
Azan subuh berkumandang, meski terdengar sayup-sayup, Tio terbangun dari tidurnya. ia mengucek-ngucek kedua matanya. Lalu, ia turun dari tempat tidur dan mencari kamar mandi.
Tio membersihkan diri sejenak dan mengambil wudhu. Setelah selesai, ia kembali masuk ke dalam kamar. Mencari sajadah di dalam lemari yang ada di dalam kamar tersebut. Siapa tau ada simpanan. Ternyata, sajadah yang ia perlukan tidak ada di dalam sana. Ia pun teringat saat kemarin meminta Angga untuk membawa kain sarung. Di raihnya tas yang tergeletak di atas meja.
"Nah, untung dibawa." Tio menarik lipatan kain sarung dari dalam tas. Ia pun keluar dari kamar menuju ruang tamu. Disana tempatnya lebih lapang dan nyaman untuk melakukan shalat.
Saat sampai di ruang tamu, ia hendak membentangkan sajadah kecil yang ada dalam lipatan kain sarung. Namun, ia bingung arah kiblatnya sebelah mana. Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan ke kiri dengan maksud mencari petunjuk. Ia menelusuri tepian dinding di sekitarnya. Akhirnya ia menemukan petunjuk dari dinding dekat pintu. Disana tertera tanda panah yang terbuat dari arang yang sengaja di tulis di dinding tersebut.
'Kiblat' panah tersebut mengarah ke jendela samping ruang tamu. Berarti arah kiblatnya menghadap ke jendela.
"Nah, ke arah sana." Tio bermonolog, lalu ia membentangkan sajadahnya menghadap ke jendela. Setelahnya, ia memasang kain sarungnya dan melaksanakan shalat dua rakaat. Tanpa Tio sadari, ada seseorang yang ikut shalat bersamanya di belakang.
"Assalamulaikum Warahmatullah..." menoleh ke kanan.
"Assalamulaikum Warahmatullah..." menoleh ke kiri.
Ia pun menengadahkan telapak tangannya, lalu berdoa dalam hati. Setelah usai, ia mengusap wajahnya. Saat ia melipat sajadah kecilnya untuk ia gabungkan dengan kain sarung yang tadi ia kenakan. Tio melihat Om Yuan ternyata juga baru selesai menunaikan kewajibannya.
"Loh, Om!" Tio langsung meraih tangan Yuan untuk ia cium.
"Om, nggak menyangka, ternyata kamu anak yang rajin beribadah." Tutur pak Yuan.
"Masih belajar kok, Om." Tukas Tio.
"Bagus, pertahankan, ya!" pak Yuan menepuk-nepui pelan bahu Tio. Setelahnya, pak Yuan kembali masuk ke dalam kamar.
Tio menyimpan kembali peralatannya ke dalam tas semula. Ia keluar menuju ke ruang tamu lagi. Karena tidak ada ruangan kosong lain selain ruang tersebut.
__ADS_1
Ia duduk disana sejenak dan kemudian membuka jendela. Suasana luar masih belum terlalu terang. Udara pagi terasa begitu menyejukkan. Tio menumpukan sikunya di pinggiran jendela. Matanya memandangi hamparan perkebunan sawit yang luas di seberang jalan. Buah sawit tersebut siap panen, terlihat dari bentuknya yang montok.
Burung-burung kutilang di pagi hari berkicau saling bersahut-sahutan menambah kesan asri tempat tersebut. Ketika sedang asik menikmati udara pagi melalui pintu jendela, Tio mendengar suara klontang klonteng atau suara gaduh di ruang dapur. Ia pun segera menuju kesana untuk melihat siapa gerangan yang sedang membuat kegaduhan.
"Loh, Om, mau masak?" tanya Tio setelah mengetahui siapa yang membuat kegaduhan di dapur tersebut.
"Iya, cuma mau masak buat kita sarapan!" sahut pak Yuan, tangannya tengah mencuci kuali di dalam bak anti pecah warna hitam, ''kamu tolong nyalain kompornya, ya!'' pinta pak Yuan pada Tio.
"Kompor yang mana, Om?" tanya Tio, ia bingung tak mendapati kompor yang biasa digunakan oleh mamanya saat memasak di dapur.
"Itu, ada di bawah kolong. Kompornya yang tertutup kain lap." Pak Yuan menunjuk ke kolong bawah meja. Ada kompor minyak merek legend yang turun temurun. (Hayo, yang tau merek kompor yang author maksud langsung komen di bawah,ya)
"Pake ini, Om?!" tanya Tio. Ia merasa kurang yakin. Seumur-umur dia enggak pernah liat kompor model itu. Karena, ia tidak pernah masak di dapur pakai kompor legend.
"Iya, keluarin dulu!" perintah pak Yuan.
Tio pun mengangkat kompor tersebut dan ia letakkan di hadapannya. Kemudian, menyingkirkan kain lap yang menutup area persumbuan.
"Naikin dulu sumbunya," pak Yuan memberi arahan dan mencontohkan langsung, "nah, begini. Tinggal kamu nyalain koreknya."
Pak Yuan memberi petunjuk yang akurat mulai dari mengecek minyaknya di ukur dengan lidi hingga menghidupkan kompor tersebut dengan bantuan korek api.
Ces! Ces!
Tio menyalakan korek api dan di arahkan ke lidi yang sudah di celup ke minyak tanah. Beberapa kali ia gagal menyatukan api ke sumbu, karena apinya keburu mati di pertengahan. Setelah menyalakan kembali api di ujung lidi, ia menyambungkan apinya ke sumbu kompor dengan sangat pelan, agar tidak mudah mati. Kemudian, ia ratakan nyala apinya ke seluruh persumbuan.
Dengan penuh kesabaran, akhirnya api tersebut menyala dengan rata. Tio menaruh kuali yang sudah dicuci tadi ke permukaan kompor.
__ADS_1
Pak Yuan sedang sibuk menyiapkan bahan masakan yang memang sudah di persiapkan dari rumah sebelumnya untuk di masak di tempat ini.
"Lagi ngapain, sih. Kok heboh banget!" Angga muncul dari ambang pintu. Muka bantal serta rambut acak-acakan membuat pemandangan sepet.
"Mau masak, sana ke kamar mandi! Bau jigong." Usir Tio. Ia mengibaskan tangan ke arah Angga yang berdiri menghadap ke arahnya.
"Iya, buruan. Bantu siapin sarapan!" sahut pak Yuan.
"Iya, Pa." Angga pun berjalan menuju ke arah kamar mandi yang posisinya memang dekat dengan dapur.
Tio dan pak Yuan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Angga kemudian membantu membawa cangkir yang berisi minuman hangat ke ruang tamu. Di sanalah mereka akan menikmati sarapan.
"Sekarang kita sarapan dulu. Nanti jam setengah tujuh baru kita pergi." Ujar pak Yuan.
Angga dan Tio meraih jatah piring masing-masing. Hanya sarapan mie goreng dan telur ceplok. Minumnya teh hangat dan air mineral botolan.
Setelah selesai menikmati sarapan. Sekarang giliran Angga untuk mencuci piring. Karena ia yang tidak banyak bekerja.
"Kamu cuci piring, ya." Ujar pak Yuam.
"Iya, Pa." Angga mulai membawa peralatan yang kotor ke arah dapur. Sesampainya di sana, ia meletakkan piring kotor tersebut ke dalam bak hitam yang tadi di gunakan pak Yuan.
Tak lama kemudian,Tio menyusul ke belakang guna melihat sahabatnya mencuci piring. Ia berkacak pinggang dan menatap serius ke arah Angga yang sedang mengusap-usap piring dengan spons.
"Ngapain mandorin aku! Mending kamu timbain aku air. Untuk bilas piring!" pinta Angga yang tak senang di mandorin oleh Tio.
"Apa? Nimba? Dimana tempatnya?" tanya Tio heran.
__ADS_1
"Buka pintu itu, di situ ada sumur." Tunjuk Angga ke pintu di sampingnya. Tio pun menurut, membuka pintu tersebut dan nampaklah sebuah sumur di sebelah kanan pintu yang ia buka.
Sebelum Angga memulai ritual cuci piringnya, ia sempat membuka pintu tersebut. Kemudian, ia tutup kembali dan memulai ritual cuci piring.