
Tio melongok ke dalam rumah saat Pricil sudah hilang dari pandangan matanya. Akhirnya, ia duduk kembali menanti Pricil. Siapa tahu nanti muncul lagi.
Sementara di dapur, Pricil sedang menyeduh air minuman saset asem-asem manis warna kuning kunyit yang biasa di beli Nando di warung. Ada kerupuk keriting dalam toples sekalian ia bawa dan di susun di nampan. Setelah itu, ia kembali ke depan.
"Nih, minum dulu." Pricil meletakkan nampan di hadapan Tio.
"Kirain tadi aku di anggurin!" celetuk Tio.
"Beneran mau di anggurin? Ya udah. Aku mau ke kebun aja nyusulin ibu sama bapak," Pricil hendak beranjak dari kursinya. Namun, secepat kilat Tio menahan tangan Pricil agar tidak meninggalkannya.
Tap
"Jangan dong, Yang. Temenin aku, nggak bisa ilang ini kangennya!" ujar Tio.
"Halah! Gombel," Pricil mencebikkan bibirnya dan ia pun duduk kembali.
Tio hanya senyum-senyum menganggapi ucapan Pricil. Panggilan sayang yang ia sematkan pun sepertinya tidak di permasalahkan oleh si juteknya. Di raihnya gelas berisi minuman dan diteguk hingga seperempatnya. Lalu, kerupuk di dalam toples ia raih dan makan.
"Kamu kapan pulang lagi ke rumah paman, Yang?" Tio memulai obrolan kembali.
"Besok lusa."
"Lama banget!"
"Lama apanya? Kan lusa, lusanya lagi sekolah." Cerocos Pricil.
"Kangen loh, Yang. Kamu enggak peka banget,"
"Lah? Kan sekarang udah ketemu. Mau apa lagi coba? Biar kata kangennya ilang?" heran Pricil.
"Coba sini," Tio mengkode dengan tangannya agar Pricil mendekat.
"Apa?!"
"Sini makanya, aku bisikin sesuatu. Kamu mau tau kan?" ucap Tio.
Perlahan, Pricil mendekatkan wajahnya dan menyelipkan rambutnya ke telinga agar Tio mudah mengatakan apa yang di maksudkan tadi. Setelah jarak wajah Pricil dan Tio hanya selisih tiga jari. Tio mengangkat kerupuk bulat yang baru saja ia ambil dari dalam toples dan ia arahkan ke wajah Pricil yang menyamping.
__ADS_1
Cups
Tio mengecup kilat pipi Pricil dan sukses membuat wajah Pricil merah padam dan menjelitkan matanya ke arah dirinya.
"Dasar mesyum!" Pricil merengut kesal. Tapi, dalam hatinya berbeda. Ada rasa senang tapi juga malu yang ia rasakan. Pricil pun menyembunyikan wajahnya di balik kerupuk yang ia rebut dari tangan Tio.
"Nggak mesyum, Sayang. Itu tandanya aku sayang banget sama kamu, cantik." Ujar Tio. Lalu ia mengambil alih kembali kerupuk yang ada di tangan Pricil dan kemudian di lahap.
Plakh
Kerupuk pun terlepas dari tangan Tio dan jatuh ke tanah. Pricil memukul lengan Tio, ia benar-benar jengah di gombali tingkat provinsi oleh sang kekasih. Seumur-umur, baru ini ia merasa seperti terbang ke awang-awang. Wajahnya terasa hangat dan memerah karena menahan malu.
Tio memperhatikan wajah Pricil yang sangat menggemaskan menurutnya. Akhirnya, tangannya gatal dan tak bisa ia tahan. Mendaratlah kedua tangan Tio mencubit pipi Pricil kanan dan kiri secara bersamaan.
"Uugghh, kamu gemesin banget, Sayang!" ujar Tio. Tangannya menciwel pipi Pricil hingga terlihat merah dan ada cap jempolnya di sana.
"Iisshh!! Sakit, tauk!" sergah Pricil dan mengelus pipinya yang terasa sakit akibat ciwelan Tio. "Jadi berminyak, nih, mukaku. Tangan kamu bekas megang kerupuk!" omel Pricil.
"Heheh, maaf loh, Sayang. Nggak sengaja," Tio terkekeh.
Pricil pun mencari cara untuk membalas kejahilan Tio padanya. Ia pun dengan reflek menusuk perut Tio dengan jari telunjuknya dan sukses membuat Tio terdiam.
"Emang enak! Bwek!" Pricil menjulurkan lidahnya.
Tio pun memutuskan menggelitiki pinggang Pricil tanpa ampun sebagai pembalasan cagilan Pricil.
**
Angga duduk di bangku kayu yang ada di warung tempatnya singgah. Duduk ungkang-ungkang kaki sambil mengulum permen kaki yang membuat lidahnya menjadi merah. Ia menikmati sore hari sambil menunggu Tio selesai dengan urusannya. Namun, sudah satu jam belum juga ada tanda-tanda Tio pergi dari rumah kekasihnya. Akhirnya, Angga menyudahi ritual menunggunya. Ia membeli permen sepuluh biji sesuai uang receh yang ia punya. Setelah itu, Angga kembali ke rumah Pricil untuk menjemput Tio.
Setelah sampai, dengan jarak yang masih terlihat agak jauh. Angga melihat Tio dan Pricil sedang tertawa bersama dan terlihat begitu asik. Ia pun mematung membayangkan kekasihnya Wina yang beberapa hari ia tinggal di sini.
Dari arah belakang Angga, muncul suara seseorang membuyarkan lamunan Angga.
"Mereka lagi ngapain, ya, Bang?" suara anak laki-laki bertanya pada Angga.
"Kalo di lihat dari caranya, mereka bisa di bilang lagi, pacaran." Ungkap Angga. Setelah ia mengatakan itu, ia pun menoleh ke sumber yang bertanya.
__ADS_1
"Loh! Kamu?" Angga bertanya seolah meminta anak lelaki di belakangnya memperkenalkan diri.
"Yuk, kita ke sana. Kak Sisil enggak boleh pacaran. Nanti kalo di lihat ayah bisa di hukum!" ungkap Nando. Anak lelaki yang sedang mengeyam pendidikan di sekolah dasar ini begitu perhatian dengan kakaknya. Ia masih ingat sekali dengan kemarahan sang ayah kala itu.
Nando melangkah mendahului Angga hendak menghentikan aksi kakaknya yang sedang tertawa dengan badan yang meiuk ke sana kemari karena sedang di gelitiki oleh Tio.
"Eh! Tunggu.'' Angga menahan langkah Nando. ''Abang punya permen. Kamu mau nggak? Tadi Abang beli banyak, nih!" Angga menyodorkan permen yang tadi ia beli.
"Mau," jawab Nando dengan antusias. Ia pun meraup permen yang ada di genggaman Angga. Setelah itu, Nando melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Kamu adeknya kak Sisil, ya?" tanya Angga. Ia kembali mencegah Nando yang akan merusak momen berharga milik sahabatnya.
"Iya, Bang. Ayo, kita ke sana sekarang." Ajak Nando.
"Eh! Abang punya pertanyaan. Bentar dulu," lagi-lagi Angga menghentikan langkah Nando.
"Apa lagi, Bang?" tanya Nando yang sudah mulai kesal. Ia membuka bungkus permen yang ia genggam dan mengulumnya.
"Ayah sama ibu mana?" tanya Angga basa-basi.
"Lagi di kebun belakang. Bentar lagi pulang, ini udah mau maghrib!" tukas Nando.
Angga pun tersentak dengan apa yang di katakan Nando. Ia membenarkan karena memang hari sudah sangat sore.
"Kamu benar juga, siapa nama kamu, ganteng?" ujar Angga.
"Oh, kenalin, Bang. Nama aku Nando." Nando menyodorkan tangannya untuk di jabat oleh Angga. Angga pun tersenyum, lalu menyambut tangan Nando. Mereka pun berkenalan. Nando sangat senang jika ada yang mengajaknya berkenalan. Baginya, berkenalan itu hal yang menyenangkan.
"Sekarang, biar abang aja yang ke sana, ya. Kamu liat ke kebun belakang. Kalau ayah sama ibu sudah mau pulang, kamu langsung kasih kode ke Abang, Angga, ya!" Angga membuat kesepakatan dengan Nando.
"Enggak! biar aku aja, Bang. Aku kan adiknya!" tandas Nando.
"Kalau nanti tiba-tiba ayah sama ibu muncul mendadak, apa kamu nggak kasian sama kak Sisil kalau di marahin ayah?" rayu Angga. Akhirnya, bocil itu menyetujui saran Angga dan langsung berlari kecil menuju arah kebun belakang untuk melihat ke dua orang tuanya di sana.
"Huh, kecil-kecil begitu sulit juga di taklukin, ya!" gumam Angga. Ia pun segera menghampiri Tio dan Pricil.
-
__ADS_1
-
Mohon maaf jika ada typo