
Setelah mendaratkan tamparan di pipi Chandra, Pricil langsung mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak keluar untuk beberapa saat lamanya.
Pricil merenung di dalam kamarnya, ia memikirkan semua yang baru saja ia dengar dari sang paman. Kembali ia meraba bibirnya. Sekilas bayangan moment saat mereka bersama dan jalan bersama melintas di fikirannya.
Terbayang saat malam itu, saat lengan kokohnya merengkuhnya dari belakang tubuhnya. Menikmati indahnya malam bersama, menatap aliran sungai yang terlihat tenang di keremangan malam.
Perhatian-perhatian kecil yang selalu pamannya berikan, tak pernah ia artikan. Semua berjalan mengalir begitu saja.
'Maaf paman, aku nggak bermaksud buat ngelukai paman. Kita itu saudara, dan selamanya akan tetap menjadi saudara. Tidak ada yang namanya cinta di antara kita' gumam Pricil.
Setelahnya, Pricil ingin meminta maaf kepada Chandra. Ia mengirim pesan kepada pamannya melalui aplikasi hijaunya.
[ Paman, aku minta maaf ] send Jomblo ngenez.
Setelah mengirim pesan tersebut Pricil ingin melabuhkan tubuhnya ke alam mimpi.
Baru saja akan terlelap, ponsel Pricil berdering. Tertera satu pesan masuk.
[ Nggak ada yang perlu di maafkan, Sil. Karena yang salah itu aku ]
Pricil menatap jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 20.10 waktu indonesia bagian barat. Setelah ia membaca pesan dari Chandra, Pricil memejamkan mata kembali.
Sementara itu, Chandra yang mendapat pesan dari My Little Princes merasa senang. Dengan senyum mengembang ia membuka pesan tersebut. Setelah tau isi dari pesan tersebut, menambah lebar senyum yang terbit di bibirnya.
''Aku kira kamu marah, ternyata enggak. Love you so much My little Princes" ucap Chandra sambil mengecup layar ponselnya yang temanya foto Pricil.
Dengan segera Chandra membalas pesan dari sang keponakan, lalu ia kirim. Beberapa saat setelah pesan itu terkirim dan terbaca, tak ada lagi balasan dari sang empunya.
Chandra kini bersenandung riang keluar dari kamarnya dan hendak ikut berkumpul dengan kakak serta ibunya ke bawah pohon belimbing.
Ketika kakinya telah sampai di tujuan, kakak serta ibunya membubarkan diri.
''Loh, aku baru mau gabung kok kalian malah bubar'' keluh Chandra.
''Kamu kelamaan! udah habis juga cemilan dan bahan gibahnya'' seru Arya.
__ADS_1
''Yah, nggak asik. Ya udah deh, aku balik lagi'' Chandra membalikkan badannya dan kembali masuk ke rumah.
Sementara Cahyani membawa peralatan ngetehnya kebelakang di bantu bu Yana dan kemudian, ibunya pamit pulang.
''Ibu pulang dulu lah, udah ngantuk. Sisil udah tidur ya, kok dari tadi nggak keliatan?'' tanya Bu Yana sambil berjalan menuju pintu samping.
''Mungkin udah bu," sahut Cahyani sambil mendekat ke pintu hendak menutup pintu setelah ibunya keluar.
"Ya udah, kunci lah pintunya"
Bu Yana meninggalkan rumah anaknya dan kembali kerumahnya sendiri.
**
Ujian sekolah masih berlanjut, saat ini para siswa baru saja keluar dari kelas masing-masing untuk beristirahat.
"Va, kamu mau ngapain bawa lem begituan" tanya Devi yang kebetulan melihat isi tas Diva ketika mengambil ponselnya.
"Ada deh, yuk kita ke kantin" ajak Diva sambil menggandeng lengan sahabatnya menuju arah kantin.
Diva menatap tas berwarna ungu yang sangat dia kenal. Diva segera mengangkat tas tersebut dan menaruh lem yang sudah ia siapkan di balik tas tersebut. Sedangkan tas yang berwarna ungu tersebut ia gantung di sandaran kursi.
Dengan gerakan cepat pula Diva menjauh dari sana. Ia menoleh ke kanan dan kiri, aman. Tidak ada yang memperhatikan kegiatannya.
"Yuk, kita keluar aja. Tiba-tiba aku kenyang Vi" ucap Diva sambil menghampiri Devi yang sedang membeli ayam goreng crispy.
"Lah, tadi dia yang ngajakin. Bentar, aku bayar dulu nih ayam" ucap Devi sambil menyerahkan uang membayar makanannya.
Sementara di belakang Diva dan Devi, lewatlah tiga sejoli yang sedang membawa piring sate dan minuman dingin di masing-masing tangan mereka.
Diva yang menyadari itu, langsung segera menarik tangan Devi keluar dari kantin dan kembali ke arah kelas mereka.
Senyum smirk terbit dari sudut bibir Diva. Saat menaiki tangga Diva dan Devi berselisihan dengan Tio dan Angga yang baru akan turun ke bawah.
"Hay, Tio. Kamu mau ke kantin ya?, lagi rame dan penuh semua depan belakang" ucap Diva dengan senyum terbaiknya memberitahu dua teman sekelasnya tersebut, namun tak di hiraukan dan di cuekin begitu saja.
__ADS_1
Diva mencebikkan bibirnya karena di kacangin. "Awas aja ya, tunggu aja pembalasan dariku!" Diva mendengus dan kemudian melangkah lebih cepat.
Saat sampai di kantin depan, Tio dan Angga mengamati keadaan kantin yang memang penuh semua. Dan mereka menuju kantin belakang, mata mereka langsung tertuju ke arah bangku pojokan. Di sana Tio melihat Pricil yang akan berdiri, namun kembali duduk lagi. Dan Pricil berusaha berdiri kembali, namun terduduk lagi. Sementara Angga langsung membeli gorengan untuk mengganjal perutnya.
Pricil mengerutkan kening karena heran, lalu ia meraba area pantatnya yang terasa aneh. Dan ia mencoba menarik roknya yang terasa lengket, namun terasa sulit.
"Kamu kenapa Pric?" tanya Putri yang dari tadi memperhatikan keadaan Pricil.
"Nggak tahu nih, ada yang aneh" ucap Pricil.
Teeett
Terdengar suara bel jam istirahat usai. Wina dan Pricil beranjak dari tempat duduk mereka. "Ayo Pric, buruan. Nanti telat kita ujiannya" seru Wina dan di timpali oleh Putri. "Iya, Pric buruan yuk" mereka melangkahkan kaki mereka duluan.
Para siswa mulai pergi meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas masing-masing. Pricil memaksa untuk berdiri dengan kuat dan "Sreekkk!!" suara robek di belakangnya terdengar oleh Pricil. Matanya langsung melotot saat ia meboleh ke belakangnya dan terlihat sebagian roknya lengket di bangku tersebut. Reflek ia langsung meraih tasnya untuk menutupi bokongnya.
Tio yang melihat ada sesuatu yang aneh dengan Pricil langsung menghampiri Pricil kebelakang.
"Kamu kenapa?" tatapan mata Tio langsung tertuju ke bangku di belakang Pricil. Dengan gerakan cepat, Tio melepas jaket rajutnya dan langsung ia lilitkan ke pinggang Pricil.
"Makasih" Pricil menunduk karena malu. Rok satu-satunya yang ia punya rusak dan langsung di pastikan tak dapat untuk di perbaiki.
Wina dan Putri yang sudah berjalan menjauh kembali menoleh kebelakang karena tidak ada Pricil di sisi mereka.
"Loh, Pric. Kamu kenapa?" Wina dan Putri langsung menghampiri Pricil dan Tio.
"Rok dia robek kak" terang Tio.
"Kamu udah aman pakai jaket itu, nggak akan keliatan kok. Buruan masuk yuk, keburu ujiannya di mulai" sanggah Tio.
Tio menghampiri Angga yang masih mengunyah gorengannya dan menepuk bahunya.
"Yok, lanjut ke kelas!" ajaknya dan berjalan mendahului Angga.
Di belakangnya Berjalan berurutan Wina, Pricil dan Putri. Mereka begitu terkejut karena insiden yang di alami sahabatnya. Untung ada dewa penyelamat.
__ADS_1