Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Kerumah pak Ahmad


__ADS_3

Pagi menjelang siang, bu Yana sudah rapi dengan dandanan ala nenek-nenek kekinian. Kemudian, ia menemui Chandra agar segera bersiap-siap.


"Chand, kok kamu belum mandi. Buruan mandi sekarang. Nanti kesiangan!" ucap bu Yana saat tiba di depan kamar Chandra.


"Iya, sebentar bu" Chandra melangkah gontai menuju kamar mandi.


Bu Yana menunggunya bersama putra sulungnya yang baru dua hari lalu pulang ke rumah. Mereka mengobrol ringan hingga Chandra selesai dengan ritualnya.


Setelah itu, mereka bergegas berangkat ke rumah pak Ahmad Sucipto. Yang sebelumnya sudah beberapa waktu yang lalu bu Yana membuat janji pada pak Ahmad.


Bu Yana dan pak Ahmad adalah teman dekat dari sejak jaman sekolah. Bahkan hingga menua mereka masih menjalin hubungan pertemanan dengan baik.


Saat suami bu Yana masih ada, mereka pernah membahas masalah perjodohan untuk anak mereka. Dan, kini saatnya bu Yana merealisasikan niat awal mereka.


Setelah tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di kawasan perumahan puri mayang kota jambe. Memasuki blok D dan menelusuri pelan area tersebut dan berhenti tepat di rumah nomor 19. Setelahnya mereka sampai, langsung di sambut hangat oleh pak Ahmad dan juga istrinya. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah.


"Wahhh, tambah ganteng ya kamu, Chand" ucap bu Cipto setelah mereka duduk di ruang tamu.


Chandra hanya membalasnya dengan senyum yang di paksakan dan terkesan canggung. Mereka biasanya hanya bersua ketika hari raya idul fitri dan acara-acara tertentu.


Ini kali kedua Chandra ke rumah pak Ahmad setelah sekian waktu lamanya. Mereka mengobrol sambil ngopi dengan cemilan ringan yang sudah di hidangkan oleh asisten rumah tangga pak Ahmad.


"Ma, mana Alya. Kok belum keluar" tanya pak Ahmad pada istrinya.

__ADS_1


"Sebentar ya pa, mama lihat dulu"


Pak Ahmad dan bu Yana masih terus berbincang dengan seru dan sesekali di timpali oleh Seno kakak sulung Chandra. Sementara Chandra hanya menyimak tanpa ingin masuk ke topik pembicaraan.


Hingga keluarlah bu Cipto bersama anak gadisnya yang umurnya setara dengan Chandra. Hanya beda bulan lahir saja. Setelah sampai di hadapan sang tamu, Alya menyalami bu Yana dengan takzim dan bersalaman dengan dua orang pria anak bu Yana setelahnya.


"Gimana kabarnya nak Alya," tanya bu Yana dengan lembut dan menatap penuh kagum.


"Baik bu, Alhamdulillah," jawab Alya dengan ramah. Mereka mulai mengobrol membahas masalah niat awal mereka. Dan kedua belah pihak saling setuju, kecuali Chandra. Dia dengan terpaksa akhirnya mau menerima perjodohannya dengan Alya.


"Oh ya, Alya. Sebaiknya kalian berdua mengobrol di teras belakang, biar lebih enak" saran pak Ahamad. Alya pun menurut dan mengajak Chandra untuk kebelakang.


Chandra dan Alya adalah teman semasa kuliah. Alya mereka memang sudah akrab, tetapi untuk menerima perjodohan. Hanya Chandra yang tidak menginginkan. Karena Alya memang menaruh hati pada Chandra sejak dulu. Tetapi hanya di simpan sendiri, bahkan teman-teman wanita Alya sudah pada memiliki momongan semua. Tinggal ia sendiri yang di juluki perawan tua oleh sahabat-sahabatnya.


Akhirnya Alya memulainya duluan untuk membuka percakapan basa basi agar tidak hening.


"Gimana pekerjaan kamu sekarang, Chand" tanya Alya.


"Biasalah, lancar" ucap Chandra dengan datar.


"Ohh, syukurlah. Sebentar lagi anak sekolah libur, kamu ada rencana?" lanjut Alya.


"Belum ada, dan enggak pengen kemana-mana" jawab Chandra.

__ADS_1


"Hmm, sayang banget loh waktunya kalo cuman ngendok di rumah, Chand. Apa kamu mau ikut, rombongan kita dulu mau mendaki gunung. Sudah lama kan kamu enggak ketemu mereka" tawar Alya.


"Liat aja nanti, Al" ucap Chandra tanpa minat.


Terlihat Alya menarik nafas dalam, ingin menembus ruang hati Chandra dari dulu sulit sekali.


"Aku tahu, kamu terpaksa dengan semua ini. Kamu bisa membatalkan kok" ujar Alya yang sangat paham dengan pikiran Chandra saat ini.


"Aku akan tetap melanjutkan, agar ibuku senang" tutur Chandra.


Ada harapan di hati Alya ketika Chandra mengatakan itu. Ia akan berusaha kembali merajut asa.


Sementara itu, ibu Chandra dan orang tua Alya telah menentukan acara selanjutnya menuju ke jenjang yang lebih serius. Karena bu Yana sudah mantap ingin menjauhkan anaknya dari cucunya. Karena sangat berbahaya menurutnya.


Hingga menjelang sore, keluarga Chandra akhirnya berpamitan untuk pulang. Setelah sampai di rumah, Chandra melihat Pricil berpakaian seragam hitam putih dan berdandan cantik. Tas putih tersampir di bahunya dan menaiki ojek.


"Mau kemana dia?" tanya Chandra pada dirinya sendiri.


-


-


-

__ADS_1


Author lagi hemat ide, jadi segini aja cukup. Terima kasih kepada kalian yang sudah mau membaca tulisanku yang tidak beraturan ini. yang tidak mau membaca dan hanya memberikan likenya juga saya ucapkan terimakasih banyak.


__ADS_2