
Setelah berpamitan pada Ali, Angga dan Tio kembali melanjutkan kegiatan mereka. Angga hendak mengajak Tio kembali menemui papanya. Tetapi, Tio ngotot ingin mendatangi rumah pak Atmaja. Mereka berdebat sepanjang perjalanan. Angga menyuruh Tio untuk pergi sendiri bertamu ke rumah pak Atmaja. Namun, Tio meminta Angga untuk menemaninya ke sana.
"Ayo, Ga, temenin aku ke rumah itu." Pinta Tio. Dengan nada memaksa.
"Enggak! kita akan kesana, tapi nanti. Setelah ijin sama Papa!" tolak Angga.
"Sekarang, Ga. Ayo! Aku butuh kepastian, tolong temenin aku, Ga!" pinta Tio. Masih terus memaksa Angga agar mau menemaninya.
"Pokoknya enggak! Kalau mau pergi aja sana sendiri. Kamu liat sendiri di sana lagi rame tamu undangan. Dasar bocah geblek!" oceh Angga. Ia melangkah lebih cepat mendahului Tio. Dengan segera, Tio mengejar langkah Angga. Dan menarik lengan Angga agar berhenti.
"Ga, ayolah, bentar doang kok! aku penasaran banget." Mohon Tio.
Angga langsung merogoh kantong plastik yang berisi sayuran tadi dan meraih 1 buah gambas. Lalu ia pukulkan ke kepala Tio.
plaakkk!
Angga menggeplak kelapa Tio dengan kuat, sayur itu pun patah terbagi menjadi dua.
"Aduh!! Kamu mau bikin kepalaku agar-agar otak?!" marah Tio. Ia memelototin Angga yang terlihat kesal padanya.
Ingin rasanya Angga tertawa melihat raut bengis yang di tunjukkan oleh Tio. Di pandangan Angga, Tio itu sahabat yang imut. Mau dia semarah apapun, wajahnya tetap menggemaskan. Beda halnya jika dalam pandangan Pricil. Wajah Tio adalah wajah cowok ternyebelin di dunia.
(Ada yang kangen sama Pricil nggak, nih? Sabar ya, kalian udah melewati beberapa episode tapi belum juga Pricilnya muncul. Mungkin di part ini author belum juga bisa tampilin Pricil. Tunggu Chandra dan Alya pulang dari gunung dulu)
Angga tak tahan lagi untuk menahan tawanya. Akhirnya pecah juga suara tawanya dan terbahak-bahak.
''Bwahahaha,'' Angga melanjutkan perjalanannya yang masih separuh lagi.
"Eh! Malah di ketawain. Temen nggak ada akhlak, nih!" maki Tio. Ia menyusul langkah Angga. Kini, Tio pun melakukan hal yang sama seperti Angga. Ia mengeluarkan sebiji sayur oyong dan ia langsung mengarahkan ke kepala Angga.
Bugghhh!
"Awh, ******!! Sakit, gilak!" umpat Angga. Ia mengusap kepalanya yang kena timpuk. angga merogoh kantong plastik miliknya.
"Rasain!! Emang enak! Gitulah rasanya di timpuk, bwleekk!" Tio mengejek Angga dan berlari dengan kencang. Ia sudah melihat pergerakan Angga yang akan kembali membalas perbuatannya.
__ADS_1
Siiuuuunng
Wusshh
Angga melepar sayur gambasnya sambil berlari mengejar Tio. Aksi kejar mengejar, lempar melempar sayuran pun terjadi. Dan tak terasa, mereka sudah sampai di hadapan pak Yuan. Beliau berkacak pinggang melihat kelakuan putranya yang seperti anak kecil tidak diberi mainan kesukaan.
"Hoi!" suara berat pak Yuan menghentikan aksi dua bocah di depannya.
Tio dan Angga langsung berhenti dengan memegang kacang panjang dua helai di masing-masing tangan kanan mereka. Keduanya bersiap-siap untuk main cambuk-cambukan.
"Eh! Papa?" Angga nyengir menonjolkan giginya.
"Om?" cengir Tio. Ia menggaruk lehernya yang terlilit kacang panjang hasil perbuatan Angga.
"Sudah habis berapa kilo sayuran yang kalian buang, hah?!" bentak pak Yuan. Beliau meneliti sepanjang jalan yang mereka lewati tercecer sayuran.
Dua bocah itu pun sontak melihat ke kantong plastik milik masing-masing dan saling tatap.
"Setengah kantong!?" Tio dan Angga beradu suara. Mereka pun baru sadar bahwa sayuran yang tadi penuh tersisa hanya setengah kantong.
"Gara-gara kamu, yang mulai duluan!" Tio pun tak mau disalahkan.
"Berhenti berantem! Simpan sayuruan itu! Nanti kita masak di rumah." Titah pak Yuan. Dan permintaannya tidak ingin dapat bantahan. Matanya menatap tajam ke arah dua anak didepannya.
Angga dan Tio langsung meletakkan sayuran tersebut ke jalan rumput yang mereka injak saat ini dengan serentak.
***
Pindah ke gunung dulu ya. Ini waktunya sama.
Siang ini, tim Chandra sedang dalam perjalanan pulang dari kerinci ke kota jambi. Selama dalam perjalanan pulang, Alya hanya diam dan menatap ke arah luar jendela. Chandra yang duduk tepat di belakang Alya pun sama-sama bungkam. Tak ada sepatah kata yang di keluarkan. Sedangkan yang lainnya tertidur karena lelah. Hanya sopir dan mereka berdua penumpang yang melek.
Hening menyelimuti suasana mobil tersebut. Si sopir pun sepertinya enggan menyalakan musik atau pun radio sebagai pengisi keheningan.
Alya masih teringat dengan kejadian semalam. Saat dalam gelap ia membongkar alas tidurnya di dalam tenda bersama dengan Lia. Lampu penerang memang di nyalakan, tetapi tertutup alas yang sedang mereka angkat. Pada saat itu, Chandra dan ilham datang menghampiri.
__ADS_1
Malam itu, Chandra dan Ilham yang hendak tidur mendengar suara berisik dari tenda sebelah mereka. Yaitu tenda Alya dan juga Lia.
"Mereka kenapa ya, Chand? Kok berisik banget. Pake acara tembus-tembus segala. Apaan sih, yang tembus!" tanya Ilham pada Chandra.
"Nggak tau! Coba ajalah kita cek dulu, siapa tau tenda mereka bocor kena ranting pohon!" ujar Chandra.
Mereka berdua akhirnya keluar dari dalam tenda, Chandra menyalakan senter pada ponselnya dan diarahkan ke tenda di sebelahnya.
Ilham langsung menyibak tenda bagian pintu masuk agar dapat melihat hal apa yang sedang terjadi. Ilham melihat Lia sedang menaikkan alas tendanya. Sedangkan Chandra mengarahkan cahaya senter ponselnya ke arah Alya.
Alya yang sedang menggunakan baju seksi alias baju terbuka di bagian belahan dadanya, langsung terpampang jelas dari sinar senter. Chandra mendelik menyaksikan benda montok itu. Sedangkan Alya reflek melepas alas yang sedang ia pegang demi menutup aset kembarnya.
"Chandra!" pekik Alya. Tangannya menyilang didepan dada. Meski tak tertutup semua, paling tidak ia sudah berusaha mengurangi sebagian asetnya yang terlihat.
"Maaf!" ucap Chandra. Matanya mengalih menatap ke arah lain. Namun, Alya malah semakin kesal dan berang.
"Chandra!! Pergi ketempatmu sana!" perintah Alya.
Ilham pun terkejut saat Alya membentak Chandra. Ia telah selesai membantu Lia, sedangkan Lia sudah berada di luar tenda bersama Ilham untuk memudahkan melipat alas tidur mereka.
"Ada apa, Chand?!" Ilham menghampiri dan matanya pun terbelalak menyaksikan pemandangan yang di sinari oleh Chandra.
Plaakkk!
Ilham mengeplak lengan Chandra dan ponsel yang di pegang pun terjatuh ke tanah becek.
"Sakit, Ham!" Chandra menatap Ilham tajam. Ia padahal tidak ngapa-ngapain kok malah di pukul.
"Kamu udah gilak, ya?" ucap Ilham. Ia memungut ponsel Chandra yang kotor dan di serahkan kembali ke tangan Chandra.
"Alya itu malu, malah kamu senterin terus! Otakmu kemana, hah?" lanjut Ilham.
Alya meraih kembali baju basahnya untuk menutup aset kembarnya yang terekspos. Dan ia memilih keluar dari dalam tenda dengan menyenggol bahu Chandra yang menghalangi jalan.
"Minggir!" lirih Alya tanpa berani menatap wajah Chandra.
__ADS_1