
Setelah sampai di parkiran motor, Tio akan segera mengantarkan Pricil pulang ke rumah. Hari sudah sore dan saat dalam perjalanan, suara azan ashar menggema.
Tio menghentikan motornya di pekarangan masjid di pinggir jalan dan mengajak Pricil untuk singgah di sana.
"Kita sholat dulu yuk" ajak Tio saat keduanya sudah turun dari motor.
Pricil mengiyakan, lalu mereka berpisah untuk berwudhu di area masing-masing. Setelah kurang lebih 15 menit, Tio telah menunggu di atas motornya. Di lihatnya Pricil sedang memasang sepatunya di sisi tangga. Lalu setelahnya Pricil menghampiri Tio.
"Udah, yok..." ajak Pricil.
Tio menatap wajah Pricil yang terlihat lebih fresh jadi ia tak bisa menyembunyikan senyumannya. Dan ia hanya menganggukkan kepala. Kemudian kembali berbaur di jalanan menuju rumah Pricil.
Setelah sampai di depan rumah Pricil, terlihat di teras tersebut sang nenek sedang berkacak pinggang melihat ke arah Pricil dan Tio yang berhenti di tepi jalan. Tio menatap sang nenek dan membungkukkan sedikit kepalanya untuk berpamitan. Setelah Pricil melangkah untuk masuk ke dalam rumah, nenek menghentikan langkahnya.
"Kelayapan kemana kamu?" tanya nenek Yana dengan garang.
"Tadi, beli seragam dulu nek. Rok aku robek.." jawab Pricil dengan hati-hati dan wajahnya tertunduk. Jemarinya saling bertautan untuk menghilangkan rasa takut yang tiba -tiba mendera tubuhnya.
"Alasan!! Sudah jelas terlihat kamu pulang di antar bocah itu. Pasti kamu kelayapan kan?? Kamu mesih kecil sudah berani pacaran! Sekolah dulu yang bener!"
"Aa.. Aku enggak pac.." ucapan Pricil langsung di potong oleh nenek Yana.
"Sudah! Jangan banyak alasan. Kamu tidak tahu? Kami di rumah mencemaskan kamu yang tidak memberi kabar! Kalau terjadi sesuatu sama kamu siapa yang mau tanggung jawab??" bentak nenek Yana marah dan biji matanya hampir keluar. Pricil hanya menunduk, ingin menjelaskan sesuatu tapi belum di beri kesempatan.
"Sana masuk!!" perintah nenek Yana dengan lantang. Pricil bersungut-sungut masuk ke dalam rumah sambil membuka sepatunya. Kemudian, Pricil langsung mengunci pintu kamarnya.
Jantungnya berdebar-debar. Baru kali ini neneknya marah menyeramkan. Padahal juga, baru pertama kali sang nenek melihat ia pulang di antar oleh teman lelakinya.
Setelah selesai mengganti pakaian, Pricil duduk bersila di atas ranjangnya. Masih takut untuk keluar untuk mandi. Jadi, ia memilih untuk beristirahat saja di kamar hingga kelam menjemput.
Usai menunaikan ibadah maghribnya, Pricil menerima notifikasi pesan dari Tio. Ia menanyakan keadaan Pricil.
[ Lia, maaf. Pasti kamu di marahin sama nenek tadi kan? ] pesan dari Nyebelin bin ngeselin ia baca.
__ADS_1
[ Cuma di tanyain aja. Enggak di marahi. ] jawab Pricil berbohong. Lalu ia mengirim pesan balasan.
[ Serius?? Pokoknya aku minta maaf ya, kamu sekarang sedang apa? ]
[ Istirahat ]
Pricil membalas pesan itu dengan singkat, lalu ia meletakkan ponselnya dan mencari sesuatu di penyimpanan pakaiannya. Di raihnya blazer yang waktu itu ia gunakan dan belum ia kembalikan ke pemiliknya.
"Aku kok bisa lupa sih, belum ngembaliin ini. Besok aja deh, sekalian aku kembaliin sama celananya," ucap Pricil lalu menyimpan kembali blazer tersebut.
**
Dua hari kemudian,
Pricil sedang menenteng paperbag berisi balzer dan juga celana training milik Tio. Dan ia akan mengembalikannya hari ini. Pricil sedang duduk di bawah pohon beringin sambil mengamati setiap siswa yang lewat. Sementara kedua sahabatnya sudah pulang duluan, karena Pricil tidak ingin di temani.
Diva dan Devi melintas menuju pintu gerbang dan akan keluar. Namun, langkah keduanya terhenti. Pricil yang melihat dua ulat entung itu langsung menunduk dan bersembunyi di balik motor yang sedang terparkir. Paper bag yang ia pegang, ia peluk dengan erat. Saat ini Pricil sedang tidak ingin terlibat perdebatan. Karena kedua sahabatnya tidak ada, jadi tidak ada yang bisa membantunya jika kedua ulat itu mengganggunya.
Diva mengedarkan pandangannya di sekitaran parkiran untuk melakukan sesuatu. Berhubung keadaan sedang sepi, Diva langsung beraksi. Ia menghampiri motor F.U putih di pinggir panggar pembatas.
"Oke!" Devi megacungkan jempol tangannya.
Diva mulai berjalan dengan gerakan cepat menghampiri motor sasarannya, lalu ia menunduk mencari tutup lubang angin. Diva mengempeskan ban motor itu di bagian depan. Setelah berhasil, ia berdiri dan merapikan tatanan rambutnya. Lalu ia berjalan santai menghampiri Devi yang masih menunggunya di posisi semula.
"Beres, yuk cabut!!" ajak Diva sambil melangkahkan kakinya mendahului Devi.
Sementara itu, Pricil yang melihat dengan jelas apa yang baru saja di lakukan oleh Diva menjadi geram dan mengepalkan tangannya.
"Dasar cewek ulat kurang belaian!!!" umpat Pricil. Dan ia pun kembali duduk di bawah pohon beringin, karena si ulat sudah menjauh dan tak lagi terlihat di matanya.
5 menit kemudian, Tio dan Angga datang menghampiri Pricil yang sudah menunggu. Karena mereka sudah janjian akan bertemu di sana. "Aku duluan ya, Yo" pamit Angga.
"Yup!" sahut Tio.
__ADS_1
"Ini yang kemarin kamu pinjemin. Makasih banyak. Maaf kalo kelamaan," ucap Pricil sambil menyerahkan paper bag nya, lalu di terima oleh Tio diiringi dengan senyum manis yang membuat Pricil jadi ikut tersenyum.
"Sama-sama..." Tio menyimpannya ke dalam tas sekolahnya. "Pulang bareng aku aja, enggak usah naik angkot" Tio menawarkan jasanya.
"Tapi..." Pricil menjeda kalimatnya.
"Udah, enggak apa. Ayuk!" Tio menarik lengan Pricil dan menyuruhnya menunggu sebentar karena ia akan mengeluarkan dulu kendaraannya.
Saat ia sudah memutar stop kontaknya, stang motornya terasa berat. Matanya langsung menatap ban yang sudah kempes itu.
"Yahh!! Kempes!"
Pricil mendekat, dan ia mengatakan bahwa tadi ada yang sengaja mengempeskan ban motornya.
"Dorong aja, biar aku bantu. Tadi ada yang sengaja ngempesin ban kamu" ucap Pricil dengan datar.
"Siapa?" tanya Tio. Tatapan matanya terlihat heran.
"Yang udah ngerusak seragamku," jawab Pricil.
Plakk!
Tio memukul stang motornya dengan geram saat tau siapa pelakunya. Ia akan membuat perhitungan nantinya dengan cewek pengganggu itu.
'Awas aja besok. Aku akan balas!' ungkap Tio dalam hati.
"Jadi mau di bantuin nggak?. Nggak usah marah-marah sama orang yang nggak ada di hadapan kamu" sambung Pricil.
Tio akhirnya emasang muka pasrah, lalu ia mendorong motornya menuju bengkel terdekat. Pricil akan membantu mendorong dari belakang tapi di cegah oleh Tio.
"Aku bisa sendiri kok, nanti tangan kamu malah pegel" ucap Tio lembut.
"Oh, ya udah. Aku temenin aja ke.. Bengkelnya" ucap Pricil.
__ADS_1
"Kamu tunggu aja di halte, ini cuma ngisi angin aja kok sebentar" ucap Tio sambil memerintahkan Pricil untuk menunggu di tempat biasa ia menunggu angkot.
Tio menyebrangi jalan untuk menuju bengkel, lalu ia meminta tambah angin pada ban motornya. Pricil hanya mengamatinya dari seberang jalan.