Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Last Moment Tio Pricil


__ADS_3

''Aku bercanda, sayang. Aku itu cinta kamu apa adanya, sayang sama kamu lahir dan batin. Jangan ngambek dong! apa mau di cium lagi?''


Nyesss!


Adem banget denger gombalanmu Tio. Pricil membuang muka dan menatap ke luar jendela. Bibirnya terus menyunggingkan senyum bahagia. Setelah beberapa menit dalam perjalanan menuju tempat janjian Pricil bersama sang sahabat, dia merasa kepalanya tiba-tiba pusing. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya pun terlihat pucat.


Tio yang fokus menyetir pun akhirnya menoleh ke arah Pricil yang hanya diam saja sejak tadi kadi penasaran.


''Sayang, kamu kenapa? kok diem aja dari tadi. Terus .... '' Tio terkejut melihat wajah Pricil yang memucat dan keringatnya bercucuran membasahi pelipisnya. Kondisi siang ini memang panas dan juga sedang macet, tetapi AC selalu menyala.


''Kamu sakit?!'' panik Tio. Dia langsung memegang dahi kekasinya yang terasa dingin. Tio pun memperhatikan lampu rambu lalu lintas yang sudah berubah menjadi hijau dan dia segera melajukan mobilnya untuk berhenti di tempat yang aman.


''Kamu kenapa, sayang? pucet banget!'' Tio membelai lembut pipi sang kekasih dengan penuh perhatian. Pricil hanya memijit pelipisnya yang terasa pening. Dia sudah lama tidak naik mobil makanya dia mabuk.


''Cuma mabuk, ada minyak kayu putih nggak?'' Pricil merasa malu sebenarnya mengatakan hal itu. Tapi, mau bagaimana lagi, dari pada timbul mual pada perutnya. Lebih baik jujur saja dan apa adanya tentang kelemahannya.


Tio pun menurunkan kaca mobil agar udara luar bisa masuk. Dia mencari minyak yang di maksud oleh Pricil di dasboard mobil tersebut. Ternyata ada dan dia pun langsung memberikan pada Pricil. Setelah tengkuk leher dan juga kepalanya di oles dengan minyak tersebut, Pricil merasa lebih baik.


''Udah enakan? kok kamu bisa mabuk, yang?'' Tio membantu memijit kepala Pricil dengan lembut.


''Udah lama libur naik angkot, jadi mabok mungkin!'' ungkap Pricil. '' Yuk! lanjut lagi, udah baikkan kok,'' ujar Pricil.


Tio pun menurut dan kembali menjalankan mesin. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat janjian. Akan tetapi, para sahabat Pricil tidak ada di sana.


''Loh! kok mereka nggak ada. Apa belum sampai?'' gumam Pricil yang tentu di dengar oleh Tio. Pricil pun menghubungi salah satu sahabatnya. Dia merogoh tas untuk mencari keberadaan ponselnya, lalu setelah itu menekan nomor Putri untuk dia telepon.


Telepon tersambung. Terdengar suara Putri dari seberang sana.


''Kalian dimana, Put? aku udah sampe, nih!'' sahut Pricil.


'' .... ''


''Jadi? kita nggak belanja bareng dong! ya udah, deh. Nggak apa-apa,'' balas Pricil saat mendengar alasan dari Putri. Terlihat ada gurat kekecewaan pada pancaran matanya. Namun, pikiran positif lebih mendominasi ruang hati Pricil. Jadi, apa pun penolakan yang di aturkan oleh sang sahabat, dia mempercayainya.


Hari ini, Pricil berbelanja hanya berdua bersama Tio. Tiba-tiba saja kedua sahabatnya membatalkan rencana awal untuk membeli peralatan sekolah bersama-sama. Tentu saja itu semua sudah di atur oleh Angga. Mau tidak mau, kedua sahabat Pricil mendukung rencana itu. Karena demi kebahagiaan sang sahabat.


***


Dua jam berlalu


Pricil sudah pada posisi semula, duduk di kursi depan di samping Tio. Mereka tidak langsung pulang ke rumah. Tujuan kali ini adalah bertandang ke rumah Angga. Kedua sahabat Pricil pun ada di sana. Hanya saja, Pricil tidak di beri tahu.


''Kita kemana, yang?'' tanya Pricil. Jalan yang Tio ambil adalah jalur arah ke sekolah.


''Kita ke rumah Angga, nggak apa, kan?'' sahut Tio. Pricil hanya mengangguk.


Sesampainya di rumah Angga, suasana nampak sepi. Dari tampilan depan, seperti tidak ada orang di rumah. Tio dan Pricil melangkah menuju ruang belakang dari arah samping.


''Surprise!'' teriak Wina, Putri dan juga Angga. Angga memegang kue tart bertuliskan nama Tio dengan umur 17 belas tahun.


Lagu selamat ulang tahun pun di nyanyikan oleh mereka. Hanya Pricil yang tidak tahu, bahwa hari ini adalah ulang tahun kekasihnya.


''Kamu ultah? kok nggak bilang!'' tanya Pricil setelah selesai bernyanyi. Tio memberikan potongan kue pertamanya pada Pricil.


''Kamunya aja yang nggak peka!'' sahut Tio. Dia menyodorkan potongan kue Blackforest pada Pricil ke depan mulutnya.


''Maaf, aku nggak tahu. Selamat ulang tahun, sweet seventeen, do'anya yang terbaik.'' Tutur Pricil memberi selamat.


''Makasih, sayang!''


Tio mengeluarkan sesuatu dari dalam saku hoodie-nya. Di bukanya sebuah kotak berisi cincin couple berwarna putih. Di dalamnya ada ukiran nama Tio dan juga Pricil di sana.


Tio meraih tangan kanan Pricil dan mengambil jari manisnya, lalu memasangkan cincin yang di dalamnya ada ukiran nama Tio ke jari tersebut. Kini, giliran Pricil yang memasangkan cincin ke tangan Tio. Sejujurnya dia begitu grogi, perlahan tapi pasti. Pricil menarik tangan Tio dan memasangkan cincin itu.


Tio yang berulang tahun, Tio juga yang memberi hadiah pada kekasihnya. Momen ini adalah momen kebahagiaan yang tiada tara. Pertama dalam masa remaja Tio dan juga Pricil.

__ADS_1


Cinta pertama di masa sekolah yang penuh warna. Tidak banyak aneh-aneh dalam konsep pacaran yang mereka jalani. Cukup bergandengan tangan sesekali sun pipi sebagai tanda perhatian dan juga tanda sayang. Tidak melebihi batas wajar, dua insan ini memantapkan untuk sampai ke tahap yang lebih serius nantinya. Dapat di pastikan setelah mereka lulus sekolah, sahabat mereka pun saling mendukung cinta mereka.


''So sweet, aku jadi iri, deh!'' cetus Wina. Ekor matanya mengarah pada sang kekasih si Angga. Beruntung, Angga adalah anak yang cepat tanggap dan memahami keinginan gadisnya.


''Nanti kita bikin yang lebih romantis, ya, sayang. Cup!'' Angga mengecup kening Wina sekilas. Aksi tersebut, membuat Putri sang jomblowati menjadi snewen.


''Ekhm, ekhm! dunia bukan cuma milik kalian berdua, loh!'' cibir Putri.


''Buruan cari kak, biar ada gandengan kalo pergi-pergi.'' Timpal Angga.


''Enak banget kalo cuma ngomong doang, mah! aku mau fokus belajar aja. Kalian yang langgeng, ya. Aku do'ain yang terbaik buat hubungan kalian.'' Pesan Putri untuk dua pasang sahabatnya.


Tio dan Pricil sedang duduk di sofa sambil menikmati cemilan yang sudah di siapkan oleh teman-temannya tadi. Mereka saling suap-suapan. Sungguh adegan yang bikin iri si jomblowati.


''Udah, aku eneg makan ini, yang!'' tolak Tio. Pricil masih saja menyodorkan kue berlumur mentega itu pada sang pacar.


''Satu suap lagi ini, tanggung sayang. Aaa ....'' Pricil membuka mulutnya sebagai instruksi agar Tio membuka mulutnya kembali.


Tio pun menurut, dengan senang hati Pricil memasukkan kue yang ada di ujung garpu ke dalam mulut Tio.


''Yeay, akhirnya habis juga. Nih, minum dulu,'' sembari menyodorkan segelas minuman bersoda.


''Untung ini rumah, bukan hotel. Nggak tau dah apa yang akan terjadi selanjutnya pada kalian. Romantis banget!'' sindir Angga.


''Pasanganmu kan sudah ada, sih, Ga. Nggak usah banyak cingcong, dah!'' sungut Tio.


Angga hanya bisa mencebik menanggapi ucapan Tio.


***


Chandra dan Alya baru saja pulang dari taman. Mereka mencari hiburan dengan melihat hewan-hewan yang berada dalam kandang.


Sesampainya di rumah, Bu Yana melihat Alya turun dari mobil bersama Chandra. Mata bu Yana berbinar melihat calon mantuny Datang berkunjung. Dia pun di sambut dengan riang dan juga senyum bahagia.


"Nak, Alya, wahhh! senangnya kamu bisa main ke sini. Kok bisa sama Chandra?" cecar bu Yana yang penasaran.


"Iya, Buk. Tadi ketemu di lapangan pas maraton," tutur Alya.


"Ayo! masuk nak, Alya!" perintah bu Yana sambil menuntun tangan Alya ke dalam rumah.


Mereka pun bercengkrama di ruang tamu. Bu Yana sangat cocok dengan Alya, gadis baik, pintar dan juga cantik. Wanita idaman pria menurut pandangan bu Yana.


Obrolan panjang lebar mulai dari ujung timur hingga ujung barat pun telah tersalurkan. Tak berapa lama, Chandra keluar dengan badan yang sudah segar. Berpakaian santai ala rumahan, Alya sangat terpesona dengan paras Chandra. Rambut basah yang di kibas-kibaskan karena dia mencari sisir yang hilang dari kamarnya.


''Bu, sisirku mana, ya? kok nggak ada di kamar!'' tanya Chandra.


''Oh, ibu pakai tadi. Ada di kamar belakang, ambil aja.'' Jawab bu Yana.


''Nak, Alya, kalau mau mandi silahkan, biar lebih seger. Tenang aja, baju-baju ibu waktu masih muda banyak, kok!'' tukas bu Yana dengan senyum ramah.


''Makasih, Bu. Tapi, aku mau pulang. Hari sudah mau sore, lain kali kita bercerita lagi, ya, Bu.'' Pungkas Alya. Dia pun bangkit dari kursinya.


Chandra yang sudah selesai merapikan rambut di kamar ibunya, dia menemui Alya yang akan berpamitan pulang.


Alya pun berlalu dari rumah Chandra. Kini, hati Chandra mulai merasakan ketenangan. Semua isi hati serta uneg-uneg dia tumpahkan pada Alya. Ada rasa lega dan lapang dari ruang hatinya saat berkata jujur pada orang yang kita percayai. Begitulah Chandra, dia berkata jujur pada Alya bahwa dia menyukai keponakannya sendiri. Namun, Alya bersedia untuk membantu Chandra menghapus kisah cinta yang Chandra miliki pada Pricil.


Perlahan tapi pasti, semua berjalan pada arusnya. Chandra sudah bertekad untuk menjalin hubungan dengan Alya ke jenjang yang lebih serius. Dia meyakini bahwa cinta akan datang seiring waktu seringnya bersama. Meski Alya adalah orang yang di jadikan pelarian oleh Chandra. Alya siap membantu menghapus jejak Pricil di hati seorang guru matematika di kampung ini. Chandra Wijaya, teman sekolah hingga ke perguruan tinggi.


***


Delapan belas bulan kemudian


Pricil, Putri dan Wina sudah bekerja di hotel Queen yang sering menjadi tempat bekerja paruh waktu ketika sekolah saat itu. Dia mendapat rekomendasi dan di tarik oleh hotel tersebut karena keterampilannya.


Hari ini, tepatnya pada sore hari kelulusan Pricil dan dua sahabat dari sekolahnya. Dia ijin pada sang manager untuk hadir pada acara kelulusan di sekolah. Tidak ada yang melarang, karena itu adalah momen bersejarah pada masanya.

__ADS_1


Pricil bersama Putri dan juga Wina sudah sampai di halaman belakang sekolah. Mereka sudah menyiapkan cat pilok untuk saling semprot di seragam putih abu-abu miliknya. Meski mereka datang menggunakan pakaian biasa. Seragam itu sudah siap sedia di dalam tas masing-masing. Hingga pengumuman nomor mereka keluar.


Riuh dari semua siswa kelas eks XII semua merasa bahagia. Melihat nomor milik masing-masing terpampang nyata di mading sekolah membuat mereka berjejal untuk melihat. Meski saling berebutan, suasana tetap aman dan kondusif. Mereka memahami aturan demi kebaikan sesama.


''Horeeeeee, aku luluuuuusssss .... '' teriak para siswa yang sudah menemukan nomor mereka. Suara teriakan 'lulus' terlontar secara bersahut-sahutan. Suasana gegap gempita mengiringi ruang halaman sekolah tersebut.


Teriakan kebahagiaan dari berbagai siswa memenuhi seisi penjuru. Masing-masing siswa yang sudah membawa cat untuk saling senprot dan juga spidol permanen mendarat di baju putih mereka. Berbagai warna mengukir bentuk yang unik dan ada juga lucu. Berbagai ekspresi tertuang pada seragam putih abu-abu.


''Wei, kita foto-foto sama wali kelas, yuk!'' seru sang mantan ketua kelas. Ya, mantan karena mereka sudah tidak akan belajar lagi di tuang kelas yang pernah mereka singgahi untuk menimba ilmu.


Semua sibuk pada guru dan wali kelas mereka masing-masing. Pricil dan juga para teman-temannya sudah siap berpose untuk mengabadikan momen terindah mereka dengan ponsel masing-masing yang di gerakkam oleh teman dari kelas lain. Saling tolong menolong agar semua dapat bagian.


Usai dengan urusan di sekolah, hampir semua siswa ikut berkonvoi memenuhi jalanan kota. Dari berbagai sekolah di kota jambi, saling bertemu di alur jalan dengan pakaian yang sama. Penuh coretan pilok dan spidol. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah setiap anak.


Tiiin tiinn


Suara klakson motor berhenti tepat di hadapan Pricil dan juga Wina. Tio beserta Angga datang bersama untuk menemani momen konvoi kakak kelas mereka. Putri sudah duluan ikut rombongan pertama.


''Loh, kalian?'' seru Wina dan juga Pricil bersamaan.


''Selamat, ya, sayang! kita nggak bisa bareng lagi pergi sekolahnya. Bakal jarang ketemu juga, selamat sudah LULUS!'' ucap Tio pada Pricil. Angga pun juga mengucapkan hal yang sama pada Wina.


''Ayo, naik! mau ikutan konvoi juga, kan?'' ucap Angga. Langsung saja, Wina naik ke belakang kendaraan Angga. Begitu pun dengan Pricil.


Angga berada di posisi sejajar dengan Tio. Mereka beriringan mengikuti kendaraan eks siswa lain di padatnya jalan raya. Mengobrol masing-masing dengan pasangan. Suara teriakan 'lulus' pun masih saling bersahutan.


Tio menarik tangan Pricil agar melingkari pinggangnya. Sudah menjadi kebiasaannya yang membuat dia nyaman dengan pelukan sang kekasih. Pricil selalu saja malu-malu, tetap apa-apa Tio yang mengarahkannya.


''Masak mau di ajarin terus sih, sayang. Kalau lagi di jalan tuh pegangan, kalau jatuh nanti aku yang repot, loh!'' titah Tio.


''Alahh! modusnya kamu aja, orang pelan-pelan gini, mana bakal jatuh.'' Protes Pricil. Namun, tangannya menurut saat Tio meminta untuk berpegangan pada lingkaran pinggangnya.


''Kok, modus sih, yang! berkali-kali aku bilangkan, biar romantis gitu loh, sayangku .... '' gemas Tio. Jemari Pricil di remasnya dengan lembut.


Pricil hanya menanggapi dengan cengiran kuda di balik punggung Tio. Kepalanya bersandar dengan nyaman di sana. Tio pun mencubit pipi Pricil dengan susah payah karena sambil mengendarai motor.


''Tangannya tolong di kondisikan! fokus aja bawa motornya,'' gerutu Pricil. Namun, sembari terkekeh bersama. Sedangkan di sisi mereka ada Angga dan juga Wina. Mereka pun tak kalah dengan Tio dan Pricil. Yang membedakan adalah, mereka sambil bercerita khayalan masa depan.


Tak terasa, mereka sudah mengitari setiap lingkaran lampu merah di setiap jalan yang mereka lewati, mulai dari kawasan A hingga kawasan H. Meski memenuhi jalanan, tapi tetap ada ruang dan celah untuk kendaraan lain. Beruntung tidak ada polisi yang menghentikan kebahagiaan mereka semua.


Waktu sudah memasuki maghrib, Tio mengantar Pricil pulang ke rumah pamannya. Lalu setelah itu, dia berpamitan pada sang kekasih.


''Makasih, ya, hati-hati di jalan!'' seru Pricil.


''Iya, sayang, kamu langsung mandi dan jangan lupa sholatnya. Aku pergi dulu,'' dia melambaikan tangannya dan berlalu dari hadapan Pricil.


***


Jam enam pagi, Pricil sudah rapi dengan seragam kerjanya. Rambut di cepol menggunakan hairnet dan ber make up sesuai standar hotel. Tas sudah tersandang di bahu, dia siap berangkat bekerja karena mendapat shift pagi.


Tio sudah menunggu di depan rumah untuk mengantarkan sang pujaan hati bekerja, sekalian dia berangkat ke sekolah.


Cantik dan wangi semerbak parfum memenuhi indra penciuman Tio setiap dia mengantar Pricil. Namun, aromanya begitu lembut dan menenangkan. Mereka pun berangkat menunuju tempat Pricil bekerja terlebih dahulu baru setelahnya Tio ke sekolah.


-


-


-


Halo guys, ada yang rindu sama cerita ini nggak?


Oh, nggak ada ya, ya udahlah. Author mau tamatin aja. Terimakasih buat yang masih setia mampir ke cerita ini. Semoga kita semua selalu di berikan kesehatan dan kemurahan rejeki serta di mudahkan segala urusan di dunia nyata maupun di dunia halu.


Jangan lupa tinggalin jejaknya, like 👍, vote, komen, dan juga giftnya🌹

__ADS_1


Terimakasih sekali lagi.


Satu bab lagi mudah-mudahan bisa tercapai. Amiinnnn.


__ADS_2