
Tio menjadi gemas melihat wajah Pricil yang berubah warna karena tersipu. Ia meraih wajah Pricil agar menghadap ke arahnya. Tatapan mata Pricil langsung tertunduk ke arah jari jemarinya yang sedang menggenggam kaleng minuman.
"Lihat aku sayang...." ucap Tio dengan merdu. Membuat bulu roma Pricil merinding seketika. Tio menarik perlahan kaleng yang sedang di genggam Pricil dengan perlahan lalu ia letakkan di atas meja.
Tio meremas jari jemari Pricil yang terasa dingin, dan tangan sendirinya pun merasa dingin. Suhu tubuhnya tiba-tiba memanas.
Tio menarik dagu Pricil agar netranya menatap ke arahnya. Tatapan mereka saling bertemu, Tio menatap dengan dalam netra coklat milik Pricil dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Pricil.
"Boleh aku meminta sesuatu sama kamu"
"Hah!" jawab Pricil cengo.
"Boleh ya?.." Tio kembali meraih jemari Pricil. Di tatapnya dengan lekat jemarinya yang bertaut satu sama lain. Dan ia kemudian melepaskannya.
"Kamu... Mau, minta apa se, sebenarnya" ucap Pricil dengan penuh keraguan. Fikirannya sudah melang-lang buana memikirkan hal-hal negatif tentang permintaan Tio. Pasalnya, mereka hanya berduaan di rumah besar ini.
"Sebentar," Tio beranjak dari duduknya menuju ke dalam kamar dan meraih ponselnya. Lalu ia kembali duduk menjadi bersisian dengan Pricil. Ia membuka layar ponselnya dan menekan aplikasi kamera pada ponselnya.
__ADS_1
"Hadap kesini yank,," Tio mengarahkan kamera ke arah wajahnya dan mendekat ke wajah Pricil.
"Aku cuma mau minta foto berdua sama kamu, jangan tegang. Ayo senyum" sambil menghadap kamera dan tersenyum. Pricil tersenyum dengan terpaksa, jantungnya meronta-ronta di dalam sana karena berada sangat dekat di situasi begini.
Hal yang sama pun di rasakan oleh Tio. Namun, ia berusaha senormal mungkin agar tidak gugup. Tio mengambil beberapa gambar sambil mengarahkan kameranya ke depan dan ke sanping.
"Sekali lagi boleh ya, Lia. Aku ingin yang lebih dekat. Buat kenang-kenangan"
Pricil masih terdiam, 'buat kenang-kenangan? Kayak mau pergi ke alam lain aja' ucap Pricil yang hanya dalam benaknya.
Tio perlahan merangkul pundak Pricil dan mendekatkan wajahnya lalu menghadap ke kamera.
Ckriiikk.
Suara kamera yang kesekian kalinya terdengar di telinga Pricil serta senyum kakunya masih terpasang di sudut bibirnya.
"Udah, makasih" Tio langsung pindah tempat duduk menjadi berhadapan dengan Pricil.
__ADS_1
"Kita pergi cari makan yuk" ajak Tio setelah beberapa saat hening. Karena Tio mengotak atik ponselnya sejenak.
"Anterin aku pulang aja"
"Kamu nggak laper?"
''Enggak, yuk. Aku takut ada setan di rumah ini!'' ucap Pricil seraya berdiri. Dan melangkah melewati Tio.
"Oke, aku akan antar kamu pulang. Tapi, kita makan dulu" Tio menyusul langkah Pricil.
Mereka kini sedang menuruni tangga kenuju pintu keluar. Pricil akhirnya menurut lagi dengan permintaan Tio. Dalam hati ia merasa sangat jengkel mendapat banyak permintaan dari manusia yang sangat menyebalkan ini.
Mereka pergi mencari makan di sekitaran area terminal dan pilihan mereka jatuh pada warung rujak mie. Mereka makan sejenak di sana. Lalu setelahnya Tio mengantar Pricil pulang ke rumah.
Selama dalam perjalanan, Tio tidak mengizinkan tangan Pricil lepas dari pinggangnya agar lengannya tetap melingkar di sana. Hingga sampai di lorong rumah Pricil baru Pricil melepas tangannya dan tidak di larang oleh Tio.
Ia mengantar hingga sampai di depan teras. Tio mencari keberadaan seseorang di sana. Tetapi ia tidak menemukan. Kondisi rumah sepi, tapi pintu terbuka lebar. Tio pun pamit pada Pricil.
__ADS_1