Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Berangkat


__ADS_3

Saat Chandra dan Pricil sampai di rumah, Bayu dan Nando telah menunggu keduanya sedari tadi. Dan memberondong keduanya dengan pertanyaan.


"Paman, kok kalian lama sih!" seru Nando.


"Iya, kakak kemana dulu. Kok lama banget. Aku yang menang loh!" timpal Bayu.


"Paman jadi kan beliin es krimnya. Aku juara dua.'' Sambung Nando.


"Aku juara satu! Asyik, aku dapet dua nih!" seru Bayu.


"Jadi yang menang Bayu ya?" tanya Chandra sambil menatap Bayu dan Nando secara bergantian.


"Iya dong!" sahut Bayu dengan semangat.


"Baiklah, paman akan belikan. Kita tunggu penjualnya lewat ya!" tutur Chandra.


"Iya paman, sebentar lagi penjualnya lewat. Biar kami yang menanti di sini. Paman istirahat di rumah" usul Bayu.


Chandra pun mengiyakan dan kembali ke rumah bersama Pricil. Sesampainya di rumah, Pricil meminta obat gatal pada ibunya untuk mengobati tangan Chandra.


Hingga pukul empat sore Chandra berada di sana, ia pun memutuskan untuk berpamitan pulang agar ia tidak kemalaman saat pulang. Permintaan keponakannya pun sudah ia penuhi. Chandra membelikan banyak es krim untuk keponakannya.


"Kang, pamit pulang dulu ya, kak, aku pulang dulu" pamit Chandra pada kedua orang tua Pricil serta bersalaman pada semuanya.


"Iya, hati-hati ya di jalan."


Setelah kepulangan Chandra, Pricil pun mengisitirahatkan tubuhnya di kamar miliknya yang sudah lama tidak ia tempati.


Dalam perjalanan pulang, Chandra melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Jalanan di kampung itu memang sepi dan tidak banyak kendaraan yang lewat. Ia bisa dengan leluasa memacu kecepatan kendaraannya dengan bebas.


Tidak sampai dua jam perjalanan, Chandra sudah sampai di rumahnya. Dan di sana, ia sudah di tunggu oleh ibu Yana. Dengan tangan yang memegang pinggang. Bu Yana menghampiri Chandra yang baru saja menstandarkan motornya.


"Kemana saja baru pulang, Chand?" tanya sang ibu dengan masih berkacak pinggang.

__ADS_1


"Tadi ngobrol-ngobrol dulu bu, jadi lama. Enggak enak sama kang Atmaja kalau langsung nyelonong pulang" kilah Chandra.


"Oh, ya sudah. Istirahat sana," pinta bu Yana pada Chandra.


Chandra pun melenggang menuju kamar pribadinya. Tubuhnya terasa pegal karena menyetir motor. Tak ada tempat yang paling nyaman selain kamar pribadinya. Ia langsung merebahkan tubuh lelahnya setelah bersih-bersih sebentar.


Saat matanya terpejam, bayangan Pricil melintas di benaknya. Ia melihat di sana bahwa Pricil sedang asik bercengkrama dengan laki-laki yang siang tadi di sapa. Chandra memberengut tidak senang melihat keduanya saling sapa, saling bertatap dan melempar senyum serta bersenda gurau.


"Arrgghh!. Kenapa wajah keduanya mengganggu waktu istirahatku!" gerutu Chandra. Ia menegakkan tubuhnya dan bersandar pada papan ranjang. Ia meraih ponsel yang seharian ini belum ia lihat keadaannya. Ternyata banyak pesan yang masuk di sana. Semua pesannya dari Alya.


Rentetan pesnlan yang di kirim oleh Alya, Chandra baca satu persatu hingga habis. Dalam pesannya yang terakhir ia baca, Alya mengajaknya jalan bersama teman-temannya untuk mendaki gunung.


Chandra menimang-nimang ajakan dari Alya. Setelah berfikir sejenak, Chandra pun mengiyakan ajakan Alya. Ia memutuskan untuk ikut bersama dengan teman lamanya. Ia berfikir lebih baik pergi menghilangkan rasa suntuk, karena di rumah juga percuma. Sang keponakannya juga sedang berlibur di rumah orang tuanya.


**


Keesokan harinya, Chandra telah berkemas, tas dan peralatannya semua sudah ia persiapkan. Saat ia sarapan, ia berpamitan pada sang ibu.


"Iya bu, aku mau ke Kerinci." Jawab Chandra singkat. Ia menyiapkan sarapannya ke dalam piring sajinya.


"Sama Alya?'' tanya bu Yana lagi.


"Iya bu, sama teman-teman kampus dulu." Terang Chandra. Ia segera melahap makanannya sebelum ibunya memberinya banyak pertanyaan lagi. Lebih baik ia segera menghabiskan sarapannya kemudian berangkat.


"Semoga nanti hubunganmu sama Alya semakin erat ya. Kamu harus jagain Alya loh." Perintah bu Yana.


"Aku berangkat dulu ya, bu." Chandra meraih tangan ibunya dengan segera kemudian berpamitan. Chandra tidak memperdulikan ucapan ibunya yang meminta ia untuk melindungi Alya.


"Loh, cepet banget kamu. Apa sudah di jemput?" heran bu Yana.


"Sudah bu, aku mau nunggu di rumah kakak. Mereka sudah di jalan deket sini" terang Chandra saat ia melihat ponselnya yang melihat isi pesan dari teamnya.


"Ya sudah, hati-hati. Jaga ucapan dan jaga sikap ya. Jangan yang aneh-aneh!" nasehat bu Yana pada putranya.

__ADS_1


"Iya bu,"


Chandra pun berlalu dan langsung menuju ke depan. Ia menunggu teman-temannya sambil duduk di depan teras rumah kakaknya.


"Loh! mau pergi kamu, Chand?" tanya Cahyani saat melihat Chandra melintas di depannya.


"Iya kak, aku pamit ya!" tepat saat itu, mobil yang menjemput Chandra sampai di hadapannya. Chandra pun langsung menaruh barangnya di bagasi dan kemudian iamasuk ke dalam mobil tersebut.


Di dalam sana, Chandra duduk bersebelahan dengan Alya. Terlihat Alya mengulas senyum pada Chandra. Namun, ia hanya cuek dan menatap lurus ke depan. Senyum Alya memudar kala mendapati wajah cuek yang di tampilkan oleh Chandra.


Selama dalam perjalanan, mereka mendengarkan musik dan mengalunkan lagu yang mereka dengar secara bersama-sama untuk mengurangi kejenuhan dalam perjalanan yang cukup menyita waktu berjam jam lamanya.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan kurang lebih sekitar sebelas jam. Mereka memutuskan untuk menginap di sekitar kawasan kayu Aro dan akan mulai perjalanan kembali ke esokan harinya.


Penginapan yang mereka pilih adalah Swarga Loudge and Homstay.



Foto ambil di gogle


Chandra merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Sementara itu, di luar para teman-tekannya yang lain memilih menikmati pemandangan malam yang mengarah ke gunung tersebut. Suasana yang dingin mendera tubuh lelah mereka.


Alya mencoba menelpon Chandra agar ikut keluar dan bersama-sama untuk menikmati makan malam. Di lihatnya, beberapa dari mereka ada yang asik berfoto.


Alya merapatkan tangannya pada tubuhnya yang terasa dingin dengan ponsel melekat di telinganya. Sedangkan Chandra yang di telepon malah tidak menjawab sama sekali. Chandra hanya melihat layar ponselnya dan kemudian ia keluar untuk menyusul teman-temannya yang berada di luar.


Chandra melihat Alya yang berdiri di tepian pagar sambil menatap langit malam dengan posisi tangannya yang memeluk tubuhnya sendiri. Ia pun menghampiri Alya.


"Kalo dingin masuk aja ke dalam. Jangan di luar" suara Chandra memecah lamunan Alya yang fokus pada langitnya.


"Eh, enggak kok.'' Alya melepaskan tangannya yang merangkul tubuhnya sendiri menjadi memegang pinggiran pagar. ''Kita makan yuk! Yang lain udah duluan." Alya menarik tangan Chandra untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.


"Pakailah!" Chandra melepas pakaian tebal yang membungkus tubuhnya dan ia berikan pada Alya.

__ADS_1


__ADS_2