
''Bang! Ojek.'' Pricil memanggil kang ojek dan langsung naik begitu motor itu berhenti.
''Kemana, Neng?'' Kang ojek menyerahkan helm ke pricil.
''Hotel Queen, Bang.''
Motor pun melaju menyusuri jalanan yang ramai. Pagi ini Pricil tidak diantar oleh sang pujaan hati karena Tio sedang ujian nasional. Tanpa terasa, waktu terus berlalu dan kini mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih dua tahun. Pricil selalu memberi semangat pada Tio agar bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tak lama kemudian, Pricil pun tiba di tempat kerja. Dia langsung menuju locker akan tapi sebelum itu absen terlebih dahulu. Setelahnya dia merapikan make up sebentar dan mulai masuk ke resto bagiannya.
Begitu Pricil membuka pintu masuk, dia bertabrakan dengan seseorang bagian kitchen. Hampir saja tubuh Pricil terjatuh, tapi langsung di tahan oleh seseorang itu. Ia adalah lelaki yang selalu menjahili Pricil tapi juga sangat perhatian. Mereka saling bersitatap sejenak, jantung Doni berdegup kencang berada di posisi tanpa jarak dengan gadis yang selama ini hanya bisa dia perhatikan.
''Uppss! Maaf!'' ucap Doni. Tangan kekarnya masih menahan pinggang Pricil dengan kuat. Hembusan aroma wangi pada tubuh Pricil merasuk ke indera penciuman Doni yang membuatnya semakin grogi.
''Aww! Sakit, Kak!'' Pricil meringis.
''Oh! I-iya, Sil. Maaf!'' Doni semakin gugup dan langsung melepas tangannya dari tubuh Pricil, lalu Pricil pun langsung sigap berdiri kembali dan merapikan seragamnya.
''Iya, Kak. Hati-hati,'' ucap Pricil. Dia pun langsung masuk karena harus segera melengkapi menu untuk sarapan pagi. Setelah sampai di restonya, Pricil segera mengecek pada meja dan juga menu-menu yang lain.
Doni yang baru saja masuk ke pantry pastry mengelus dadanya yang masih berdetak kencang dan belum stabil seperti pada umumnya.
''Huh! Gila banget, sih. Sadar, Don, dia udah punya pacar. Lu nggak boleh jatuh cinta sama pacar orang!'' gumam Doni dan di dengar oleh rekannya yang melihat adegan mereka.
''Sebelum janur kuning melengkung, semua masih bisa di tikung,'' celetuk Rian yang sedang memecahkan telur dan memasukkannya ke dalam wadah.
''Ehh! Gila, lu. Pepatah dari mana itu? Ogah ya, gue ini cowok baik-baik. Nggak kayak, lu. PK!'' balas Doni sambil terkekeh.
***
Ujian berakhir, Tio dan teman-temannya sedang merayakan kelulusan sekolah. Haru biru, sorak sorai, suka dan duka mengarungi dunia belajar di tingkat akhir akhirnya selesai. Tinggal melanjutkan ke pendidikan selanjutnya yaitu menjadi maha siswa.
Tio dan Angga merayakan hari terakhirnya mengenakan seragam putih abu-abu dwngan pergi ke sebuah pantai. Tio meminta Pricil untuk ikut menemaninya bersama dengan Wina. Hanya Putri yang tidak bisa ikut bersama mereka karena dia kuliah keluar negeri.
Di Pantai
Kedua pasangan muda sedang berlari-larian kecil menelusuri bibir pantai dengan canda tawa serta juga kekehan kecil terdengar begitu merdu.
Setelah puas bermain, mereka pun duduk bersama sambil menatap senja. Duduk berjejer bersama pasangan masing-masing mengkhayalkan masa depan.
"Sayang, nanti kalau kita udah nikah, kamu mau punya anak berapa?" tanya Tio sambil merangkul bahu Pricil.
"Aku mau dua aja, jadi nanti aku urus satu, dan satunya lagi, kamu!" Pricil menyandarkan kepalanya di bahu Tio dan Tio pun mengelus surai Pricil dengan lembut.
"Kenapa enggak, empat aja. Nanti kan biar rame kalo banyak," sambung Tio.
"Kamu pikir ngurus anak itu mudah, belajar dari pengalaman yang adekku ada empat. Repot, aku nggak mau," tutur Pricil dengan suara manjanya.
Sementara Angga dan Wina yang mendengar obrolan kedua sahabatnya jadi terkekeh.
"Kalo kamu mau berapa, Beb?" tanya Angga.
"Berapa yang di kasih Tuhan, aku akan terima, selagi aku masih mampu dan kamu semangat mencari rejeki." Wina mendongak menatap wajah Angga yang sedang menatap ujung pantai.
"Jawaban kamu sederhana, tapi bikin aku makin sayang sama kamu, Beb." Angga menatap Wina dan menarik hidung mancungnya.
"Weii, matahirnya udah mau tenggelam, ayok kita foto bareng guys." Tio beranjak berbarengan dengan Pricil dan meneriaki teman di sebelahnya.
"Hayuk lah, pasang kameranya, Yo!" perintah Angga pada Tio.
__ADS_1
Tio kengambil kamera dan mengatur dengan timernya, kemudian mereka berempat berpose bersama dengan beberapa gaya.
"Sekarang, kita foto berdua gantian ya. Kamu fotoin kita dulu, Yo," pinta Angga dan menyerahkan kameranya.
"Oke!"Tio meraih kamera tersebut dan mulai mengambil posisi.
Beberapa jepretan foto mesra ala ala anak seusia mereka berhasil Tio abadikan dengan seapik mungkin. Kini, gantian Tio dan Pricil yang akan berfoto.
Mulai dari gaya berpegangan tangan, menatap awan yang mulai gelap serta beberapa pose seperti berciuman pun mereka abadikan.
Waktu pun memasuki maghrib, mereka bergegas untuk pulang setelah meringkasi barang bawaan yang mereka butuhkan.
Pricil tersenyum sepanjang perjalanan sambil memeluk tubuh Tio di sampingnya. Terbayang dengan jelas kemesraan mereka yang baru saja terjadi. Tanpa terasa, mereka sudah sampai di rumah masing-masing.
***
Sudah menjadi rutinitas hari-hari bagi Pricil bangun pagi dan berbenah. Selama dia bekerja, kini dia pun memiliki cukup uang untuk bisa lanjut kuliah.
Pricil memilih satu kampus dengan Tio dan mereka pun mengambil jurusan yang sama. Kota padang menjadi pilihan mereka untuk menimba ilmu berikutnya demi masa depan yang lebih cerah.
Dua sejoli yang tak terpisahkan itu tinggal di sebuah kos yang tak jauh dari kampus. Tio bersama dengan Angga sedangkan Pricil bersama Wina.
***
Siang ini, matahari bersinar sangat terik. Kulit terasa seperti terbakar saat matahari langsung terpapar ke kulit tubuh yang tak terbungkus helaian kain.
Pricil baru saja keluar dari gerbang kampus bersama Wina hendak menuju kosan, tapi saat hendak menyebrangi jalan seseorang menghentikan langkah keduanya.
''Kak, Pricil!'' panggil seseorang dari arah belakang yang sontak berhasil menghentikan langkah Pricil dan juga Wina.
''Siapa?'' Pricil menoleh ke belakang dan mendapati seoarang cowok yang dia kenal kini berada di belakangnya.
''Iya kak, aku ikut ayah karena pindah tugas di kota ini, jadi aku ambil kuliah di sini.'' Abdul menjelaskan dengan Rinci tujuannya. Padahal, di selama ini memang membuntuti Pricil kemana pun tanpa ada yang tahu.
''Ohhh ... '' Pricil membulatkan mulutnya begitu mendengar ucapan Abdul.
''Kakak pulang ke mana? Mau aku anterin?'' tawar Abdul.
''Nggak usah, kita pulang jalan aja. Deket kok, duluan, yaaa.'' Pricil pun mengajak Wina untuk segera sampai di kosan karena cuaca panas.
''Hati-hati!'' balas Abdul.
Sementara di ujung gerbang, Tio melihat pemandangan di depannya sempat memanas karena tiba-tiba Abdul muncul kembali. Dia khawatir jika Pricil akan menanggapi seorang Abdul tapi ternyata dia salah. Dia pun dapat bernapas lega karena Pricil tipe cewek yang cuek.
''Kenapa, Yo?'' Angga datang langsung menepuk bahu Tio dengan minumn dingin di tangan.
''Tuh, liat di depan!'' tunjuk Tio dengan bibir yang di monyongkan. Angga pun ikut menatap ke arah yang Tio tunjuk.
''Ohhhh... Eh! Kok bisa tu anak ada di sini juga!'' Angga tersadar akan penglihatannya.
''Nggak tahu, bikin orang naik tensi aja. Yuk! balik.'' Tio sewot dan langsung keluar dari gerbang dan di ikuti oleh Angga.
Begitu Tio dan Angga sampai di depan kosan, ada seseorang yang selama ini tidak pernah menemui bahkan menanyakan kabar. Pak Prayoga sedang duduk manis bersama ibu pemilik kos menatap kedatangan Tio serta Angga yang kaget melihat pak Prayoga tiba-tiba ada di sini.
''Papa?'' lirih Tio.
''Hei! anak nakal, sini.'' Pak Yoga melambaikan tangan agar Tio mendekat ke arahnya.
Timbul rasa ragu dalam diri Tio untuk Mendekat ke orang tuanya yang kini ada di depan mata. Rasa takut yang selama ini sudah terkubur dan bahkan lenyap harus di gali paksa hingga membuat sekujur tubuh Tio kaku dan berat untuk melangkah.
__ADS_1
Pak Prayoga yang tidak sabar pun beraksi, dia segera menghampiri putranya dan langsunf merangkulnya. Ada senyum bangga yang terpatri pada wajahnya karena melihat kegigihan putranya selama ini. Diam-diam pun pak Prayoga selalu menghubungi papanya Angga serta mengirim uang untuk biaya Tio.
Meski papanya Angga menolak karena merasa mampu untuk membiayai kedua putra yang sudah di anggap anak sendiri olehnya pun tidak lagi keberatan karena pak Yoga selalu memaksa agar biaya untuk putranya dialah yang akan menanggung.
''Apa kabar kamu, nak?'' pak Yoga mengusap rambut Tio dan memeluk tubuh Tio yang kini tingginya sejajar dengannya.
Tio masih diam terpaku tanpa bisa merespon sang papa yang menyapa dan juga memberikan pelukan kasih sayang yang selama ini menghilang.
''Om, kok Oom bisa ada di sini? tahu dari mana?'' Angga membuka suara untuk mengurangi ketegangan yang kini Tio hadapi.
Pak Yoga pun tersenyum simpul dan menjawab singkat pertanyaan yang Angga lontarkan padanya.
''Oom kan donatur tetap di kampus depan itu,'' tunjuknya ke arah di mana tempat Tio dan juga Angga menggali pendidikan.
Angga hanya bisa membulatkan bibirnya ketika kalimat itu meluncur dari pak Yoga. Dia pun menatap Tio dan menyenggol lengannya pelan agar sang sahabat itu tersadar.
''Em, Papa sejak kapan ada di sini?'' Tio spontan bertanya.
''Sejak satu jam yang lalu, kebetulan juga ada yang harus di urus di sini. Papa ingin bicara sama kamu, sekarang kamu ikut Papa dulu.'' Pak Yoga langsung mengutarakan tujuan kedatangannya pada Tio.
''Soal apa, Pa?'' Tio mengernyitkan dahi dan menaruh curiga akan niat sang papa padanya.
''Penting, dan kita cari tempat yang tenang agar bisa leluasa sambil bersantai. Apa kamu tidak merindukan Papamu yang sudah mulai tua, ini?'' canda pak Yoga.
''Tapi, aku capek, Pa. Lain kali aja deh!'' tolak Tio. Perasaannya mulai tidak enak sejak pertama melihat sang papa.
''Hmm, sebenarnya ada mama dan juga adik kamu, Yo. Cuma mereka nginep di hotel karena masih capek, apa kamu nggak kangen sama mereka?'' rayu pak Yoga.
Tio terdiam, sungguh ingin sekali dia bertemu dengan sang mama dan juga adik semata wayangnya. Rasa rindu yang selama ini hanya bisa di simpan dalam dada tiba-tiba menyeruak ingin di lampiaskan. Mendengar kata mama yang di ucapkan oleh sang papa pun membuat Tio mengangguk.
''Ayo, kita berangkat sekarang,'' ajak pak Yoga pada Tio. ''Om pamit dulu, ya Ga. Kami pergi sekarang,''
Pak Yoga pergi membawa Tio dengan mobilnya, ada rasa khawatir dalam diri Angga akan sahabatnya saat ini.
''Kok perasaanku nggak enak, jangan-jangan om Yoga mau nyucik Tio? Wahh! Gaswat, ini. Aku harus ikutin mobilnya sekarang!'' Angga bergegas meminjam sepeda motor milik ibu kost untuk mengikuti kemana arah pak Yoga membawa Tio.
Setelah Angga mencoba menelusuri jalan yang di lalui dia melihat jejak mobil yang di kendarai pak Yoga bersama Tio. Dia menambah kecepatan laju kendaraannya agar bisa cepat sampai.
Tess!!
Motor yang Angga kendarai tiba-tiba menjadi geal geol tak beraturan. Ban depan ternyata bocor dan dengan sangat terpaksa Angga harus menghentikan kendaraannya di tepi jalan dan orang yang di ikuti sejauh ini pun sudah hilang dari pandangan.
''Ahh! Siaaallll! Pakek kempes segala sih.'' Angga mendendang ban itu dengan kakinya karena kesal.
''Aku harus telpon Tio sekarang juga!'' Angga segera merogoh kantongnya dan meraih ponselnya. Saat di tekan, ternyata daya baterainya lemah dan tidak dapat melakukan panggilan telepon.
''Busyet dah! Sial amat sih hidupmu, Ga!'' gerutunya pada diri sendiri. Tangannya pun memukul udara kosong di depannya. Dengan terpaksa, dia mendorong motor itu untuk di bawa ke bengkel.
Sementara di kosan, Pricil sedang bersantai di dalam kamar sembari memakan cemilan. Ponselnya p''un berdenting dan mendapat pesan masuk dari nomor Tio.
Maaf, hari ini adalah hari terakhir kita bertemu dan tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Jangan cari aku.
''Ehhh! Ini apaan sih maksudnya?'' gerutu Pricil begitu membaca pesan singkat dari nomor Tio.
''Kamu kenapa, Pric?'' heran Wina.
''Ini si Tio apa sih maksud dia ngirim beginian?'' Pricil menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan dari Tio. Wina pun membaca dengan saksama isi pesan tersebut.
''Tunggu deh, Pric. Ini gaya tulisannya kayak bukan dari tangan dia.'' Wina mencoba meneliti.
__ADS_1
''Jangan-jangan ada apa-apa sama dia, Win. Kita ke kosannya sekarang!'' Pricil bergegas mengajak Wina menuju ke kos Tio.