
Waktu yang sama.
Chandra sedang duduk menatap langit malam di temani dinginnya suasana hutan gunung kerinci. Ia memikirkan kabar Pricilia. Keponakan yang sangat dirindukan olehnya. Selama Pricil berada di kampung orang tuanya, ia tidak bisa menghubungi lewat sambungan telepon. Sedangkan dirinya belum pulang dari tempat liburan.
Dalam keremangan malam, Alya melihat sosok Chandra yang duduk di sebuah pohon tumbang sambil menatap langit. Ia berinisiatif untuk mendekat dan mengajak mengobrol. Cukup sudah acara sok cuek yang sedang ia lakukan dari semalam. Ia ingin kembali seperti semula, menjadi Alya yang periang dan cerewet.
''Chand!'' tegur Alya. Ia duduk di sebelah Chandra dan menselonjorkan kakinya. Ia ikut menatap kegelapan malam yang membentang.
''Eh!!'' Chandra kaget mendengar sapaan dari Alya. Ia menggeser bokongnya ke samping agar Alya tidak sempit.
''Ngapain kamu, ngelamun?'' tanya Alya. Ia menatap mata Chandra yang terlihat sendu.
''Siapa juga yang ngelamun. Enggak, kok!'' tukas Chandra.
''Apa kamu sedang merindukan seseorang?'' tanya Alya mulai menyelidiki sumbernya.
Chandra hanya menjawab dengan menggedikkan bahu dan mencebikkan bibirnya. Ia enggan untuk mengakui kebenarannya. Baginya, rasa yang ia miliki saat ini hanya ia sendiri yang boleh tahu. Orang lain tak perlu ikut campur. Begitulah pikiran Chandra mengenai isi hatinya.
''Oh, apa liburan kali ini enggak bisa bikin kamu seneng?'' Alya kembali melontarkan pertanyaan. Walaupun sebenarnya ia penasaran, lebih baik mengalihkan kegalauan Chandra ke hal yang lain.
"Lumayan!" jawab Chandra dengan malas.
"Apa kamu enggak nyaman?" tanyanya lagi.
"Dalam hal apa?!" tanya Chandra bingung.
"Kalau kita duduk berdua kayak gini." Jawab Alya. Ia menggeser bokongnya ke arah Chandra. Hingga tidak ada jarak pembatas, alias menempel, mepet, dan dempet. Ia ingin sedikit menggoda Chandra agar ia tidak bersikap acuh tak acuh.
"Alya! Ini sudah diujung. Kamu geser kesana!" pinta Chandra agar Alya mau bergeser.
"Jawab dulu, dong." Alya tak mau menurut.
"Jawab yang mana?" Chandra meneliti pertanyaan dari Alya.
"Kamu sedang merindukan seseorang kan? ngaku aja, dari pada kamu pendem sendiri. Nanti jadi jerawat!" tukas Alya.
"Nggak usah sok tau, Al. Aku cuma kangen rumah. Tidur di kasur dan bisa bebas guling-guling" ujar Chandra. Ia masih tak terima tuduh sedang merindukan seseorang. Walaupun memang kenyataannya begitu.
__ADS_1
"Tapi, aku enggak percaya tuh!" jawab Alya acuh.
"Ya, udah. Terserah!" sahut Chandra cuek.
"Kayaknya, di sekitar sini ada es batu, Chand!" ujad Alya.
"Ngada-ngada kamu, Al. Jelas-jelas disini adanya daun kering." Timpal Chandra.
"Beneran, loh. Kok, kamu enggak percaya, sih! Apa perlu aku buktikan?" Alya terus melancarkan aksinya agar Chandra bisa menghilangkan galau yang diderita.
Chandra pun mulai memperhatikan wajah Alya, mencari keseriusan dari perkataan Alya yang baru saja dilontarkan melalui bibir tipisnya.
"Penasarankan?" sambung Alya. ia mengacungkan telunjuknya ke hadapan Chandra.
"Apa emangnya?" Chandra pun penasaran, tetapi ia mengalihkan tatapannya. Kembali menatap langit malam yang tak bersahabat.
"Ada, kok. Es batunya berada di sampingku." Jawab Alya.
Otak Chandra berfikir keras sejenak untuk mengkaji kalimat yang di ucapkan oleh Alya. Setelah itu, ia tersadar. Bahwa yang dimaksud Alya adalah dirinya sendiri.
"Kenyataan, kan?" jawab Alya.
"Sembarangan! aku kan udah dari dulu gini sifatnya. Bukan berarti sama kayak es batu!" Sahut Chandra yang tak terima dirinya di samakan dengan batu es.
"Hahah! Santai, dong. Jangan sewot. Aku nggak bisa liat kamu menung-menung. Ntar kesambet, siapa yang mau Ruqiahin kamu!" seloroh Alya.
"Kamu ngedo'ain aku kesambet!?" Chandra menjawab dengan mode tanduk memanjang.
"Enggak, sih. Cuma ngarep doang!" Alya mencebik.
Tiba-tiba, angin bertiup dan hawa dingin menyeruak menerpa tubuh keduanya. Dedaunan di sekitar berterbangan ke udara. Langit tak lagi bersinar. Mengganti posisi menjadi mendung gelap dan pekat.
"Chand, masuk yuk! mau hujan, nih!" seru Alya. Ia menarik lengan Chandra agar segera berdiri. Belum selesai keduanya berdiri sempurna, langit telah menurunkan hujaman air yang membasahi bumi.
Zrassss!!
Hujan turun dengan sangat deras. Mereka langsung basah dan berlari menuju tenda masing-masing. Terlihat beberapa teman pendaki lain juga melakukan hal yang sama. Tunggang langgang menuju tenda perkemahan.
__ADS_1
Belum sampai masuk ke dalam tenda, angin bertiup sangat kencang. Daun serta ranting kering berjatuhan menimpa tenda yang di tempati oleh Alya dan Lia. Beruntung tidak merusak tenda mereka. Hanya menjadi morat marit karena tiupan angin.
Chandra langsung masuk ke dalam tenda dalam keadaan basah. Sama halnya dengan Alya. Alya langsung duduk di samping Lia yang sedang berbaring ngerungkel karena cuaca dingin.
"Anginnya kenceng banget, Al!" ucap Lia. Ia mengeratkan selimut karena ketakutan.
"Ia, Li, aku takut kenapa-kenapa!" Alya duduk memeluk kedua lututnya.
"Bajumu basah, tadi dari mana?" tanya Lia. Ia sengaja menyembulkan tangannya dan memeriksa pakaian yang di kenakan oleh Alya.
"Cuma duduk di ujung sana," Alya mengarahkan dagunya ke arah selatan.
"Kamu nggak ganti? nanti masuk angin, Al!" Lia memberi saran.
"Bajuku udah nggak ada lagi yang bersih, Li. Mau aku gantung aja di atas ini. Biar kering terus aku pakek lagi." Alya menunjuk ujung tenda untuk menggantung baju yang sedang ia kenakan untuk di jemur di atasnya.
"Pake kaosku, mau?" Lia menawarkan pinjaman, "ambil aja di tas.
"Kamu bawa baju yang longgar? kalo yang biasa kamu pake mana muat di badanku!" ujar Alya.
"Ada yang longkar. Kaos katun lewer warna putih" Lia mengubah posisinya menjadi duduk menghadap ke arah Alya. Ia mengambilkan baju yang ia maksud.
Sementara di luar tenda, hujan masih turun. Namun, sudah tidak terlalu deras. Membuat penghuni tenda merasa lega.
"Nih!" Lia menyodorkan baju kaos putih ke hadapan Alya.
Alya langsung menanggalkan baju yang ia kenakan dan mengganti dengan vaju yang di berikan oleh Lia. Ukurannya pas di tubuh Alya yang berisi. Karena jenisnya lewer, jadi memperlihatkan tubuh bagian depan. Dada Alya terekspos sempurna. Belahan dada yang ia miliki, terpampang begitu nyata. Untung di dalam tenda itu hanya mereka berdua. Meski gelap, tapi masih kelihatan karena mereka menggunakan lampu penerang.
"Aduh, bokongku kayak basah-basah, nih!" ujar Alya.
"Iya, Al. Aku juga ngerasain, sih. Dingin-dingin gimana gitu!" sambung Lia.
"Coba berdiri dulu, deh. Kita cek, mungkin air hujannya tergenang!" saran Alya.
Mereka berduapun langsung berdiri menunduk dan menyinari alas tidur mereka. Benar saja, air hujan itu menembus alas tidur yang mereka gunakan.
"Yah! tembus, nih!" ucap Alya dan Lia bersamaan.
__ADS_1