
''Halo, selamat pagi pak, Fasha'' sapa papa Ardian dengan ramah.
''Pagi pak Ardian, nanti sore kita langsung meeting. Semuanya sudah di siapkan'' ujar pak Fasha.
''Baik pak, terima kasih''
Papa Ardian memijat pelipisnya, ia harus segera berangkat sekarang. Tetapi, kondisi istrinya yang baru jatuh dari tangga membuatnya menghela nafas.
''Hahh!! ini semua gara-gara anak pembangkang satu itu! kacau semuanya!" berang papa Ardian. Ia kembali meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Dengan terpaksa, ia berangkat sendiri untuk sementara. Urusan anak dan istrinya nanti ia pikirkan setelah urusan pekerjaannya selesai.
"Ma! pokoknya, papa enggak mau tau! cari anak itu sampai dapat. Papa akan berangkat sekarang, nanti mama langsung menyusul jika sudah baikan!" titah papa Ardian dan meninggalkan istri serta anak bungsunya.
"Iya pa, hati-hati. Maafin mama ya pa..."
Setelah suaminya sudah keluar, Maura yang sufah selesai memijat kaki sang mama pun bertanya pada mamanya perihal keberadaan kakaknya.
"Ma, abang ke mana? kenapa enggak ada di kamarnya? apa abang kabur kayak di film-film itu!" cerocos Maura.
"Mama enggak tau sayang, ya udah, sekarang mama mau istirahat dulu di kamar ya. Sekalian mama mau nelpon abang"
"Sini Maura bantu ma," dengan sigap Maura memapah tubuh mamanya yang tentunya lebih tinggi dab lebih besar darinya.
Sesampainya di kamar, mama Andin langsung menyandarkan tubuhnya pada papa ranjang dan mencoba menghubungi nomor Tio. Namun, hasilnya masih sama. Nomornya tidak aktif.
Sementara di tempat lain, Pricil sedang berkemas karena ia akan pulang kampung. Selama libur sekolah, ia akan menghabiskan waktu liburnya di rumah orang tuanya. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa buku novel kesayangannya yang ia bawa dan tak lupa ada oleh-oleh untuk adiknya nanti.
Berkali-kali Pricil menghubungi nomor Tio, namun tidak kunjung aktif. Ia sudah mengirim banyak pesan pada Tio yang kini berstatus sebagai kekasihnya. Ia merasa kesal dan melempar ponselnya ke bantal.
"Uhhh! nyebelin banget sih, di telepon enggak bisa, di chat enggak terkirim. Udah dari awal emang kamu tuh nyebelin!!" Pricil merebahkan tubuhnya ke ranjangnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, paman Chandra memanggilnya dari luar pintu kamar.
"Sil, kamu sudah siap?" tanya paman Chandra dari balik pintu.
"Sudah, tunggu sebentar lagi ya paman" sahut Pricil.
"Buruan ya, entar kesiangan takutnya nanti malah kehujanan. Hari di luar keliatan mendung" seru paman Chandra dan suaranya menjauh.
Pricil pun meraih tasnya yang sudah ia siapkan dan kembali menatap ponselnya. Masih sama hasilnya, nomor si pacar barunya belum juga aktif. Ada rasa khawatir yang menyelimuti relung hatinya. Fikirannya kembali teringat akan hal semalam.
Akhirnya, Pricil memutuskan untuk menghubungi Wina untuk mencari informasi tentang Tio melalui Angga. Hatinya belum bisa tenang jika belum mendapat kabar yang pasti.
Setelah menunggu beberapa saat, ia melihat pesan balasan dari Wina yang mengatakan bahwa Tio pagi ini akan berangkat ke pulau jawa. Dan hal itu, membuat Pricil seketika menjadi lemah. Fikirannya mulai di penuhi hal-hal negatif.
"Tega ya kamu ternyata, kamu ninggalin aku. Kamu jahat Tio!!" ucap Pricil seraya menatap ponselnya. Matanya mulai buram karena air matanya menggunung di pelupuk matanya.
Ternyata, kebersamaan mereka semalam adalah yang terakhir bagi Pricil. Ia benar-benar kesal karena ia merasa di permainkan. Pesan berikutnya yang di kirim oleh Wina tidak ia hiraukan. Pricil mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
"Paman, aku sudah siap. Ayo kita berangkat!" ucap Pricil dengan dingin.
"Kamu sudah siap, yaudah. Yukk"
Mereka kemudian berpamitan pada paman Arya dan juga pada nenek Yana. Tak lupa, nenek Yana berpesan pada Chandra agar segera pulang jika sudah sampai mengantar Pricil sampai di rumah orang tuanya.
"Hati-hati di jalan! kamu langsung pulang, Chand. Jangan nginep di sana" ucap nenek Yana memberi peringatan pada putranya.
Setelah itu, mereka berlalu meninggalkan rumah tersebut. Selama dalam perjalanan Pricil hanya diam membisu. Fikirannya melayang-layang teringat moment malam minggunya yang sangat berkesan.
Chandra si depannya yang berusaha mengajak Pricil mengobrol pun terabaikan. Chandra menghentikan motornya tepat di pom bensin. Selain untuk mengisi BBM, ia juga mengisi angin ban motornya. Di lihatnya sang keponakan berwajah murung. Ia memutuskan untuk berhenti di Alfamurt untuk membasahi tenggorokan.
"Sil, kamu kenapa? kok diem aja dari tadi" tanya Chandra dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Enggak apa!" jawab Pricil dengan ketus dan juteknya. Wajah masamnya bila bisa di peras menjadi minuman segar di siang hari. (Di kira jeruk lemon)
Chandra pun akhirnya bungkam, ia membiarkan untuk sementara keponakannya agar bisa menenangkan fikiran. Usai menghabiskan minuman. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Pricil.
Kini, mereka telah memasuki kawasan perkebunan kayu jati dan perkebunan sawit. Tepat di daerah itu sudah mulai susah jaringan untuk ponsel Android. Hanya ponsel jadul yang bisa mendapatkan jaringan yang terkadang masih hilang timbul.
Di waktu yang bersamaan, Tio mengganti nomor dan mengaktifkan kembali ponselnya. Ia mencoba mengubungi nomor sang mama dengan mengirim pesan.
Tak berapa lama, mamanya pun memberondong pertanyaan pada Tio melalui sambungan telepon. Dan ia mengatakan bahwa dirinya aman dan baik-baik saja.
Usai berteleponana dengan sang mama, Tio mencoba menelpon sang pujaan hati. Namun, nomor yang ia tuju sedang tidak aktif. Ia mencoba menghubungi berulang-ulang dan hasilnya tetap sama.
Tio ingin mengaktifkan nomor lamanya, tetapi ia kembali teringat akan papanya. Akhirnya, ia urungkan untuk sementara waktu dan menyimpan sim cardnya di dompet.
Ia mengirim banyak pesan pada Pricil yang kini menjadi kekasih hatinya. Ia sangat khawatir dan ingin sekali mendatangi rumah pamannya Pricil. Namun, situasi yang belum aman, membuat ia lagi-lagi mengurungkan niatnya.
Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, Chandra dan juga Pricil tiba di kediaman orang tuanya. Adik-adiknya berteriak histeris karena sangat senang melihat kakak mereka datang. Di tambah lagi dengan oleh-oleh yang tak seberapa yang di bawa Pricil. Namun, membuat para adik-adiknya bahagia. Mereka tidak melihat dari nilainya, melihat dari ketulusan yang kakaknya berikan, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarganya.
"Ayo kita makan siang dulu yuk!" ajak bu Mawar pada semuanya.
"Ayok!" seru mereka.
Untuk sejenak, Pricil bisa melupakan kegundahan hatinya karena mendapat hiburan dari adik-adiknya. Mereka mulai menikmati makan bersama dengan lauk sederhana. Ada daun pepaya rebus, daun singkong rebus, sambal terasi, ikan goreng dan juga ikan asin yang menggugah selera. Tak lupa, lalapan petai juga tersedia di sana.
-
-
Aku jadi laper sama menunya
Oh iya, author mau promo nih, jangan lupa mampir juga di karyanya kakakku yang satu ini ya. Ceritanya keren banget
__ADS_1