Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
The End


__ADS_3

Sesampainya di kost, Pricil dan Wina mengatur napas karena berlari. Cuaca panas menambah gerah suasana serta hati yang juga gelisah.


Huhh


Haah


Huuh


''Gilak, engap banget, Pric.'' Wina menarik napas sambil merunduk menumpu lutut sepeeti sedang rukuk.


''Sama, hah!'' Pricil pun melakukan hal yang sama.


Setelah itu, mereka langsung menuju kamar Tio dan juga Angga. Namun, mereka tak menemukan siapa-siapa di sana. Terbukti dengan pintu kamar yang masih terkunci.


''Kok mereka nggak ada, ya. Coba telpon, deh!'' usul Wina.


''Aku telpon, deh!'' Pricil langsung memencet nomor Tio dan melakukan panggilan. Akan tetapi, nomor yang di hubungi tidak tersambung melainkan bunyi operator yang menyahut. Dia pun meminta Wina untuk menelepon Angga dan hasilnya pun sama.


Rasa khawatir menyelimuti mereka berdua, ada rasa sesak dalam diri Pricil di relung hatinya. Entah apa itu dia masih tidak mengerti.


Mereka pun keluar dan akan kembali ke tempat mereka, tapi saat sampai di pintu gerbang bertemu dengan Angga yang naik ojek.


''Kalian?'' ujar Angga.


''Kamu dari mana? Tio mana?'' Pricil langsunf memberondong pertanyaan bertubi pada Angga.


''Tio di bawa sama papanya, tapi aku curiga kalau dia bakal di bawa ke tempat orang tuanya sana, deh.'' Angga terlihat gelisah.

__ADS_1


''Maksud kamu gimana, Ga. Aku nggak ngerti!'' panik Pricil.


''Jadi gini, tadi kan ada papanya Tio di sini, teruss Tio di ajak papanya buat ikut pergi sama papanya nemuin mama sama adiknya di sebuah hotel. Terus, perasaanku tu nggak enak, kayak ada apa-apa gitu sama Tio.'' Angga menerangkan panjang lebar dan Pricil mencernanya dengan saksama setiap kata-kata yang Angga ucapkan.


''Hmm ... terus gimana, dong?'' tutur Pricil dengan lesu.


''Aku mau charge hp dulu, biar bisa cek terakhir lokasi dia di mana,'' ujar Angga dan dia segera membuka pintu kamar kostnya.


Wina dan Pricil pun ikut masuk ke dalam karena ingin segera mendapat kabar secepatnya. Setelah Angga berhasil mengisi daya baterai ponselnya dan dia pun dengan segera mengecek lokasi terakhir Tio.


''Bandara!!'' seru Angga serta membulatkan matanya.


''Terbang ke mana dia?'' timpal Wina.


''Kita langsung susul ke sana sekarang. Buruan!!'' Pricil segera memberi usul dan mendesak agar teman-temannya segera ikut menyusul keberadaan Tio.


Butuh waktu sekitar setengah jam hingga mereka sampai di bandara BIM tempat yang sesuai dengan lokasi pengecekan yang di lakukan oleh Angga.


Begitu jarak mereka sudah hampir dekat, Tio pun menoleh dan melihat orang yang memanggil namanya sedang berada di tempat yang sama.


''Lia,'' gumam Tio dan segera melangkah menghampiri Pricil. Papa Tio sempat menahan lengannya tapi dia segera mengibaskan tangan pak Yoga.


''Tiooo,'' panggil Pricil dengan masih berlari kecil menghampiri Tio.


Mereka langsung berhambur berpelukan di tengah keramaian tanpa memperdulikan keadaan dan juga orang tua Tio yang melihat adegan tersebut dengan mata memicing tajam.


''Kamu mau kemana? jangan tinggalin aku, Yo!'' Pricil menitikkan air mata dan suara yang tercekat.

__ADS_1


''Maaf,'' bisik Tio di sela pelukannya.


''Jangan pergi! Aku nggak mau pisah dari kamu,'' mohon Pricil.


''Aku harus pergi sekarang. Kamu baik-baik, ya.'' Tio menatap Pricil dengan sendu. Air matanya menggenang di pelupuk mata hendak tumpah membasahi pipi.


''Nggak!'' Pricil mengeratkan pelukannya, Tio merasakan tubuh Pricil yang bergetar karena menahan tangis.


''Suatu saat, jika kita berjodoh pasti kita bertemu lagi. Aku mohon sama kamu, gapai cita-cita kamu dan wujudkan. Aku akan jaga hati ini sampai kita di pertemukan lagi,'' pesan Tio sambil mengusap air matanya yang tak tertahan lagi.


''Ada apa sebenernya,aku butuh penjelasan yang akurat. Aku nggak bisa kamu giniin, Yo!'' isak Pricil dan melepas pelukannya. Di genggamnya kedua tangan Tio dengan erat. Jari mereka kini saling bertaut dan bertatapan dengan intens.


''Aku akan ceritakan semua di saat waktu yang tepat. Aku akan hubungi kamu nanti. Kamu percaya sama aku kan?'' ucap Tio menenangkan.


Sepersekian menit mereka saling tatap untuk yang terakhir kali sampai suara panggilan dari sang papa mengharuskan Tio untuk segera menyusul.


''I Love You, Lia.'' Tio mencium bibir Pricil dengan lembut dan ********** penuh perasaan. Pricil pun membalasnya tanpa ragu, mereka saling menumpahkan rasa cinta yang ada untuk terakhir kali.


''I love You Too, Tio.'' Pricil membalas ungkapan Tio dengan mata yang basah.


Mereka pun mulai membuat jarak hingga genggaman tangan mereka terlepas satu sama lain.


...------ END------...


-


-

__ADS_1


Maaf ya dears jika hasil tulisan dan imajinasiku tidak memuaskan buat kalian baca. Inilah yang dapat author buat sebaik mungkin dan juga masih jauh dari kata rapi. Alur yang berantakan dan mungkin rada kurang nyambung.


Ini cuma sebagai hiburan, maaf jika di bab awal hingga mendekati akhir tidak di revisi. See You All, love you so much.


__ADS_2