Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Ungkapan 1


__ADS_3

Aku ngerasa part ini kalimatnya enggak rapi. Boleh kasih sarannya ya man teman


'Kalau kamu memberi jawaban 'ya' malam ini, aku akan kabur dari rumah dan enggak akan ikut mama dan papa ke ujung kulon sana. Jujur, berat banget aku kalo harus jauh dari kamu.


Aku sebenarnya enggak pengen ke jawa tengah sana. Males kalo harus menyesuaikan diri lagi. Tapi, aku masih harus nunggu jawaban dari kamu. Biar aku enggak salah ambil keputusan.


Tio berkata dalam hati penuh dengan harapan seraya menatap lekat manik mata Pricil. Kemudian, Tio meraih dan menggenggam lembut kedua jemari Pricil yang terasa begitu halus. Tak ada sedikitpun rasa kasar yang sering di sebut kapalan oleh para emak-emak yang sering maen sapu lidi dan alat tempur rumah lainnya.


'Aku sebenernya pengen banget jawab 'Ya' ke pertanyaan kamu, Tio. Tapi, setelah di pikir-pikir buat apa juga pacaran, nanti malah bikin aku enggak fokus belajar. Aku takut jadi galau kalau ada malasah di hubungan kita, kayak yang di film-film itu' pikir Pricil dalam benaknya. Ia mengalihkan tatapan matanya dari tatapan penuh harap di hadapannya. Perlahan, ia menarik tangannya dari genggaman Tio.


Hening. Mereka sibuk pada fikiran masing-masing. Keduanya menatap lurus ke arah jalanan yang di lalui banyak kendaraan. Tak sengaja, mata keduanya menatap ke salah satu pengendara yang sedang berboncengan mesra. Mereka melihat cewek yang di bonceng memeluk erat sang pacar yang sedang menyetir dengan sebelah tangan. Sementara tangan sebelahnya menumpu di lengan si cewek yang melingkari perutnya serta dagu yang di tumpukan pada pundak si cowok.


Drrtt drrtt!


Getaran ponsel Pricil di tas kecilnya membuyarkan lamunannya pada jalanan. Pricil meraih ponselnya dan membaca pesan yang ternyata dari Wina sahabatnya.


[ Pric, kamu terima perasaan Tio kalau kamu masih ingin liat dia ada di sini ] pesan dari Wina yang Pricil baca, membuat ia bertanya-tanya maksud dari perkataan Wina.


Pricil baru saja akan mengetik balasan. Tapi, Wina kembali mengiriminya pesan.


[ Jangan sampe kamu menyesal sobatku, aku tau kamu juga suka sama dia. Jangan egois untuk kali ini ] Wina


[ Apa maksudnya, Win. Aku lagi bingung gini, malah kamu tambahin dan nakut-nakutin aku ] send Wina.


Pricil menunggu beberapa saat. Namun, tak kunjung di balas oleh Wina.


Kok malah jadi rumit gini sih pikiranku. Aku harus susulin Wina sekarang. Usul Pricil dan beranjak hendak meninggalkan seseorang di sampingnya yang dari tadi tak lepas menatapnya.


"Mau kemana?" Tio menarik tangan Pricil dan ia ikut berdiri.


"Mau cari Wina, dia lagi ngelindur barusan. Jadi, aku mau bangunin dia!" ucap Pricil.


''Biarin aja, kan ada Angga di sana. Kita nikmati aja waktu kita disini, jangan ganggu orang yang lagi nge-date'' ujar Tio.


Tio kembali meraih jemari Pricil dan mendekapnya. Tatapan matanya begitu mendebarkan hati Pricil. Tatapan penuh penantian yang di layangkan, membuat mata Pricil terkunci seakan terhipnotis.

__ADS_1


''Aku butuh jawaban kamu sekarang...'' ucap Tio sangat lembut. Membuat Pricil jadi berdebar-debar jantungnya. Tangan yang di genggaman Tio terasa dingin.


''Aku...'' Pricil menundukkan pandangannya. Tio dengan setia menanti kelanjutan dari ucapan Pricil. Di lihatnya Pricil malah memejamkan mata dan menahan napas. Ekspresi itu di tebak oleh Tio, pasti Pricil akan menolak.


Tio melepas genggaman tangannya, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebuah kotak kecil berisi kalung emas putih dan ada ukiran nama LiaLoveTio di bandulnya. Langsung ia lingkarkan di leher Pricil dan mencantolkan pengaitnya.


Pricil yang merasa ada sesuatu yang terasa agak dingin menempel di lehernya segera membuka matanya. Dan merabaa lehernya.


''Apa ini?''


''Hadiah untukmu''


''Tapi, aku belum jawab...'' Tio langsung menyematkan telunjuknya ke bibir Pricil agar tak melanjutkan kata-katanya. Tio membaca dari ekspresi Pricil bahwa ia akan di tolak. Jadi, ia tidak ingin mendengar kata No dari bibir mungil itu.


''Sssstt. Sudah lah, aku sudah tidak membutuhkan jawabannya''


''Ini...'' tunjuk Pricil pada ukiran nama di kalung tersebut.


''Iya, itu namamu dan namaku. Jika kamu nanti lupa sama aku, ada ini yang mengingatkan mu nanti'' ucap Tio.


Lupa?


Apa dia ini akan pergi jauh?


Tapi, kenapa hatiku tidak terima saat dia bilang jika aku melupakannya.


''Sekarang, kita jalan lagi yuk, mumpung belum terlalu malam'' Tio menggandeng lengan Pricil dengan begitu erat. Detik-detik waktu yang ia lalui saat ini terasa begitu cepat. Rasanya, ia masih ingin lebih lama menikmati waktu ini. Kalau bisa, waktu di hentikan untuk sejenak.


Agar ia bisa lebih puas menghabiskan waktu kebersamaannya.


Dalam hati Pricil masih di liputi kebimbangan, ia merasakan sesuatu yang aneh. Namun, ia mencoba menepisnya. Pasti itu hanya perasaannya. Dan yang di ucapkan Wina melalui pesannya tadi hanya omong kosong yang ia anggap sedang ngelindur.


''Aku capek dari tadi muter-muter di taman ini, pulang aja yuk'' ajak Pricil.


Tio melirik jam tangannya, masih pukul sembilan malam. Ia masih ingin bersama hingga pukul sepuluh malam. Tio menurunkan tubuhnya sedikiy merunduk.

__ADS_1


''Sini, aku gendong'' tangannya menunjuk ke kebelakang punggungnya agar Pricil naik di sana.


''Emang kamu kuat?'' pertanyaan konyol itu keluar dengan spontan.


''Kamu kan kurus, pasti ringan kayak kapas'' ujar Tio tersenyum simpul.


''Badanmu bahkan sama kurusnya denganku. Malah ngatain...'' ia pun mendekatkan tubuhnya dan naik ke gendongan. Aroma wangi rambut Tio tercium di hidung mancungnya.


Wangi lembut yang menenangkan, ia melingkarkan tangannya agar tidak jatuh kebelakang. Setelahnya Tio mengangkat beban tubuhnya dan mereka kembali jalan menuju ke tempat parkir motornya yang lumayan jauh jaraknya dari taman tersebut.


''Aku malu, orang-orang pada liatin. Aku turun aja deh'' bisik Pricil di telinga Tio.


''Biarin aja, sebentar lagi kita sampe kok''


Setelah dua menit jalan kaki dengan menggendong Pricil di punggungnya, Tio menurunkan Pricil tepat di samping motornya.


''Pegel ya tangan kamu?'' tanya Pricil yang melihat Tio menjulurkan lengannya kedepan agar lebih rileks.


''Iya nih. Ternyata kamu berat juga'' ledek Tio.


''Tuh, kan. Tadi aku bilang juga apa, kamu ngeyel sih'' Pricil langsung meraih tangan Tio dan memijatnya sekilas.


''Udah hilangkan pegelnya?''


''Mijitnya aja cuma lima detik, gimana bisa hilang'' Tio terkekeh.


''Iihh, udah ah. Yuk pulang'' ajaknya tidak sabaran.


''Sabar dulu dong sayang. Kita tunggu Angga dulu'' Tio merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya. Setelahnya, ia menekan nomor Angga.


''Di mana Ga?'' ucap Tio setelah teleponnya terjawab.


''Oke'' Tio langsung menyimpan kembali ponselnya.


''Yuk, kita pulang sekarang'' Tio menyalakan mesinnya.

__ADS_1


''Loh, katanya nungguin Angga sama Wina?''


__ADS_2