Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Trik Alya


__ADS_3

"Pakailah!" Chandra melepas pakaian tebal yang membungkus tubuhnya dan ia berikan pada Alya.


''Terimakasih, Chand,'' Alya menerimanya dan langsung memakainya dengan perlahan. Setelahnya, Alya dan Chandra menyusul teman-teman lain yang sudah menikmati makan malam mereka.


''Kalian lama amat sih, udah dingin nih makanannya!" seru salah satu dari team mereka.


''Ayok, buruan makan. Biar bisa langsung istirahat'' kembali salah satu dari mereka menimpali.


Alya dan Chandra pun mengambil posisi duduk dan mulai memakan makanan yang yang sudah di pesan oleh temannya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Chandra. Ia hanya menikmati makan malamnya dalam diam. Berbeda dengan Alya, ekor matanya terus menatap ke arah Chandra. Akhirnya, merekapun selesai makan dan menuju ke kamar mereka masing-masing.


Saat akan memasuki kamar, Alya menghentikan langkahnya. Alya mengajak Chandra untuk mengobrol sebentar.


''Chand, kita kesana dulu, yuk!'' Alya menarik ujung baju Chandra untuk mengikuti langkahnya.


Mereka berada di penginapan yang mirip dengan rumah Hobbit. Mengamati pemukiman warga dari penginapan, Chandra sebenarnya enggan mengikuti langkah Alya. Namun, ia hanya bisa berdecak dan menurut.


''Ckk! mau ngapain, sih, Al?'' Chandra berdecak sambil mengekori langkah Alya. Sampailah di tempat Alya melamun tadi.


''Liat pemandangan aja, biar muka kamu itu enggak kelipet terus!'' ucap Alya sambil menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas.


''Bukannya istirahat, malah ngajak liatin langit. Udah akh, aku mau masuk. Ngantuk!'' Chandra hendak berbalik meninggalkan Alya.


''Sini dulu, bentar aja. Temenin aku, ya!'' pinta Alya. ''Coba kamu liat itu,'' Alya menunjuk langit yang bertabur bintang. ''Bintangnya kelip-kelip, siapa tau nanti jatoh. Aku mau bikin permohonan'' oceh Alya.


''Nggak akan ada bintang jatoh. Aku mau tidur!'' Chandra meninggalkan Alya begitu saja.


''Issh, susah banget cairnya. Beku terus!'' gerutu Alya. Ia pun akhirnya pergi ke kamarnya. Istirahat di tempat masing-masing.

__ADS_1


**


Keesokan harinya, pada pukul sembilan pagi, Chandra beserta timnya sudah bersiap-siap. Mereka akan memulai mendaki Gunung Kerinci. Gunung tersebut merupakan gunung tertinggi di indonesia. Untuk mendaki gunung berapi tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga harian. Mereka tengah menuju Pos registrasi dengan menaiki pick up. Setelah melakukan registrasi, pick up berlanjut mengantar mereka menuju ke pintu rimba.


Turun dari pick up, trek pendakian melewati perkebunan teh setengah kilometer dengan jalan makadam, hingga masuk hutan. Sebuah gapura dan bangunan kamar mandi tua akan mengawali pendakian.


''Semangat, semangat!'' seru Ilham salah satu team Chandra berseru. Mereka tengah sampai di sebuah shelter yang cocok untuk istirahat sejenak.


''Istirahat dulu, yuk!'' seru Chandra.


''Yuk,'' jawab mereka kompak. Mereka istirahat sejenak untuk minum dan makan cemilan. Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kini telah melewati daerah yang rawan dilintasi oleh binatang buas, yaitu Harimau Sumatera dan Beruang madu.


Setelah sampai di shelter satu yang berada di ketinggian 2.505 mdpl, mereka mulai mendirikan tenda untuk istirahat dan makan. Shelter satu ini merupakan tempat terbuka yang cukup untuk sekitar 15 tenda isi empat. Dari sini sudah nampak lereng Gunung Kerinci yang menjulang gagah. Tidak hanya team Chandra yang ada disana. Melainkan ada banyak pendaki gunung lain juga disana.


Chandra dan kawan-kawan mulai mengeluarkan peralatan untuk memasak air. Mereka akan menyeduh kopi dan makanan instan untuk mereka nikmati. Alya dan Lia tengah menyiapkan makanan instan yang akan di seduh. Chandra dan ketiga teman lelakinya tengah duduk menunggu kopi dan makanan instan mereka disajikan. Mereka sangat kompak, dan bersenda gurau sambil melepas lelah.


''Mari makan,'' Alya dan Lia menyodorkan masing-masing makanan bagian teman-teman dan makan bersama. Chandra menerima kopi yang diseduhkan oleh Alya dan menyeruputnya.


''Oh, eh, iya. Ini masih panas,'' Alya kaget karena ketahuan sedang memperhatikan Chandra yang menikmati kopi buatannya.


Karena sangat lelah, mereka memutuskan untuk bermalam di shelter satu dan akan melanjutkan perjalanan kembali keesokan harinya.


Malam ini, Chandra baru saja selesai buang air kecil. Ia melihat Alya sedang duduk diluar tenda. Dengan telinga yang di sumpal dengan Headset ia mengalunkan lagu. Sedangkan teman-temannya yang lain sudah selonjoran di dalam tenda mereka.


''Al, kenapa enggak tidur?'' tanya Chandra seraya menghampiri Alya dan duduk di sebelahnya.


Alya tidak menjawab, ia masih fokus mendengarkan musik miliknya. Padahal, Chandra melihat raut lelah di wajah Alya. Tiba-tiba ia merasa kasihan pada Alya. Karena ia teringat pesan ibunya agar menjaga Alya. Bagaimana pun, Alya adalah temannya. Kalau terjadi apa-apa, dia juga yang bakal diomelin oleh ibunya.

__ADS_1


''Al, kamu enggak denger aku ngomong apa?!'' Chandra menjadi kesal karena di cuekin. Ia melepas sebelah penyumbat telinga di sebelah kanan Alya.


''Aku masih belum ngantuk.'' Jawab Alya dengan singkat. Ia pun memasang kembali penyumbat telinganya yang di lepas oleh Chandra. Namun, Chandra mencegahnya.


''Ckk!?'' Alya berdecak marah. Ia ngambek dan membuang muka.


''Istirahat dulu, ya, biar nanti kita bisa lanjut dan badan udah lebih rileks,'' ucap Chandra dengan lembut. Ia harus mengalah untuk kali ini. Kalau sedang tidak di tempat seperti ini, ia tak ingin menurunkan egonya.


Alya yang merasa mulai di perhatikan oleh Chandra menjadi girang dalam hati. Akhirnya, trik ngambeknya berhasil. Tetapi, ia harus mempertahankan sejenak kejutekannya.


''Duluan aja sana!'' usir Alya.


''Al, ayo dong. Ini kita lagi di kelilingi hutan loh, nanti kalau ada apa-apa gimana? yang lain udah pada tidur semua'' Chandra membujuk Alya dengan sabar.


'Demi amanat yang ibu beri, aku harus bisa bujuk Alya. Ini dia kenapa, ya? kok tumbenan jutek gini. Biasanya ramah dan selalu perhatian sama aku. Apa dia udah capek ngadepin sifat aku yang dingin selama ini ya? hmm.' Chandra menerka-nerka dalam hatinya perihal sikap Alya malam ini.


''Emangnya kenapa? apa kamu takut, kalau aku di gondol sama *Dathuk*p...'' Saat Alya akan berkata sembarangan, Chandra langsung membekap mulut Alya dengan tangannya. Hingga kata Datuknya tersamarkan.


"Ssttt! jangan sebut-sebut, Al. Udah, masuk gih'' perintah Chandra dengan menatap tajam ke arah Alya. Karena dalam keadaan gelap, hanya cahaya ponsel yang menerangi keduanya. Jadi, tatapan Chandra tak terlihat oleh Alya. Namun, Alya bisa merasakan bahwa Chandra sedang tidak ingin di bantah.


''Ya!'' jawab Alya dengat singkat dan padat. Ia kemudian masuk ke dalam tenda meninggalkan Chandra begitu saja.


Chandra hanya menghela nafas melihat tingkah Alya kali ini. Ia pun masuk ke dalam tendanya dimana teman-temannya sudah sampai ke alam mimpi.


-


-

__ADS_1


Hay, Author mau rekomendasiin karya temen yang seru untuk dibaca. Jangan lupa mampir ya, dijamin bikin greget dan pengen nampol karakternya.



__ADS_2