
''Nenek kamu nggak di rumah ya?'' tanya Tio dengan berbisik.
''Kamu mau ketemu sama nenek? biar aku panggil di rumahnya'' ucap Pricil.
"Besok ajalah. Kalo sekarang, lagi nggak punya ide buat ngomong sama nenek. Aku pulang dulu ya," cupp. Tio mencium pipi Pricil dengan tiba-tiba. Membuat Pricil mata Pricil membola karena shock dan wajah Pricil memanas seketika.
Sementara Tio langsung melambaikan tangan dengan senyuman manis di bibirnya. Tio menghilang dari pandangan mata Pricil. Sejenak tubuhnya tak bergerak dari posisi. Lalu, Pricil meraba pipinya yang tadi di kecup tanpa izin. Jantungnya masih dag dig dug.
Hari ini, banyak hal-hal yang membuat Pricil semakin penasaran dengan sikap Tio yang berbeda dari hari ke hari. Ia langsung saja merebahkan tubuhnya ke ranjang kesayangannya. Matanya kini menatap ke arah langit-langit kamar sambil mengingat momen-momen hari ini yang membuat perasaannya menjadi gado-gado.
'Dia hari ini ngajakin aku ke rumahnya, terus ngajakin foto berdua. Pake bilang buat kenang-kenangan' Pricil tersenyum dan mengubah posisi badannya menjadi miring ke kiri dan ke kanan.
'Tapi, kenapa dia menyebutku dengan panggilan sayang ya? apa dia punya rasa sesuatu. Aggrrh!' Pricil meremas rambutnya yang lurus itu. Ia terus bergumam sendiri di dalam kamarnya.
__ADS_1
'Apaan sih aku ini. Kepedean banget! jangan bilang kalo aku mulai suka sama dia. Agrhhh!. Ini gila. Enggak mungkinkan aku jatuh cinta sama orang yang menyebalkan sedunia' Pricil meraba dadanya yang masih saja dag dig dug.
''Oke, lebih baik aku sholat! biar setan penggoda iman menjauh dari lubuk hatiku!'' suara Pricil terdengar di dalam ruang kamarnya. Ia mencoba menepis semua argumennya.
Usai menunaikan kewajibannya, Pricil menerima pesan notifikasi di aplikasi hijaunya. tertera di sana nama sang pengirim Nyebelin bin ngeselin. Berikut dengan isi pesan gambar dan langsung Pricil buka satu persatu rentetan foto tersebut.
Terlihat dengan jelas foto dirinya bersama orang tersebu. Ia tersenyum sendiri menatap wajahnya yang begitu jelek ekspresinya karena kaku.
''Jelek amat sih aku di sini'' ucap Pricil yang matanya tetap fokus memandang foto demi foto. Lalu, ia meneliti foto wajah Tio di layarnya. Kemudian ia perbesar untuk meneliti setiap inci wajahnya.
''Astagfirullah!!!'' Pricil mengetok kepalanya sendiri. ''Aku beneran gila kalo kayak gini'' dan langsung saja ia menutup layar ponselnya kemudian, menyembunyikannya di bawah bantal.
Setelah itu, Pricil melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya dan memutar handle pintu tersebut lalu pintu tersebut terdorong dengan kuat karena ada beban dari luar pintu.
__ADS_1
Brrukk!!
Tubuh seseorang itu langsung terdorong menimpa tubuhnya, dan jatuh bertindihan di lantai. Mata mereka saling beradu tatap sepersekian detik. Dadaa yang saling menempel dan beradu detak jantung.
''PAMAAAN'' Pricil menjelitkan matanya dan mencoba mendorong tubuh Chandra dari atas tubuhnya. Namun apalah daya, tubuhnya yang kecil tak mampu mengeluarkan tenaga yang lebih besar.
Sementara Chandra malah berdiam diri dengan posisinya saat ini. Matanya mengerjap-ngerjap menatap bibir mungil nan seksi di depan matanya.
''Paman! aku bisa mati kehabisan napas tauk! awas. BERATT!!'' ucap Pricil yang mengulang mendorong tubuh Chandra dari atasnya.
Chandra pun tersadar dan langsung menarik tubuhnya dari atas tubuh sang keponakan yang terlihat mengap-mengap alias kehabisan napas.
''Maaf!'' ucap Chandra dan ia langsung meninggalkan Pricil yang berusaha berdiri kembali.
__ADS_1
''DASAR PAMAN EDAAN!''