
"Yah, inyong kok di tinggalin??" gerutu Chandra sambil menyandarkan tubuhnya di kursi teras.
Ia menghembuskan nafas dengan kasar. Lalu Chandra menyugar rambutnya yang mulai panjang. Hari minggu besok ia berencana mengajak Pricil untuk menemaninya potong rambut serta jalan-jalan untuk melepas lelah sehabis ujian. Namun sudah langsung di tolak sebelum ia mengutarakan tujuannya.
'Ya ampun Sil, tahu nggak sih. Aku tuh kangen banget pengen bersenda gurau sama kamu kayak biasa. Aku kangen sama kejutekan kamu, setelah itu kita tertawa bersama. Akhir- akhir ini kamu sibuk dengan duniamu sendiri' Chandra bergumam sendiri sambil menerawang ke pucuk pohon belimbing yang buahnya sudah habis.
Belakangan ini Pricil sulit untuk ia ajak mengobrol seperti sebelum-sebelumnya. Entah apa penyebabnya Chandra masih tidak paham.
Setelah lama duduk termenung di depan teras, Chandra pulang ke rumahnya. Ia ingin bersemedi di dalam kamar sambil memandangi foto Pricil yang ia cetak dengan ukuran 10R dan ia bingkai dengan cantik.
Foto tersebut ia simpan di bawah kolong tempat tidurnya agar tidak di lihat oleh ibunya. Setelah Chandra meraba isi kolongnya, ia tidak menemukan foto tersebut.
Karena ia masih kurang puas, Chandra berjongkok dan menungging untuk melihat isi kolongnya. Dan benar saja, foto itu tidak ada di tempatnya.
"Aduh, kok fotonya hilang sih. Kemarin kan aku tarok di sini" Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.
"Apa jangan-jangan di pindahin sama ibuk ya??" Chandra langsung keluar dari kamar dengan tujuan mencari foto ke ruangan lain.
Saat ia keluar dari kamar, bu Yana baru saja masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang depan Tv.
"Kamu kenapa Chand?" tanya bu Yana dengan heran, karena wajah Chandra terlihat tidak baik-baik saja.
"Emm," Chandra kembali menggaruk kepala, "ibuk liat foto yang di bawah kolong nggak?" tanya Chandra dengan ragu-ragu.
"Oh, iya ada. Fotonya ibu simpan di laci bawah tv tuh. Kemarin pas ibu bersih-bersih, nggak sengaja kesapu dan kacanya pecah. Jadi fotonya ibu tarok di situ" tunjuk bu Yana ke arah laci di bawah tv.
Chandra terlihat lega dan segera membuka laci yang di tunjuk ibunya.
"Kamu ngapain nyimpen fotonya Sisil??" tanya bu Yana dengan tatapan curiga.
Chandra lagi-lagi kebingungan, ia bingung harus menjawab apa.
"Kok diem Chand? ada apa sama kamu?" tanya bu Yana dengan mengintimidasi.
"Eh, itu, anu bu..." Chandra tak bisa menjawab dengan benar.
__ADS_1
"Jangan bilang kalo kamu ada apa-apa sama keponakanmu itu!"
"Eng-enggak kok bu, kan kemarin itu cuma aku cetak. Rencananya mau aku kasih ke Pricil, tapi lupa" Chandra berkilah mencoba berbohong.
"Ibu tidak percaya. Ibu ini pernah muda Chand, jadi kamu tidak bisa membohongi ibu" ucap bu Cahyani dengan tegas.
Chandra hanya menunduk berlutut di depan tv yang tidak menyala. Tangannya sudah menggenggam selembar foto yang ia cari tadi.
"Hari minggu besok, kamu harus ikut ibu. Kita ke rumah pak Ahmad Sucipto, dan kamu tidak ibu ijinkan menolak" ucap bu Yana. lalu ia berlalu meninggalkan Chandra.
Chandra terlihat frustasi, ia menjambak rambutnya yang belum di potong itu dengan gemas dan berlalu dari ruang tv. Ia menuju kamarnya dan menyimpan foto itu ke dalam lemari pakaian.
Duduk di sisi ranjang dan menelpon seseorang.
Tuut..
"Halo..." sahut seseorang di seberang sana.
"Kamu dimana Ndi?" tanya Chandra dengan nada kesal.
"Di pemancingan tempat biasa, ada apa Chand?" tanya Andi dengan heran.
Setelahnya ia melajukan motor tersebut ke kawasan pemancingan yang biasa Andi kunjungi.
Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di kolam pemancingan. Chandra mengedarkan pandangan mencari sosok Andi di antara para pemancing yang berjajar. Suasana sore ini begitu ramai.
Setelah ia melihat Andi, Chandra segera menghampiri Andi yang sedang memasang umpan di kailnya.
Andi yang melihat kedatangan Chandra hanya menatap sekilas, lalu ia melemparkn kailnya ke kolam.
"Ada apa Chand, muka mu kusut! belum sempet nyetrika ya!" ujar Andi dengan santai mencoba menghilangkan kusut di wajah sahabatnya dengan gurauan.
Namun, Chandra tak menghiraukan pertanyaan dari Andi dan malah meminta rokok.
"Mana rokokmu Ndi?" Chandra menengadahkan tangannya ke Andi.
__ADS_1
Andi malah mengerutkan dahi.
"Kamu kan nggak ngerokok Chand, ngapain minta rokok"
"Udah jangan banyak tanya. Mana sini!" masih dengan ekspresi kesal. Chandra tak peduli tempat meluapkan kekesalannya.
Andi merogoh tasnya dan memberikan kotak rokok serta korek api ke tangan Chandra. Dengan segera Chandra meraih dan mengeluarkan isinya.
Setelah itu, Chandra menyelipkan sebatang rokok ke dalam mulutnya dan memantik koreknya.
Chandra mencoba menghisap rokok tersebut, namun ia langsung terbatuk-batuk karena tidak tahu cara menghisap dengan baik dan benar.
"Uhuk! uhuk! uhuk!" Chandra terbatuk dan langsung melempar rokok yang tadi ia hisap ke sembarang tempat.
Andi yang melihat itu, dengan segera mengejar rokok yang melayang dan jatuh tepat di belakang pantat pemancing lainnya. Dengan sigap Andi menginjak puntung rokok tersebut agar tidak membahayakan orang lain.
"Kamu mau buat kerusuhan di sini Chand??" tanya Andi tidak senang dengan cara Chandra.
Chandra hanya berdiam diri setelah batuknya reda. Sementara Andi kembali duduk di tempatnya semula.
"Kamu itu sudah tua Chand. Masak ngambek kayak anak ABG sih?" Andi mencoba mencairkan suasana.
"Hah!!, aku lagi kesel sama ibuku!" ucap Chandra sambil bersedekap.
"Kenapa? mau di jodohin? ya wajar sih. Kan kamu udah layak Chand" ujar Andi.
"Ya tapi kan, aku punya pilihan sendiri Ndi"
"Pilihanmu itu, sudah jelas tidak akan mendapat restu dari keluarga mu Chand. Coba kamu fikirkan dengan baik. Ibumu hanya ingin yang terbaik untuk masa depanmu" ucap Andi dengan bijaksana.
"Mana bisa sih aku buang rasa yang sudah melekat dan menyatu di sini Ndi! kamu enak sekali kalo ngomong!" Chandra menunjuk dadanya tepat di jantungnya.
"Iya, aku paham. Tapi, memang sebaiknya begitu Chand. Coba saja dulu kamu ikuti kata ibumu. Nanti setelah itu, kamu bisa memilih jalan mu sendiri. Paling tidak, kamu tidak menolak keinginannya. Toh kamu juga sudah banyak menolak sebelumnya" terang Andi.
Chandra hanya mendengar nasehat dari sahabatnya dan tidak ingin menjawab Andi. Ia menatap ke arah mata pancing yang mulai ada pergerakan di dalam air sana.
__ADS_1
Andi yang melihat arah pandang Chandra langsung tertuju ke kailnya. Dengan segera Andi mengangkat stick pancing dan menariknya. Namun ikan yang sudah terangkat ke permukaan jatuh terlepas begitu saja.
"Yah!!. Enggak jadi masak ikan dah!" keluh Andi.