Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Temani Aku


__ADS_3

Pukul 15:00 wib, semua siswa kelas XII berhamburan keluar dari kelas masing-masing usai mengikuti pelajaran tambahan.


"Pric, aku duluan ya" pamit Putri yang akan menuju halaman parkir.


"Oke, hati-hati" balas Pricil.


"Pric, aku di anter sama Angga, sekalian ada perlu lain. Kamu nggak apa kan," ucap Wina mengiringi langkah Pricil menuju gerbang belakang.


"Oke, hati-hati ya kalian, jangan lupa pajak jadian.." ucap Pricil seraya menggoda.


"Haha, aman bos!! bye.." Wina melambaikan tangannya saat Angga menghampiri Wina.


"Kak, kami duluam ya" pamit Angga sambil membunyikan klakson motornya.


Pricil kemudian melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju tempat biasa untuk menunggu angkot.


Tatapan mata Pricil terarah ke satu objek di tepi jalan sebelum jalan keluar, terlihat seorang cowok sedang duduk diatas motor F.U putih dengan setelan kaos hitam dan jeans hitam sepatu kets putih dan memakai topi terbalik. Tangannya sedang menari-nari diatas layar ponselnya.


Pricil memicingkan matanya untuk memastikan penglihatannya. 'Itu kan Tio, ngapain disana? apa jadi tukang ojek?' gumam Pricil sambil terus melangkahkan kakinya dan lama-kelamaan sampailah ke dekat objek tersebut.


Pricil berjalan dengan tetap fokus dan tak ingin menoleh ke arah makhluk yang sering membuatnya emosi itu.


Saat Pricil telag melewati orang tersebut, sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Tinggu!"


Pricil menoleh kebelakang, "ada apa?" tanyanya dengan datar.

__ADS_1


Tio berjalan mendekat, "temenin aku bentar! nggak nerima tapi-tapian. Nanti pulangnya aku antar!" ucap Tio dengan datar tapi maksa, lalu tangannya menarik tangan Pricil tanpa menunggu persetujuan, karena dia tidak menerima penolakan.


Sementara Pricil sudah mangap hendak ngomong sesuatu jadi mingkem lagi setelah tangannya di gandeng menuju motor Tio.


"Ayo naik," perintah Tio seraya menyalakan mesin motornya.


'Dasar makhluk nyebelin!! seenak perutnya dia aja nyuruh-nyuruh orang!!' umpat Pricil dalam hatinya. Wajahnya sudah terlihat biru menahan kesal, namun dia tetap nurut naik ke boncengan dengan duduk miring karena pakai rok.


Sebisa mungkin Pricil menjaga jarak duduknya, tapi dasarnya motor jenis itu memang begitu modelnya, jadi dia tetep melorot dan nempel ke punggung Tio.


Tangan kanan Pricil meyilang berpegangan ke pahanya sendiri dan tangan kirinya berpegangan di besil belakang jok motor. Pokoknya jangan sampe buah d*danya menyentuh punggung cowok nyebelin ini.


Setelah melajukan motornya sekitar 5 menit, Tio berbelok ke toko SS. Setelah memarkirkan motornya, ia turun dan langsung menuju pintu masuk. Sementara itu, Pricil hanya berdiam diri berdiri di samping motor yang terparkir.


Merasa tak ada yang mengikutinya dibelakang, Tio menoleh dan tak menemukan Pricil dibelakangnya. Lalu ia kembali menolehkan kepalanya ke arah parkiran.


"Ayok, kita masuk" Tio langsung menggandeng tangan Pricil menuju pintu masuk.


Ingin sekali Pricil meronta, karena mereka menjadi pusat perhatian orang yang juga berkunjung ke toko tersebut.


Setelah masuk kedalam, Tio dan Pricil berbelok ke arah sepatu. Dan, saat mereka berbelok. Keluarlah Angga dan Wina menuju pintu utama.


Hampir mereka berselisihan, tapi enggak jadi.


Tio memilih-milih sepatu yang akan dia beli, serta melirik ukuran untuk kakinya. Setelah dapat, ia mencoba salah satu sepatu pilihannya.


Tak butuh waktu lama, mereka telah selesai berbelanja sepatu. Tio melajukan motornya ke arah warung mie ayam dekat tempat biasa Pricil menunggu angkot.

__ADS_1


Lagi-lagi Tio menggandeng lengan Pricil dengan sesuka hatinya. Lagi-lagi mendapat perhatian dari orang-orang yang makan di sana.


"Buk, mie ayam ceker 1, mie ayam plus bakso 1. Minumnya teh botol" Tio memesan makanan tanpa bertanya lagi sama yang diajak makan.


Mereka duduk berhadapan di meja yang menghadap kearah jalan raya. Hanya makan di warung pinggir jalan, tetapi untuk rasa makanannya juara.


Tak lama menunggu, makanan mereka datang.


"Silahkan dek," ucap ibuk yang mengantarkan pesanan mereka. Setelah itu, permisi.


Selama mereka makan, tak ada satupun yang membuka suara hingga acara makannya selesai.


Pricil membersihkan mulutnya dengan tissue yang ada di hadapannya. Setelahnya ia memperhatikan Tio yang berdiri lalu menuju meja kasir. Otomatis, Pricil langsung mengikuti langkah Tio.


"Mau pulang sekarang?" tanya Tio memulai obrolan setelah menjalankan motornya.


"Iya" jawab Pricil singkat.


"Bisa nggak, kalau ngomong sama aku jangan jutek" ujar Tio dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Pricil dengan heran.


"Kalem dikit keg, biar terkesan feminim. Walaupun kamu emang feminim" ucap Tio.


"Itu sebuah permintaan ya?" lagi-lagi pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.


"Bukan! tapi sebuah permohonan!" jawab Tio dengan sedikit kesal.

__ADS_1


***


__ADS_2