Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Insiden


__ADS_3

Saat ujian selesai, Diva dan Devi menunggu seseorang di bawah tangga jalan menuju gerbang belakang. Ia mondar mandir seperti setrikaan.


''Kamu bisa diem nggak sih Va, pusing tau liat kamu mondar-mandir kayak setrika rusak!'' gerutu Devi yang mendudukkan pantatnya di undakan tangga.


''Aku tuh nggak sabar liat keberhasilanku Vi,'' Diva tersenyum penuh arti.


''Emang apa sih yang kamu lakuin?'' tanya Devi dengan penasaran.


''Kita tunggu sebentar lagi'' ucap Diva.


Tak berapa lama, para siswa kelas dua mulai berguyur keluar dari ruang ujian. Diva menarik tangan Devi untuk menjauh dari tangga, ia berjalan pelan di koridor.


Orang yang di tunggu-tunggu akhirnya turun juga. Terlihat Pricil mengenakan jaket yang di lilitkan di pinggangnya menutupi belakang roknya.


Setelah melewati koridor itu, Diva memajukan langkah kakinya ke kaki Pricil dan ia berpura-pura tersungkur lalu tangannya menarik lilitan jaket di pinggang Pricil.


Dan..., terlihatlah rok bolong yang Pricil kenakan. Siswa yang melihatnya langsung tertawa terbahak melihat ke arahnya.


''Hahaha, ada bakwan di balik pantat!!'' seru salah satu siswa yang ikut tertawa.


Putri yang berada di belakang Pricil langsung segera melindungi sahabatnya. Ia langsung merebut jaket di tangan Diva untuk menutup bagian belakang Pricil.


''Heh!! apa-apaan kamu ha! mau bikin orang malu di depan umum ya, hah!!'' bentak Putri sambil mendorong bahu Diva.


''Ehh!! jangan sembarangan ya kalau ngomong!'' balas Diva sambil mendorong kembali bahu Putri.


''Heh!! udah jelas-jelas kamu tuh sengaja! pakek acara pura-pura segala!''


Aksi jolak menjolak pun terjadi dan suasana jadi ramai. Wina mengajak Pricil ke tempat yang sepi. Sementara suasana ricuh di koridor, Tio dan Angga baru turun dan langsung menyaksikan adengan jolak menjolak.


Langsung saja keduanya melerai, sementara siswa yang ada di sana malah jadi penonton.


''Heh! Entung Pisang! hentikan!!'' Tio menahan lengan Diva yang akan kembali mendorong tubuh Putri. Sementara Angga langsung membantu Putri untuk menghidar.


''Udah kak, udah, stopp!!'' Angga menghentikan lengan Putri yang kembali akan menyerang Diva.


''Ada apa ini ribut-ribut!! teman-teman kalian masih ada yang ujian!!'' interupsi salah seorang guru yang datang menghampiri kerumunan.


''Maaf pak, cuma ada salah paham'' ucap Angga mencoba memberi penjelasan, '' ayo pada bubar, ngapain masih pada nonton!'' ucap Angga lagi sambil memberi kode ke siswa yang ada di sekitarnya.


''Tolong tertib ya anak-anak, hargai teman-teman kalian yang lain'' ucap pak guru itu, lalu ia meninggalkan sekumpulan muridnya.


Suasana sudah mulai sepi dan Putri mencari keberadaan Pricil dan Wina bersama dengan Angga dan Tio. Mereka menuju parkiran dan tatapan mereka tertuju ke bawah pohon beringin. Pricil dan Wina sedang duduk di bawah sana.

__ADS_1


''Kamu nggak apa-apa kan Pric?'' tanya Putri sambil bergabung duduk di pinggiran bawah pohon.


''Nggak apa-pa Put, kamu ngapain sih ngeladenin orang itu. Buang-buang tenaga'' ucap Pricil dengan santai.


''Mana bisa aku tinggal diam liat kamu di gituin sama orang lain Pric!! pengen banget aku mencakar mukanya yang mirip pentolan cilok gitu!!'' ujar Putri dengan emosi.


''Sabar Put, tenang. Nanti kita maen cantik sama dia ya, kita sekarang pulang dulu. Bantu Pricil beli rok baru'' saran Wina.


''Biar aku anter aja pulangnya'' sahut Tio yang dari tadi menyimak.


''Ayang beb, pulang bareng aku ya'' sambung Angga seraya menatap Wina.


Tio langsung mentonyol kepala Angga dengan kuat. ''Dasar!'' umpatnya.


Angga hanya menjulurkan lidahnya seolah mengejek.


''Ya udah, kalo gitu kita langsung pulang aja yuk! kasian Pricil'' sahut Putri.


''Kamu langsung pulang aja Pric, nanti rok kamu biar aku yang beli'' sambung Wina.


''Enggak usah Win, makasih banget. Nanti aku aja langsung mampir di pasar buat beli'' tolak Pricil.


''Oh, ya udah kalo gitu. Tio kamu temenin Pricil ya, jagain yang bener'' pesan Wina dan hanya di tanggapi dengan senyum dari Tio.


''Makasih ya, udah nolongin'' ucap Pricil di belakang Tio. Saat ini mereka sedang melaju di keramaian jalan.


''Iya'' jawab Tio dengan singkat. Setelah beberapa menit, Tio menghentikan motornya di depan rumah bertingkat.


''Kok kesini? ini rumah siapa?'' tanya Pricil yang enggan turun dari boncengan.


''Rumah ku. Turun dulu,'' perintahnya pada Pricil.


Dengan perlahan Pricil turun dan memperbaiki lilitan jaket di pinggangnya.


Tio masuk ke dalan rumah, sementara Pricil hanya berdiam diri di samping motor. ''Ayo masuk,'' ajak Tio.


Pricil mengangguk dan melangkah pelan menghampiri Tio yang sudah berdiri di ambang Pintu. Setelah masuk, Tio menyuruh Pricil menunggunya di ruang tamu.


''Loh, siapa itu Yo?'' tanya mama Tio.


''Temen ma,'' Tio pergi ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengambil sebuah celana. Pilihannya jatuh di celana training yang sering ia gunakan untuk jogging. Lalu Tio mengganti seragamnya dengan pakaian santai, setelah itu ia turun kembali dengan membawa celana trainingnya.


''Oh, kamu udah kakak kelasnya Tio. Sering liat nggak kalo Tio bolos di sekolah?'' tanya Andin mamanya Tio.

__ADS_1


''Iya tante, kalo bolos kayaknya enggak pernah kok tan,'' ucap Pricil.


''Ekhm, ekhm,'' seru Tio dengan berdehem pura-pura tenggorokannya bermasalah. Paou ia berjalan menghampiri mamanya dan juga Pricil.


''Mama kok nanya gitu sih ke Pricil? aku ini anak baik kok ma di sekolah'' ujar Tio membela dirinya sendiri.


''Oh, syukurlah kalau begitu. Mama percaya, sebentar ya Lia, mama ambilkan minum'' ucap mama Andin menuju ke dapur.


''Iya tante,'' sahut Pricil.


''Nih, kamu ganti pakai ini'' menyerahkan celana training miliknya ke Pricil. Ganti di belakang aja, ada kamar disana'' tunjuk Tio ke arah belakang.


''Ini punya siapa?'' tanya Pricil mengamati benda yang ia pegang.


''Punya aku, buat sementara. Nggak mungkin kan, nanti kamu masuk ke tempat ramai dengan rok bolong itu'' sanggah Tio.


Pricil melangkah menuju kamar yang tadi di tunjuk oleh Tio, dan Pricil berpas-pasan dengan mamanya Tio.


''Mau kemana, Lia?''


''Mau numpang ganti celana tante,''


''Oh, iya udah. Masuk aja ke dalam situ ya, mama bawa minumannya ke depan''


Pricil langsung masuk ke dalam kamar tersebut, dan pandangan matanya langsung di suguhkan dengan foto yang besar di pajang di dinding ruang kamar. Foto gadis kecil yang tersenyum dengan manis menampakkan gigi gingsulnya yang mengarah ke pintu.


''Manis banget, apa itu adiknya dia?'' lirih Pricil.


Namun, Pricil langsung segera mengganti roknya dengan celana yang ia pegang.


Agak kedodoran sedikit, dan ia tarik talinya agar lebih kencang. Setelah selesai, ia menyimpan roknya ke dalam tasnya. Lalu kembali keluar menuju ruang tamu.


''Sini, Lia. Ini minumnya'' ucap mama Andin dejgan sangat ramah. Senyumnya tak pudar dari tadi ketika berbicara dengan Pricil.


Pricil pun meminumnya dengan pelan, '' makasih tan, jadi ngerepotin''


''Enggak repot kok, oh ya, kalian makan siang dulu yuk. Baru nanti belanjanya'' ajak mama Andin.


''Enggak usah tante, aku masih kenyang kok'' tolak Pricil dengan halus.


''Udah, kamu nggak usah malu.. yukk'' mama Andin menggiring Pricil menuju meja makan. Karena ia sudah memasak banyak, dan kebetulan suaminya tidak jadi pulang untuk makan bersama di rumah.


''Papa nggak pulang ma,'' tanya Tio setelah sampai di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2