Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Ingin berlama-lama bersamamu.


__ADS_3

"Paman kenapa suka sekali bilang aku cantik," ucap Pricil dengan tatapan masih fokus ke mata Chandra, senyumnya masih terukir disana.


Hal itu membuat Chandra frustasi dan ingin teriak. 'Oh Tuhan!! kenapa aku suka sekali memujinya dengan kata kata itu' Chandra menggumamkan kata-kata itu di hatinya.


"Ehemm.. memang seperti itulah kenyataannya," ucap Chandra pada akhirnya.


Setelah menunggu beberapa saat, makanan pesanan mereka pun datang. Pricil dan Chandra mulai menikmati makanan tersebut.


"Paman sering makan makanan yang seperti ini?" tanya Pricil disela-sela makan.


"Enggak sih, malah baru nyoba yang seperti ini sekarang" ucap Chandra sambil meniup-niup ujung sumpitnya.


"Emm, besok-besok kita cobain yang lainnya ya. Siapa tau lebih enak" ucap Pricil.


"Kamu sudah sering makan makanan seperti ini," tanya Chandra.


"Baru juga kok, entah yang keberapa sama yang sekarang,"


"Ohh, kok kamu tahu tempat ini. Darimana?"


"Dari temanku dong, ingatanku kan masih bagus. Jadi, apa yang diceritakan teman-temanku tentang tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi anak-anak muda seperti kami ini mudah paman. Sudah terkunci di otak belakangku" jawab Pricil.


Chandra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar penuturan keponakannya tersebut.


Setelah mereka selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan. Chandra mengendarai motornya dengan santai. Pricil yang berada dibelakangnya hanya duduk diam mengamati pengendara lain yang lewat.


"Mau kemana kita Sil?" tanya Chandra yang tetap fokus menatap jalanan di depannya. Pricil terlihat memikirkan sesuatu, tapi tidak ada tempat lain lagi yang ingin ia kunjungi.


"Terserah paman aja deh, aku ngikut. Mau langsung pulang juga nggak apa-apa," jawab Pricil dengan santai.


"Jangan pulang deh, kita jalan-jalan aja dulu keliling Jambi" ucap Chandra yang tak ingin mengakhiri kebersamaan ini dengan cepat. Pricil hanya menganggukkan kepala, walau tak dapat dilihat secara langsung. Tapi Chandra dapat melihat dari kaca spion motornya.

__ADS_1


Chandra melajukan motornya kearah jembatan 'Gentala Arasy'.Gentala Arasy adalah sebuah menara jam yang terletak di Kelurahan Arab Melayu, Pelayangan, kota Jambi. Menara jam ini mempunyai tinggi 80 meter, dan di dalamnya terdapat Museum. Museum tersebut berisi lebih dari 100 koleksi fakta peninggalan sejarah Jambi di masa lalu. Selain itu, ada juga fasilitas bioskop mini yang berisi bermacam tayangan budaya.


Chandra dan Pricil kini sudah berada diatas jembatan Gentala, mereka berjalan kaki menjelajahi jembatan tersebut menuju menara jam, sambil memandangi perahu yang sedang membawa penumpang menyebrangi air sungai Batang Hari. Malam ini, pengunjung tak terlalu ramai karena bukan hari libur.


Chandra mulai meraih jari jemari Pricil untuk ia genggam sambil berjalan. Awalnya Pricil ingin menolak, namun bukan Chandra namanya kalau nggak berhasil menggapai keinginannya. Walau hanya sekedar bergandengan tangan, bukan sesuatu yang sulit.


Dengan jari-jemari yang saling bertaut, Chandra mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia segera mengabadikan moment kebersamaan ini agar tersimpan sebagai kenangan.


"Senyum kearah kamera Sil," Chandra berkata kepada keponakannya sambil mengarahkan kamera depannya ke arah wajah mereka berdua.


"Senyum yang lebih manis lagi," ucap Chandra dan kembali mengarahkan kameranya, dan "sekali lagi,"


"Oke. Ini bagus," ucap Chandra lalu menyimpan kembali ponselnya. Setelah sampai di menara, mereka duduk di tangga untuk istirahat sejenak lalu meluruskan kaki. Beberapa saat kemudian, Chandra kembali mengambil gawaynya dan mulai berfoto bersama. Bahkan ia berdiri dan sedikit menjauh dari Pricil, agar bisa mengambil foto Pricil dengan angle yang bagus.


Setelah selesai dengan jepretannya, Chandra kembali duduk disisi Pricil. "Coba lihat nih, kamu cantik banget disini, Sil" Chandra menunjukkan foto yang tadi ia ambil. Pricil mengamati foto-foto dirinya didalam ponsel tersebut.


"Wah! bagus ya. Paman cocok nih jadi fotographer" ucap Pricil sambil tersenyum melihat foto dirinya sendiri. 'Aku mau juga punya hape yang kameranya bagus seperti ini' batin Pricil.


"Mana cocok aku jadi fotographer, Sil. Tapi cocoknya jadi..." Chandra menjeda ucapannya. 'Nggak mungkin kan aku bilang, kalau aku cocok jadi pendamping hidupmu' Chandra membatin.


"Hehehe, nggak ngelamun kok. Cuma lagi kagum sama keponakan aku ini" sambil menjapit hidung Pricil Chandra tertawa garing.


"Iisshh. Kayak gitu aja terus, lama-lama aku bisa tenggelam loh!"


"Tenggelam dimana? apakah tenggelam dihatiku?" Chandra menaik turunkan alisnya menggoda keponakannya itu.


"Bukan lah. Ngapain tenggelam dihatimu, nanti aku malah nggak bisa berenang didalam sana" sambung Pricil.


"Jadi??" Chandra menautkan alisnya penasaran dengan jawaban Pricil.


"Kasih tahu nggak ya...." ia sambil memutar bola matanya kekiri dan kekanan menunda jawabannya.

__ADS_1


"Kasih tahu dong, kan aku jadi pinisirin..." ucap Chandra sambil merengek memanyunkan bibirnya memelas.


"Hihihi, nggak akh..." goda Pricil.


"Iihh kamu ya.." Chandra menggelitiki pinggang Pricil dengan kedua tangannya dipinggang kanan dan kiri tanpa henti, Pricil yang tak tahan dengan geli tertawa terbahak sambil menahan gelitikan yang bertubi tubi itu.


"Udah! udah! aku nggak kuat, hahaha.. auu geli hahah" Pricil terus berusaha mengalihkan tangan pamannya yang menyerang pinggangnya.


"Enak nggak digelitikin, hmm" ucap Chandra yang baru bisa menghentikan aksinya. Ia merasa puas telah membuat keponakannya itu tertawa kegelian.


"hahh, hahh, aduhh. Jadi lemes nih" keluh Pricil sambil mengap-mengap karena nafasnya tersengal. "Ini nggak enak, aku nggak mau lagi."


"Cup! cup! cup! kasiann..." Chandra mengelus puncak kepala Pricil dengan lembut, kemudian ia merangkum wajah imut yang memerah karena terlalu lama tertawa.----,,.',-??


"Kamu lemes, mau minum dulu?" tanya Chandra penuh perhatian, tangannya masih tetap diposisi wajah Pricil. Sementara keponakannya masih menormalkan deru nafasnya.


"He'em," dengan anggukan Pricil menjawab.


"Tunggu sebentar, aku beli minum di sebelah sana dulu." Chandra meninggalkan Pricil duduk sendirian ditangga tersebut.


Beberapa saat kemudian, Chandra sudah kembali dengan Dua botol minuman manis ditangannya. Membuka tutup botol tersebut lalu diserahin ke Pricil, dan dengan segera Pricil menenggak isinya hingga tersisa setengah.


"Ahh.. seger!" ucap Pricil setelah minuman itu lolos kedalam tenggorokannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Chandra, mereka minum bersama.


Pricil turun dari tangga yang ia duduki, ia melangkahkan kaki menuju pagar jembatan. Chandra langsung segera mengikuti langkah Pricil mendekat ke pagar dan membentangkan tangannya. Pricil menikmati semilir angin malam yang dingin dan bikin hidung meler.


Rambutnya yang panjang dan tidak diikat itu berkibar seiring hembusan angin, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan perasaannya.


Chandra menatap dengan intens dengan apa yang dilakukan sang keponakannya, setelah Pricil menurunkan tangannya dan berganti berpegangan dengan besi pagar. Chandra mendekat, berdiri tepat dibelakang tubuh mungil itu dan mepet. Chandra menumpu jemarinya diatas tangan Pricil yang memegangi besi pagar.


"Kamu seneng?" tanya Chandra dengan suara lembut dan hembusan nafasnya menyapu wajah Pricil, posisi yang begitu memacu irama jantung. Pricil hanya menganggukkan kepalanya, ia merasa begitu nyaman.

__ADS_1


Dan, Chandra memberanikan diri untuk memeluk tubuh mungil itu dari belakang, tetap pada posisinya diawal, ia hanya perlu menurunkan tangan dan melingkarkan lengannya ke perut Pricil.


"Hangat!" celetuk Pricil ketika lengan kokoh milik sang paman melingkari perutnya yang rata dan tubuhnya yang mungil.


__ADS_2