andin sudah berdebar-debar. Ia pasti akan terkena omelan suaminya kali ini. Perlahan, mama Andin meraih handle pintu dan mendorong pintunya pelan.

__ADS_1


Karena merasa menunggu lama, papa Ardian akhirnya menyusul ke atas dan langsung melongok ke dalam kamar putranya yang kosong melompong tak ada penghuninya.


''Kemana anak itu!'' berang papa Ardian melihat kamar anaknya yang kosong.


''Mama enggak tau pa,'' lirih mama Andin.


''Cepat mama telpon anak itu! papa kan sudah bilang. Jangan ada yang menolak untuk pindah!'' perintah papa Ardian penuh emosi.


''Iya pa, mama akan telepon. Tapi, handphone mama di bawah'' mama Andin segera turun ke bawah dengan terburu-buru. Namun, malah kesrimpet kakinya sendiri dan menyebabkan mama Andin terjatuh.


''Aauuuww!!'' pekik mama Andin yang menggelinding ke lantai.


''Mama!" papa Ardian langsung turun ke bawah menyusul istrinya dan memapahnya ke kursi ruangan.


"Mama kenapa, ma? mana yang sakit?" panik Maura yang langsung menghampiri mamanya. Karena ia sedari tadi asik bermain game sembari menunggu mama dan papanya memanggil kakaknya di atas.


"Mama enggak apa-apa kok sayang" ucap mama Andin sambil mengusap puncak kepala Maura.


''Sini Maura pijit ma!'' Maura langsung duduk dan memijit kaki mamanya.


Sedangkan papa Ardian sedang menelepon anak sulungnya. Namun, hasilnya nihil. Karena nomornya sedang tidak aktif.


''Anak kurang ajar!! bisanya bikin orang tua emosi saja!'' kesalnya.


''Tenang dulu pa, jangan marah-marah'' ucap mama Andin berusaha meredakan kemarahan suaminya.


''Apa mama tau, anak itu kabur kemana??'' papa Ardian menatap mama Andin dengan penuh selidik.


''Mama enggak tau pa. Jadi, gimana pa? apa kita akan tetap berangkat tanpa Tio?''


''Hah! menyusahkan saja anak satu itu!'' gerutu papa Ardian sambil memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


Dan ponsel papa Ardian berdering. Dilihatnya rekan kerjanya yang menelepon. Ia segera menjawab telepon tersebut karena itu adalah orang yang sangat penting.


''Halo, selamat pagi pak, Fasha'' sapa papa Ardian dengan ramah.


__ADS_2