
Semalam, di rumah paman Arya yang kini menjadi tempat tinggal Pricil. Kedua orang tuanya datang berkunjung beserta adik-adiknya. Dengan menaiki mobil pick up milik Ali, tetangga orang tua Pricil di kampungnya.
Pricil langsung menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita. Ia melihat ada Ali juga ikut masuk ke dalam rumah, dan tak lama setelah itu, mereka melakukan sholat maghrib berjamaah.
Usai melaksankan kewajiban umat muslim, Pricil dan ketiga adiknya masuk ke kamar dan mereka bermain di dalam. Pricil membiarkan para orang dewasa mengobrol bebas di ruang tamu. Tidak ada niatan sedikitpun untuk ia bergabung, karena di sana ada paman Chandra.
Bukan Pricil tidak mau melihat wajahnya. Tetapi, sejak Chandra menyatakan perasaannya pada Pricil. Ia berusaha untuk sebisa mungkin menjaga jarak darinya. Agar Chandra bisa melupakan perasaannya terhadap Pricil.
Untuk perasaan Pricil sendiri terhadap Chandra ialah perasaan sayang yang wajar antara keponakan dan paman. Hanya itu dan tidak lebih. Pricil memang terlalu polos kalau urusan masalah hati seseorang. Semua perhatian yang pernah ia terima dari Chandra hanya ia anggap biasa saja.
Tetapi, entah mengapa jika Pricil berdekatan dengan Tio si cowok yang sangat menyebalkan di matanya. Malah membuat jantungnya selalu berdetak lebih cepat. Bukan ia tak mengerti artinya. Hanya saja, ia memang belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya.
Saat semua usai makan malam bersama, adik Pricil yang bernama Bayu menghampirinya. Dia membisikkan sesuatu pada Pricil. Dan ia mengatakan bahwa mas Ali meminta nomor ponselnya.
"Kak, Sisil" panggil Bayu perlahan dan mendekat.
"Ada apa, Bay, kok bisik-bisik sih!" ucap Pricil jadi ikut memelankan suara mengikuti arahan Bayu.
"Mas Ali minta sesuatu!" bisik Bayu.
Pricil langsung mengkerutkan alisnya, "minta apa?" tanyanya dengan penasaran. Dan bayu melanjutkan bisikkannya ke telinga sang kakak.
"Mas Ali minta nomor kakak, jadi nanti kakak catet ya di kertas pas kami mau pulang" bisik Bayu lagi.
Baru selesai Bayu membisikkan kata itu di telinga Pricil, paman Chandra tiba-tiba muncul mengagetkan keduanya. Pricil mengelus dadanya karena kaget. Tetapi, ia langsung mengalihkan perhatian dan meminta bantuannya untuk memindahkan meja.
Saat keluarga Pricil berpamitan untuk pulang, Pricil segera masuk ke kamar dan meraih pulpen serta kertas untuk menulis nomor ponselnya, sesuai dengan yang di katakan Bayu sebelumnya. Setelahnya, ia melipat kertas itu menjadi ukuran kecil. Saat ia bersalaman dengan mas Ali, sekalian ia menyelipkan kertas yang tadi ia tulis.
__ADS_1
Bukan maksud apa-apa, tapi Pricil dan mas Ali dulu sangat dekat, bahkan mungkin dari ia masih bayi. Karena memang tempat tinggal mereka yang berdekatan dan juga waktu masih kecil ia sering bermain bersama. Ali adalah teman masa kecil Pricil.
Pricil melirikkan matanya ke arah paman Chandra yang ternyata memperhatikan gerak geriknya. Namun, Pricil bersikap cuek saja. Setelahnya, Chandrakembali ke rumahnya dan paman Arya serta bibi Cahyani juga ikut masuk ke dalam rumah.
Saat Pricil meraih ponselnya untuk di charge, banyak pesan yang masuk dari teman-teman dan juga ada salah satunya dari Abdul. Ia hanya melihatnya tanpa membuka pesan tersebut. Karena matanya sudah benar-benar mengantuk, Pricil memutuskan untuk tidur dan mengabaikan pesan di ponselnya.
**
Pagi ini, Pricil sudah rapi dengan seragamnya, ia akan segera berangkat ke sekolah seperti biasa. Tapi, lagi-lagi Abdul menjemputnya. Ia sudah duduk manis di atas motornya sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa jemput lagi?" tanya Pricil setengah sewot.
"Enggak apa kak, cuma kebetulan tadi lewat. Jadi, sekalian aku kesini. Kan aku juga udah kasih tau kakak" jawab Abdul dengan santai.
Akhirnya Pricil pergi bareng lagi dengan si Abdul hingga sampai di sekolah. Sama seperti kemarin, ia menurunkan Pricil di depan pintu gerbang sekolah bagian depan. Pricil pun langsung melenggang menuju ruang kelasnya yang ada di lantai dua.
Saat Pricil masuk ke dalam ruang kelas, di sana sepi. Hanya ada satu orang yang sedang duduk di bangku yang biasa ia tempati. Dia bukan siswa di kelasnya, tetapi dia adik kelas Pricil. Siapa lagi kalau bukan Tio.
"Cuma pengen ketemu kamu, boleh kan? Besok kan kita udah mau bagi raport. Pasti libur panjang, kita nggak akan ketemu lagi" ucap Tio sambil menatap Pricil dengan serius.
"Ya, trus kalo nggak ketemu emang kenapa? Kan setelah libur sekolah juga masuk sekolah lagi. Pasti kita bakal ketemu" jawab Pricil dengan santai.
Tio hanya diam memperhatikan Pricil yang sedang duduk menyandar. Pricil menanti kedua sahabatnya yang tak kunjung datang. Mungkin mereka sibuk di belakang, hingga lupa ia sudah menunggu mereka disini.
"Lia," panggil Tio.
"Hmmm" Pricil menjawabnya dengan deheman.
__ADS_1
"Aku pengen tau, apa yang kamu rasain saat deket sama aku?" tanya Tio dan menatap bola mata Pricil dengan dalam.
Sedangkan Pricil yang di tatap seperti itu menjadi grogi. Jarak yang semula hanya satu meter, kini tinggal setengah meter. Entah mengapa malah detak jantung Pricil bertambah lebih cepat berdetak.
"Jawab dong, kok malah diem..." ucap Tio yang kini wajahnya sudah semakin dekat dengan wajah Pricil. Pricil pun langsung memundurkan wajahnya dari Tio.
"Ak, aku bi, biasa aja" jawab Pricil dengan terbata.
"Kok aku tiap deket sama kamu selalu deg-degan ya" jawab Tio yang kini sudah di posisi semula.
"Te, terus, kalo deg-degan emang ada apa?" tanya Pricil dengan pura-pura tidak paham.
"Katanya, itu tanda ada cinta di hati aku buat kamu" dengan lirih Tio mengucapkan kata cintanya.
"Apa bisa begitu, siapa yang ngasih tau kamu soal itu?"
"Itu nggak penting sih," Tio kemudian berlutut di hadapan Pricil dan membuka telapak tangannya yang di sangga di atas lututnya.
"Ehh! Kamu mau ngapain??" Pricil langsung melihat ke arah pintu luar. Takut ada yang melihat adegan ini.
"Apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku? Kalau iya, sambutlah tanganku.." Tio sangat serius dengan ucapannya. Pricil harus bilang apa? jujur atau bagaimana ini?
-
-
-
__ADS_1
Kok enggak bisa romantis sih acara nembaknya, ahh dasar aku. Apa apa enggak pinter. Ya udah, gitu aja jadi lah ya..
Yang penting niatnya bisa kesampaian.