
[ Nanti saat sholat maghrib, jangan lupa selipkan namaku dalam do'a mu ya ] di sertai emot senyum tiga biji, pesan itu di terima oleh Pricil.
Ia tersenyum membaca pesan dari Tio yang meminta dirinya untuk diikut sertakan dalam doanya.
Pricil kembali mengetik pesan balasan.
[ Do'a yang seperti apa? ] send...
'Kok ada yang aneh ya dalam diri ini, getaran apa ini?, aku tadi udah makan kok. Masak gara-gara pesan dari Tio aku jadi lapar lagi' Pricil bergumam sendiri menatap benda pipih di tangannya tersebut.
Sementara di seberang sana, sedang berfikir dengan keras untuk menjawab pesan yang barusan masuk.
[ Do'a yang seperti apa? ]
"Hum.. apa ya yang mau ku bilang" gumam Tio sambil mengelus-elus dagunya yang mulus.
Tio kembali mulai mengetik untuk membalas pesan dari Pricil.
[ Do'akan aku, agar aku bisa mengisi ruang hatimu ] pesan selesai diketik.
"Kirim nggak ya??" Tio kembali berfikir.
Tio mengubah posisinya menjadi berbaring telentang menghadap langit-langit kamar.
"Ah, kirim nggak ya,.. Kirim, enggak. Kirim, enggak!"
Tio menghitung jarinya, lalu ia menghitung detak jantungnya.
"Kok, jantung ini makin cepet ya berdetaknya. Aneh!" ucap Tio sambil meraba dadanya.
"Tio!!" tiba-tiba sebuah suara di ambang pintu mengagetkannya. Dan reflek jari jempolnya memencet tombol kirim. Pesan terkirim.
"Eh!! mama, ih. Ngagetin aja sukanya! coba ketuk dulu pintunya maa" Tio berjingkat kaget dan langsung duduk bersila di kasur empuknya.
"Kamu ngapain dari ngomong sendiri, mama kira kamu lagi telponan"
Mama Tio berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Kamu kok keliatan beda ya?, ada apa?" tanya sang mama.
"Apanya yang beda ma, biasa aja kok" ujar Tio dengan sedikit gugup.
"Nah! tuh, keliatan... Kamu lagi jatuh cinta ya?? hayoo ngaku!" tuduh sang mama sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah anaknya.
"Apaan sih, ma. Enggak kok. Mama jangan asal nuduh deh" kilah Tio.
"Hmmm, iya deh..." mamanya terlihat pasrah dan mencoba mengerti situasi anak bujangnya.
"Iiihh... Mama kok gitu sih. Udah ah! aku istirahat ma" ucap Tio dan kembali merebahkan tubuhnya.
Klunting!
Suara notifikasi pada ponselnya berbunyi.
"Mama keluar deh.. ada yang lagi kasmaran soalnya!" ucap mama Tio sambil berjalan melenggang menuju arah pintu.
Setelah melihat mamanya sudah keluar, Tio segera membuka pesan yang barusan masuk.
[ Apan sih!! kok keliatan banget mau gombalin aku ]
[ Itu bukan gombalan. Tapi sebuah permintaan.]
Tio kembali mengirim pesan balasan.
[ Seneng banget ngajuin permintaan ke aku. Kayak kak author yang seneng ngajuin kontrak di PF tapi gagal mulu. ]
"Bhahahah" sontak Tio langsung terbahak membaca deretan pesan dari Pricil.
[ Kamu bener banget! ] send..
[ Eh! tapi, katanya.. kak author baru sekali kok ngajuin kontrak. Kamu jangan asbun dong..] send..
Author: "Tio, makasih ya. Kamu udah belain aku, kiss buat kamu"
"Iiih, jan cium-cium thor. Ciuman pertamaku nanti akan aku gunakan untuk seseorang yang sudah membuat aku jadi begini" Tio berhalusinasi.
__ADS_1
Tak terasa, sore telah berganti menjadi malam. Azan maghrib berkumandang dengan sangat merdu di pendengaran Tio. Karena posisi masjid, tak jauh dari rumahnya.
Dengan segera Tio masuk ke kamar mandi untuk mensucikan diri dengan air wudhu.
Di waktu yang bersamaan, Pricilia juga sedang berwudhu. Hanya saja tempatnya yang berbeda. Mereka wudhu di rumah masing-masing.
***
Malamnya, Pricil mengunjungi pamannya yang sedang sakit. Chandra sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Ia memperhatikan Pricil yang baru saja masuk ke arahnya.
"Gimana, paman. Apa udah enakan?" tanya Pricil setelah ia duduk menghadap ke Chandra.
"Udah enakan kok, ini semua berkat kamu" ucap Chandra dengan serius.
"Bukan aku kali. Tapi, karena obat yang paman minum tadi" jawab Pricil dengan logis.
Chandra tersenyum, jawaban keponakannya itu memang benar. Obatlah yang membuat Chandra menjadi berangsur sembuh dari demamnya.
"Kamu kalo ngomong suka bener ya, Sil" Chandra mengacak puncak kepala Pricil dengan gemas.
"Ya, emang benerkan. Karena, obat paracetamol yang tadi paman minum itu menurunkan demam"
"Iya deh, makasih udah jengukin aku ya..." ujar Chandra.
"Paman belum makan kan?, aku ambilin bentar ya" Pricil segera beranjak untuk mengambilkan makanan yang sudah ada di meja nakas kamar Chandra.
Setelag maghrib tadi, bu Yana sudah mengantarkan makanan ke kamarnya. Hanya saja, Chandra sedang tidak berselera makan.
Merasa mendapat perhatian kecil dari sang keponakan, Chandra menjadi bersemangat untuk makan.
"Nih, di makan dulu" Pricil menyodorkan mangkuk berisi bubur putih kehadapan Chandra.
"Suapin" ucap Chandra dengan manja.
"Enggak ah, paman kan punya tangan. Aku pulang dulu.. Bye..." pamit Pricil, lalu ia meninggalkan Chandra yang sedang memegang mangkuk bubur.
"Sil,... Kok malah kabur. Aku kan cuma minta di suapin" ucap Chandra yang melihat Pricil langsung menghilang di balik Pintu.
__ADS_1
Tidak masalah, Chandra sudah cukup senang dengan kembali bisa mencandai Pricil. Ia langsung menyuapkan bubur dengan sendok masuk ke mulutnya.
Hanya hitungan detik, bubur itu sudah ludes dari mangkuknya. Setelah itu, Chandra meletakkan mangkuk kosong itu ketempatnya semula. Kemudian, Chandra kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Tubuhnya sudah terasa enakan dari sebelumnya.