Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
No judul


__ADS_3

Sepulang sekolah, Pricil segera mengganti seragam putih abu-abu nya dengan pakaian santai. Setelah itu, ia melihat bibinya yang sedang memasak di dapur. Pricil pun mendekat dan membantu bibinya memasak.


"Masak apa bik" tanya Pricil yang kini berada di belakang bibi Cahyani.


"Eh.. sudah pulang kamu Sil?" bibinya terkejut mendengar suara Pricil yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Iya bik, baru aja ganti baju. Apa yang bisa aku bantu bik?" Pricil menawarkan bantuan.


"Oh, itu kamu potong-potong tempe sama tahu. Udah itu, iris daun bawang ya" perintah bibi Cahyani sambil menunjuk tempe dan tahu yang ada di dalam kantong asoy di atas meja.


"Iya bik,"Pricil mendekat ke meja dan meraih tempe lalu ia membuang daun pembungkusnya.


"Di potong-potong seberapa ni ukurannya bik?" tanya Pricil yang siap memotong tempe dengan pisau di tangannya serta di alas talenan.


"Potong bentuk segitiga Sil," ucap bibinya sambil mematikan kompor. Lalu menyalin tumis kol ke dalam wadah.


Pricil pun mencoba memotong tempe tersebut dengan di bentuk garis menyerupai segitiga. Karena tempenya panjang. Ia membuat garis-garis halus agar tidak salam memotong.


"Loh, kok malah kamu garis gitu Sil," bibi Cahyani mendekat "gini caranya Sil, kamu potong tempenya menjadi dua bagian" ucap Cahyani.


Pricil kemudian mengikuti arahan dari bibinya.


"Nah, sudah terbagi dua, kamu potong dari ujung atas kanan ke ujung bawah kiri, seperti ini" bibi Cahyani memberi contoh.


"Oh, iya iya, aku paham bik" kemudian Pricil melakukan hal yang sama pada sisa tempe. Dan tahu juga ia potong dengan bentuk tang sama.


Setelah selesai, ia menyisihkan bahan tersebut. Lalu metaih daun bawang dan di cuci ke washtafel. Setelah itu, ia bertanya kembali.


"Bik, daunnya di potong gimana nih?" tanya Pricil.


"Potong menyerong, lebarnya kira-kira satu centi" jelas bibinya sambil meraih tempe ean tahu di bawa ke dekat kompor.


"Oke, seperti ini ya" Pricil memotong sekali sebagai contoh. Bibinya pun menoleh dan melihat hasilnya.


"Nah, iya seperti itu" ucapnya.


Pricil menyelesaikan pemotongan daun bawangnya, lalu ia serahkan ke bibinya yang sedang menumis bumbu.


"Oh iya Sil, tolong ambilin tomat di warung ya, bibi lupa tadi" perintah Cahyani setelah Pricil meletakkan daun bawang ke sisinya.


Pricil mengangguk, lalu ia berjalan ke depan untuk mengambil tomat di warung bibinya.


"Berapa ya tomat yang di butuhkan?" gumam Pricil sambil mengamati tumpukan tomat di keranjang.


Pricil kembali kebelakang untuk menanyakan tomat tang di perlukan untuk memasak.


"Bik, tomatnya butuh berapa biji?"


"Satu aja, yang sedang ukurannya" jawab bibinya tanpa menoleh karena ia sedang nyemplungin tahu dan tempe ke dalam kuah semur yang di masak.

__ADS_1


Pricil kembali untuk mengambil tomat, setepah itu ia kebelakang lagi dan mencuci tomat tersebut.


Baru akan membuka mulut untuk bertanya, bibinya sudah lebih dulu mengatakan pada Pricil.


"Tomatnya potong jadi empat memanjang ya Sil,"


"Oh, iya bik.."


Setelah itu, ia menyerahkan tomatnya.


Usai memasak, Pricil dan bibinya menghidangkan makanannya ke meja makan.


Tak lama kemudian, paman Arya pulang dari bekerja untuk makan siang di rumah.


"Wah, sudah selesai masak ya" tanya Arya kepada istrinya.


"Sudah kak, ayo kita makan" ajak bibi Cahyani kepada Arya dan juga Pricil.


Tak lupa, bibinya menghidangkan segelas kopi hitam untuk suaminya untuk di nikmati usai makan nasi.


Mereka makan bersama di iringi obrolan ringan hingga selesai. Setelah itu, Pricil membantu bibinya membereskan peralatan yang kotor dan mencucinya.


"Gimana ujiannya Sil, bisa nggak jawab soalnya?" tanya paman Arya saat Pricil telah selesai mencuci piring.


"Bisa kok man, mudah-mudahan jawabannya banyak yang bener" jawab Pricil sambil kembali duduk di tempatnya semula.


"Syukurlah kalo bisa, yang teliti kalo ngisi jawabannya ya. Sampe kapan ujiannya?"


"Oh, libur nanti mau pulang ke rumah ibu nggak? nanti biar di antar" tanya pamannya


"Mau paman, aku pengen pulang. Udah rindu sama keluarga di sana" jawab Pricil dengan semangat.


"Ya sudah, isitirahat gih. Atau mau belajar, paman mau berangkat kerja lagi" pamit pamannya dan menemui bibi Cahyani ke warung karena ada pembeli.


"Iya paman, hati-hati" ucap Pricil sambil menuju kamarnya.


Pricil kembali ke kamar dan ia mengambil buku untuk ia baca ke ruang depan. Di lihatnya pamannya sudah berangkat dan bibinya menutup warung.


"Sil, bibi mau pergi sama nenek, kamu nggak apa kan?" tanya bibinya sambil mengunci pintu warung.


"Iya, nggak apa bik. Aku juga mau belajar sebentar. Bibik mau kemana?"


"Ada urusan di rumah uwak belakang, bibik mau ganti baju dulu"


Bibinya masuk ke kamar, dan Pricil mulai membaca bukunya.


Setelah bibi dan neneknya pergi, datanglah pamannya yang menyebalkan menghampiri Pricil yang sedang fokus dengan bukunya.


"Hai Sil?" sapa Chandra sambil duduk di kursi menghadap ke Pricil.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanya Pricil tanpa menoleh.


"Kangen sama kamu!" jawab Chandra dengan santai.


"Sana deh, aku mau fokus belajar" usir Pricil dengan malas.


"Aku mau temenin kamu, kan kamu sendirian di rumah"


Pricil hanya diam, ia sedang tidak ingin berdebat. Ia harus fokus belajar agar bisa mendapat nilai yang baik serta mempertahankan rangking di kelasnya.


Setelah satu jam berlalu, Pricil mengemasi bukunya untuk ia bawa ke kamar. Ia beranjak dari tempatnya meninggalkan paman Chandra yang sedari tadi menemani dan memperhatikannya.


"Udah ya, kita ngobrol bentar yuk" cegah Chandra.


"Aku ngantuk, mau tidur"


"Aku temenin kalo gitu" ucap Chandra dan langsung mendapat pelototan dari Pricil.


"Hehe," Chandra nyengir tanpa dosa.


Dengan terpaksa Pricil meletakkan bukunya ke kamar, lalu meraih ponsel dan duduk ke depan teras.


Chandra duduk di samping Pricil yang sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya.


[ Minggu besok, ada job lagi. Untuk kali ini wedding chinese di hotel Queen] pesan Dari Putri memberi informasi di grup DW nya.


[ Wah, pas banget udah selesai kita ujian ] jawaban dari Wina.


[ Wah, mantep kak, jam berapa tu ] Angga.


[ Jam 3 sore udah di tempat. Pada bisa nggak nih kalian? ] Putri.


[ Aku oke ] jawaban Angga dan Wina sama.


Pricil sedang mengetik jawaban


[ Aku oke ] Pricil.


[ Tio, kamu gimana? ikut nggak? kalo enggak, dengan terpaksa aku cari orang lain ] Putri.


Hening, tak ada jawaban dari Tio di grup.


Pricil meletakkan ponselnya dan ia terkejut saat menoleh ke wajah pamannya yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Ihh!! paman dari tadi ngintip wassap aku??" dengan reflek Pricil mendorong wajah pamannya agar menjauh dari hadapannya.


"Kamu mau kerja lagi minggu besok?" tanya Chandra dengan ekspresi tidak rela.


"Iya, emang kenapa?"

__ADS_1


"Padahal aku pengen ngajakin kamu jalan loh"


"Maaf ya paman. Aku enggak bisa," Pricil kemudian melangkah masuk ke dalam meninggalkan Chandra di luar sendiri.


__ADS_2